Hysterical Women: Panggung Komedi Perempuan Pertama di Royal Albert Hall
Baca dalam 60 detik
- Hysterical Women akan digelar perdana di Royal Albert Hall London pada 7 Maret 2027, sehari sebelum Hari Perempuan Internasional.
- Sepuluh komedian perempuan mapan dan pendatang baru seperti Fern Brady dan Sindhu Vee tampil dengan set khusus dalam satu malam.
- Tiket mulai dijual 23 Oktober 2026, menandai upaya menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan di kalender komedi Inggris.

Royal Albert Hall di London akan menjadi tuan rumah debut Hysterical Women, sebuah perayaan komedi yang seluruh pengisinya perempuan, pada 7 Maret 2027. Acara ini digadang-gadang menjadi tonggak baru dalam lanskap komedi Inggris karena mempertemukan nama-nama besar dan talenta muda dalam satu panggung bersejarah.
Momentumnya dipilih tepat menjelang Hari Perempuan Internasional yang jatuh keesokan harinya. Penyelenggara berharap edisi perdana ini bukan sekadar pertunjukan semalam, melainkan awal dari tradisi tahunan yang merayakan kontribusi perempuan di dunia stand-up. Langkah ini dianggap strategis mengingat Royal Albert Hall memiliki warisan pertunjukan komedi perempuan, termasuk penampilan legendaris Victoria Wood yang memecahkan rekor.
Sepuluh nama telah dikonfirmasi untuk tampil: Catherine Bohart, Ciara O’Connor, Fern Brady, Harriet Dyer, Janine Harouni, Josie Long, Lou Sanders, Marty Gleeson, Michelle De Swarte, dan Sindhu Vee. Masing-masing akan membawakan materi yang dikurasi khusus untuk acara satu malam tersebut, memadukan gaya observational, cerita personal, dan satire sosial yang menjadi ciri khas komedi kontemporer Inggris.
Bridget Mulroy dari Live Nation, yang menggagas acara ini, menyatakan bahwa Hysterical Women berupaya merebut kembali kata “hysterical” yang selama ini kerap dipakai untuk merendahkan perempuan. Menurutnya, panggung Royal Albert Hall yang memiliki sejarah panjang sebagai tempat perubahan budaya adalah lokasi ideal untuk menyoroti kekuatan komedi perempuan. Ia melihat acara ini sebagai kelanjutan dari dampak yang telah dirintis para komedian perempuan sebelumnya.
Matthew Todd, Direktur Program Royal Albert Hall, menambahkan bahwa venue tersebut memang memiliki rekam jejak dalam memfasilitasi perubahan sosial melalui seni. Ia menilai deretan komedian yang terlibat sebagai “kumpulan suara brilian” yang mencerminkan inovasi dan energi kancah komedi saat ini. Pernyataan itu menegaskan bahwa Hysterical Women bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga pernyataan budaya.
“Kami ingin merayakan para perempuan yang telah membentuk komedi modern dan mereka yang akan menjadi masa depannya,” ujar Mulroy dalam pengumuman resmi.
Bagi publik Indonesia, gelaran ini bisa menjadi cermin bagaimana industri hiburan di negara lain memberi ruang lebih besar bagi komedian perempuan. Di tanah air, meski semakin banyak komika perempuan yang muncul, panggung utama berskala besar masih didominasi laki-laki. Kehadiran Hysterical Women menunjukkan bahwa format pertunjukan kolektif dengan kurasi ketat dapat menjadi strategi untuk mempercepat terciptanya ekosistem yang lebih inklusif.
Dari sisi industri, langkah Live Nation menggandeng Royal Albert Hall menunjukkan pergeseran selera pasar. Penonton tidak lagi hanya mencari nama besar, tetapi juga pengalaman tematik yang relevan dengan isu sosial. Jika edisi perdana ini sukses secara komersial, bukan tidak mungkin model serupa akan diadopsi di kota-kota lain, termasuk di Asia, dalam beberapa tahun ke depan.
Pertanyaannya, apakah Hysterical Women akan mampu mempertahankan momentum dan menjadi institusi tahunan yang benar-benar mengubah peta komedi, atau hanya menjadi perayaan sesaat? Jawabannya akan mulai terlihat setelah tiket dijual dan respons pasar terhadap format all-female ini terukur.



