KPK Geledah Rumah Dinas Bupati Klaten, Sita Uang dan Perhiasan dalam Kasus Korupsi Lima Klaster
Baca dalam 60 detik
- KPK menyita uang dan perhiasan dari rumah dinas Bupati Klaten dalam penggeledahan terkait dugaan korupsi yang menjerat tiga tersangka.
- Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Kepala BPK Jateng Ahmad Luthfi, dan swasta Amin Wahyu Utomo ditetapkan sebagai tersangka dalam lima klaster korupsi.
- Penyidik mendalami dokumen dan barang bukti elektronik untuk mengungkap aliran dana pada klaster laporan keuangan, pengadaan barang, tambang galian C, BLUD/BUMD/OPD, dan pungutan.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sejumlah uang dan perhiasan dari rumah dinas Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, dalam penggeledahan yang berlangsung Selasa (20/10). Penyitaan ini menjadi sinyal bahwa penyidik tidak hanya menyasar dokumen administratif, tetapi juga aset bernilai ekonomis yang diduga terkait dengan kasus korupsi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klaten tahun anggaran 2025-2026.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengungkapkan bahwa penggeledahan dilakukan di beberapa titik: rumah dinas bupati, sejumlah kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan kediaman para tersangka. "Dalam rangkaian penggeledahan tersebut, kami menemukan dokumen, barang bukti elektronik, serta uang dan perhiasan di rumah dinas bupati," ujar Budi kepada wartawan. Namun, ia belum merinci nominal uang maupun nilai perhiasan yang disita.
Kasus ini mencuat setelah KPK menetapkan tiga tersangka: Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Tengah Ahmad Luthfi, dan pihak swasta Amin Wahyu Utomo. Penetapan tersangka ini menjadi sorotan karena melibatkan pejabat daerah dan auditor negara, yang seharusnya menjadi garda terdepan pengawasan keuangan.
Menurut Budi, penyidik akan mendalami seluruh dokumen dan bukti elektronik yang disita karena perkara ini memiliki klaster yang banyak. "Setidaknya ada lima klaster yang akan kami dalami," tegasnya. Kelima klaster tersebut mencakup pemberian uang untuk laporan keuangan tahun anggaran 2025, penerimaan uang terkait pengadaan barang dan jasa, penerimaan uang terkait tambang galian C, penerimaan rutin lainnya terkait BLUD, BUMD, dan OPD, serta penerimaan uang pungut.
Penggeledahan di rumah dinas bupati dan kantor OPD menunjukkan bahwa KPK tengah memburu bukti transaksi finansial yang mungkin tersembunyi dalam dokumen resmi maupun catatan elektronik. Penyitaan uang dan perhiasan juga mengindikasikan adanya dugaan aliran dana yang tidak wajar, meski KPK belum mengungkap berapa nilai pastinya. Publik tentu menunggu transparansi mengenai jumlah aset yang disita, mengingat kasus ini melibatkan kepala daerah yang seharusnya menjadi teladan dalam pengelolaan anggaran.
Keterlibatan Kepala BPK Jawa Tengah dalam kasus ini menimbulkan pertanyaan serius tentang independensi lembaga audit. BPK seharusnya memastikan laporan keuangan pemerintah daerah akuntabel, bukan justru terlibat dalam praktik korupsi. Jika terbukti, kasus ini bisa menjadi pukulan telak bagi kepercayaan publik terhadap sistem pengawasan keuangan negara, terutama di tingkat daerah.
Dari sisi politik lokal, penetapan tersangka terhadap Bupati Klaten berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Klaten. Hamenang Wajar Ismoyo yang masih menjabat tentu akan menghadapi tekanan politik dan hukum yang berat. KPK perlu memastikan proses hukum berjalan tanpa intervensi, sementara pemerintah daerah harus tetap menjalankan roda pemerintahan dengan stabilitas yang terjaga.
Hingga berita ini diturunkan, KPK belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai status penahanan para tersangka maupun kemungkinan penetapan tersangka baru. Penyidik masih fokus pada pendalaman dokumen dan bukti elektronik untuk mengurai lima klaster korupsi yang saling terkait. Masyarakat akan menanti apakah kasus ini akan mengungkap jaringan korupsi yang lebih luas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klaten, atau justru berhenti pada tiga nama yang telah ditetapkan.
Ke depan, ujian terbesar bagi KPK adalah membuktikan bahwa penyitaan uang dan perhiasan ini bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari upaya sistematis memberantas korupsi di sektor keuangan daerah. Jika lima klaster dapat diurai dengan tuntas, kasus Klaten bisa menjadi preseden penting bagi penegakan hukum di daerah lain. Sebaliknya, jika penyidikan berjalan lambat atau tidak transparan, publik akan kembali meragukan efektivitas lembaga antirasuah.



