JPMorgan Ramal Bitcoin Cuan 10% per Tahun, Kalahkan Saham dan Emas Dekade Ini
Baca dalam 60 detik
- JPMorgan Asset Management memproyeksikan return tahunan bitcoin 10% dalam basis kasus selama 10 tahun ke depan, melampaui obligasi, saham, dan emas AS.
- Laporan perdana yang mencantumkan rentang proyeksi ini tetap menyoroti volatilitas dan korelasi tidak stabil bitcoin sebagai penghalang adopsi portofolio luas.
- Meski begitu, bank tidak melihat bitcoin sebagai diversifikator, melainkan aset spekulatif dan lindung nilai terhadap pelonggaran moneter.

JPMorgan Asset Management memperkirakan bitcoin akan membukukan pengembalian tahunan 10% secara tahunan selama sepuluh tahun ke depan, mengungguli proyeksi untuk obligasi pemerintah AS, saham, dan emas. Angka itu tertuang dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions yang dirilis Selasa (20/10/2026) waktu setempat, dan menjadi kali pertama divisi manajemen aset bank tersebut mencantumkan rentang proyeksi untuk mata uang kripto terbesar itu.
Dalam skenario dasar, bitcoin diproyeksikan menghasilkan 10% per tahun. Skenario pesimistis membayangi dengan return -9,7%, sementara skenario optimistis mencapai 17%. Sebagai pembanding, JPMorgan memproyeksikan obligasi AS tumbuh 5,6%–6,6%, saham besar AS 7,5%, saham kecil 7,7%, dan emas 5,5%.
Meski angka itu terlihat menjanjikan, laporan tersebut tidak serta-merta menjadikan bitcoin sebagai primadona portofolio. JPMorgan tetap menyoroti volatilitas bitcoin dan korelasinya yang tidak stabil terhadap kelas aset lain sebagai penghalang utama untuk dimasukkan secara luas ke dalam portofolio investasi. Sikap hati-hati ini mencerminkan posisi bank yang berbasis di New York itu terhadap aset digital yang selama bertahun-tahun diwarnai pandangan kontroversial CEO Jamie Dimon, yang pada 2017 pernah menyebut bitcoin sebagai “penipuan”.
Dalam laporan itu, JPMorgan Asset Management menegaskan bitcoin bukanlah alat diversifikasi portofolio. Portofolio manajer Dr Sheena Shah dan kepala strategi aset digital Dennis Cristallo menilai bitcoin lebih tepat diposisikan sebagai aset spekulatif dan lindung nilai terhadap ekspansi moneter. “Bitcoin tidak memiliki peran strategis dalam portofolio selain sebagai taruhan pada ekspansi mata uang fiat atau perdagangan aset masa depan di blockchain,” ujar keduanya seperti dikutip dalam laporan.
“BTC sebagian besar diperdagangkan seperti aset berisiko beta tinggi yang mengikuti pertumbuhan uang beredar global, tetapi kadang diperlakukan sebagai ‘emas digital’. Korelasi yang tidak stabil dengan aset lain menjadi hambatan pemodelan. Tantangan lebih lanjut adalah meramalkan aset yang fundamentalnya bukan arus kas dan ekonominya mungkin lebih ditentukan oleh adopsi, regulasi, dan likuiditas ketimbang teknologi.”
Pandangan JPMorgan ini mempertegas posisi unik bitcoin di mata institusi keuangan besar. Di satu sisi, proyeksi return dua digit menunjukkan pengakuan atas potensi keuntungan jangka panjang. Di sisi lain, penekanan pada volatilitas dan korelasi yang tidak stabil mengisyaratkan bahwa adopsi luas masih jauh dari kata mulus. Bagi investor institusi, laporan ini bisa menjadi acuan untuk mengalokasikan sebagian kecil portofolio ke aset kripto, tetapi dengan catatan risiko yang jelas.
Bagi pasar Indonesia, proyeksi JPMorgan ini berpotensi memengaruhi minat investor ritel dan institusi terhadap aset kripto, terutama bitcoin. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur perdagangan aset kripto di Indonesia melalui regulasi yang berlaku, dan minat terhadap bitcoin cenderung meningkat ketika proyeksi return global menunjukkan prospek positif. Namun, peringatan JPMorgan tentang volatilitas dan korelasi yang tidak stabil juga relevan bagi investor domestik yang perlu memahami risiko sebelum masuk ke pasar kripto.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah bitcoin benar-benar mampu mewujudkan proyeksi 10% per tahun itu, atau justru kembali menunjukkan sifat spekulatifnya yang membuat bank-bank besar enggan memasukkannya ke dalam portofolio inti. JPMorgan sendiri tampaknya memilih jalan tengah: mengakui potensi, tetapi tetap waspada. Bagi investor, laporan ini menjadi pengingat bahwa di balik janji cuan, ada risiko yang tidak bisa diabaikan.



