Dukungan Validator Sempat Anjlok, Aktivasi Perbaikan XRP Ledger Mundur ke November
Baca dalam 60 detik
- Perbaikan fixCleanup3_4_0 pada XRP Ledger batal aktif 23 Oktober setelah dukungan validator turun di bawah ambang batas selama dua jam.
- Mekanisme konsensus XRP memerlukan persetujuan 29 dari 35 validator selama 14 hari berturut-turut; satu saja gagal, hitungan ulang dari nol.
- Penundaan ini menunda penutupan celah keamanan pada fitur pinjaman institusional Ripple yang belum mengantongi cukup suara validator.

Upaya memperbaiki celah keamanan di XRP Ledger harus menerima kenyataan pahit: aktivasi yang dijadwalkan 23 Oktober batal terlaksana setelah dukungan validator merosot tajam selama sekitar dua jam. Perbaikan bernama fixCleanup3_4_0 itu kini dijadwalkan ulang ke 4 November 2026 pukul 14:46 UTC, menurut pelacak XRPLWin.
Validator adalah server independen yang menyepakati transaksi mana yang sah. Untuk mengubah aturan jaringan, diperlukan dukungan lebih dari 80% dari 35 validator yang dipercaya secara default—setara 29 suara. Dukungan diperiksa kira-kira setiap 15 menit dan harus bertahan pada setiap pemeriksaan selama 14 hari penuh. Sekali saja gagal, bahkan sesaat, hitungan mundur kembali ke nol.
Pada Senin, perbaikan itu berada tepat di angka 29 suara, dengan jadwal aktivasi 23 Oktober pukul 09:34 UTC. Namun pada pemeriksaan Rabu pukul 12:54 UTC, hanya 26 validator yang memberikan suara setuju, menurut data XRPL Dashboard. Dua jam kemudian, pukul 14:46 UTC, jumlahnya kembali ke 29 dan hitungan baru dimulai. Kini dukungan telah naik menjadi 31 dari 35, sehingga proses kedua memiliki margin dua suara—berbeda dari percobaan pertama yang tanpa cadangan.
Yang menarik, tidak ada pelacak yang mengungkap validator mana yang absen. Suara hanya dihitung dari validator yang benar-benar terdengar pada setiap pemeriksaan, sehingga server yang sedang offline atau restart pada momen yang salah dianggap sama dengan menolak. Ini menunjukkan bahwa konsensus di XRP Ledger tidak hanya soal mayoritas, tetapi juga soal kehadiran fisik server secara konsisten.
Perbaikan ini sendiri menutup celah yang berpotensi berbahaya: akun yang seharusnya hanya diizinkan membakar token milik penerbit ternyata bisa menciptakan token baru dalam kondisi tertentu, menurut catatan rilis xrpld 3.4.0. Selain itu, patch juga memperbaiki cara kode pinjaman menentukan kapan sebuah pinjaman terlambat atau gagal bayar.
Kode tersebut merupakan bagian dari sistem yang ditawarkan Ripple kepada bank dan perusahaan pembayaran sejak Juni 2026. Dalam skema ini, pemberi pinjaman menyimpan XRP atau token lain di dalam vault, lalu broker menyalurkannya untuk jangka waktu tetap. Hingga Kamis, sistem itu belum juga aktif.
Penundaan ini memperlihatkan bahwa tata kelola XRP Ledger sangat bergantung pada partisipasi validator yang stabil. Tanpa kehadiran yang konsisten, perubahan sekecil apa pun bisa tertunda berminggu-minggu.
Bagi industri kripto, khususnya segmen keuangan institusional, keterlambatan ini menjadi pengingat bahwa desentralisasi memiliki biaya operasional. Ripple tengah bersaing dengan jaringan lain yang menawarkan layanan serupa, dan setiap penundaan dapat memengaruhi kepercayaan mitra bank yang ingin mengadopsi teknologi ledger untuk pinjaman tokenisasi.
Di Indonesia, perkembangan ini relevan bagi pelaku pasar aset kripto dan lembaga keuangan yang mulai melirik tokenisasi aset. Regulator dalam negeri, OJK, telah mengatur perdagangan aset kripto, dan stabilitas jaringan menjadi faktor penting sebelum adopsi lebih luas. Meski demikian, XRP Ledger bukan satu-satunya pilihan; jaringan lain dengan mekanisme konsensus berbeda menawarkan waktu aktivasi yang lebih cepat.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah XRP Ledger dapat mempertahankan partisipasi validator yang cukup hingga 4 November, atau justru menghadapi risiko penundaan berulang. Jika support kembali goyah, bukan tidak mungkin jadwal aktivasi kembali bergeser, dan celah keamanan yang seharusnya sudah tertutup akan tetap terbuka lebih lama.



