Barnes Terancam Jadi Almirón Baru, Newcastle Diminta Segera Jual
Baca dalam 60 detik
- Harvey Barnes hanya mencetak satu gol dalam tujuh laga Liga Inggris 2026/27, memicu kekhawatiran ia mengulang penurunan performa Miguel Almirón.
- Dengan gaji £21 juta dan total biaya transfer mencapai £59 juta, kontribusi Barnes dinilai tidak sepadan oleh sebagian pengamat.
- Newcastle disarankan melepas Barnes pada bursa transfer berikutnya agar tidak mengalami kerugian lebih besar seperti saat menjual Almirón.

Newcastle United menghadapi dilema transfer yang semakin rumit: mempertahankan Harvey Barnes yang tengah menurun atau melepasnya demi menghindari kerugian finansial lebih besar. Winger 28 tahun itu baru mencetak satu gol dalam tujuh pertandingan Liga Inggris 2026/27, memicu perbandingan tak nyaman dengan Miguel Almirón, pemain yang dulu bernasib serupa di St James' Park.
Barnes didatangkan dari Leicester City pada musim panas 2023 dengan harga £38 juta. Setelah musim debut yang mengecewakan—hanya lima gol—ia sempat bangkit dengan 16 gol di semua kompetisi pada 2025/26, angka yang hanya kalah dari Anthony Gordon yang kemudian hengkang ke Barcelona. Namun performa apik itu tak berlanjut. Di bawah pelatih Matthias Jaissle, Barnes kembali kesulitan menemukan konsistensi.
Statistik menunjukkan kemiripan mencolok dengan Almirón pada tahun terakhirnya di Newcastle. Barnes mencatatkan hanya 0,2 dribel sukses per 90 menit, setara dengan capaian Almirón di musim 2024/25. Akurasi umpan silangnya pun hanya 2% lebih baik dari pemain Paraguay itu, yang saat itu hanya memiliki tingkat keberhasilan 11%—terburuk di antara penyerang Liga Inggris. Almirón bahkan berada di 6% terbawah untuk dribel sukses dan gagal mencetak gol atau assist dalam 14 laga terakhirnya sebelum dijual ke Atlanta United seharga £10 juta pada Januari 2021, jauh di bawah harga beli £21 juta.
Bagi Newcastle yang dikendalikan PIF, efisiensi transfer menjadi krusial. Klub telah mengeluarkan dana besar untuk bersaing di Liga Inggris dan Eropa, dan setiap pembelian yang gagal berdampak pada keberlanjutan finansial. Barnes, dengan sisa nilai kontrak dan gaji besar, menjadi beban jika performa tak kunjung membaik. Sejumlah pengamat menilai menjualnya pada bursa transfer berikutnya adalah langkah paling rasional, meski harus menerima kerugian.
"Kita tidak bisa terus menunggu keajaiban. Barnes sudah diberi waktu, tetapi output-nya tidak sesuai ekspektasi. Menjualnya sekarang lebih baik daripada kehilangan nilai secara perlahan," ujar seorang analis transfer yang enggan disebut namanya.
Kasus Barnes juga mencerminkan pola yang lebih luas di Premier League: klub-klub kaya sering terjebak membeli pemain dengan harga tinggi tanpa perencanaan jangka panjang. Almirón adalah contoh nyata bagaimana satu musim gemilang bisa menutupi inkonsistensi bertahun-tahun. Newcastle kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan harapan Barnes kembali menemukan performa terbaiknya, atau mengambil langkah tegas seperti yang mereka lakukan terhadap Almirón.
Jika Barnes terus menurun, tekanan dari suporter akan meningkat. Manajemen harus memutuskan apakah akan memberi kesempatan hingga akhir musim atau segera mencari pembeli. Keputusan ini tidak hanya berdampak pada keuangan klub, tetapi juga pada kredibilitas proyek jangka panjang PIF. Akankah Barnes menjadi Almirón kedua, atau justru membalikkan keadaan dan membungkam kritik?



