SpaceX Rilis Laba Q3 2026: Starlink dan AI Jadi Mesin Utama, Spekulasi Merger Tesla Mencuat
Baca dalam 60 detik
- SpaceX membukukan pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar, ditopang ekspansi Starlink dan lini bisnis kecerdasan buatan.
- Kinerja segmen konektivitas dan AI menjadi penentu arah pertumbuhan, sementara bisnis antariksa masih menyumbang porsi lebih kecil.
- Pasar menanti kejelasan strategi pascaakuisisi Cursor dan spekulasi penggabungan dengan Tesla yang berpotensi mengubah peta industri.

SpaceX melaporkan kinerja kuartal ketiga 2026 dengan pendapatan yang melampaui estimasi analis, menandai laporan kedua sejak perusahaan milik Elon Musk itu melantai di bursa pada Juni lalu. Angka ini menjadi ujian bagi pasar apakah valuasi SpaceX masih bertumpu pada narasi eksplorasi antariksa atau justru pada lini bisnis yang lebih membumi: internet satelit dan komputasi awan berbasis kecerdasan buatan.
Konsensus LSEG memperkirakan pendapatan SpaceX mencapai 12,72 miliar dolar AS dengan laba per saham 13 sen. Namun yang menjadi sorotan bukan sekadar angka agregat, melainkan komposisi pendapatan yang kian bergeser. Segmen konektivitas melalui Starlink diproyeksikan menyumbang 4,84 miliar dolar AS, sementara bisnis AI diperkirakan mencapai 6,47 miliar dolar AS, dan unit antariksa hanya 1,41 miliar dolar AS. Dengan demikian, lebih dari 80 persen pendapatan perusahaan justru berasal dari layanan yang tidak berhubungan langsung dengan peluncuran roket.
Pergeseran ini mempertegas transformasi SpaceX dari perusahaan peluncuran menjadi konglomerat infrastruktur digital. Akuisisi senilai 60 miliar dolar AS atas Cursor, startup pengembangan kode berbasis AI, pada kuartal yang sama menjadi sinyal bahwa Musk ingin memperluas cengkeraman di sektor komputasi awan. Langkah tersebut melengkapi kesepakatan cloud dengan Google, Anthropic, dan Reflection AI yang menurut CFO Bret Johnsen berpotensi menghasilkan puluhan miliar dolar AS per tahun.
Di sisi konektivitas, Starlink kian agresif merambah pasar telekomunikasi konvensional. Pembelian spektrum low-band 800 MHz dan restu FCC atas konstelasi 15.000 satelit dinilai memperkuat daya saing Starlink Mobile terhadap operator seluler besar. Analis RBC Capital Markets dalam catatan sebelum rilis laporan menegaskan bahwa langkah tersebut memungkinkan jangkauan yang lebih luas dan dalam, serta menempatkan Starlink sebagai pesaing serius di segmen konektivitas bergerak. RBC memasang target harga 225 dolar AS per saham dengan rekomendasi beli.
Namun, ekspansi bisnis pertahanan SpaceX melalui Starshield menyimpan risiko geopolitik. Pejabat Ukraina menuding SpaceX dan pemerintahan Trump membatasi akses Starshield secara mendadak pekan lalu, membuat pasukan Kyiv kehilangan kendali atas drone yang melaju di atas 100 mil per jam. Musk membantah tuduhan itu dan menyatakan setiap perubahan kebijakan Starshield merupakan kewenangan pemerintah AS. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam wawancara dengan NBC menyatakan pembatasan masih berlangsung hingga akhir pekan. Isu ini menjadi ujian bagi SpaceX dalam menyeimbangkan kepentingan komersial dan tekanan politik global.
Spekulasi merger dengan Tesla juga memanaskan ruang tanya investor. Dalam sesi tanya jawab pra-rilis, salah satu pertanyaan yang paling banyak didukung menyoroti waktu potensial penggabungan kedua perusahaan Musk. Hubungan keduanya memang erat: Tesla menginvestasikan 2 miliar dolar AS ke xAI yang kemudian dikonversi menjadi saham SpaceX, sementara unit AI SpaceX membelanjakan sekitar 430 juta dolar AS untuk Megapack dan 143 juta dolar AS untuk Cybertruck pada tahun lalu. COO SpaceX Gwynne Shotwell pernah menyatakan bahwa merger "mungkin membuat hidup Elon sedikit lebih mudah." Demo Roadster generasi baru yang dikembangkan bersama SpaceX semakin memperkuat spekulasi tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika SpaceX mencerminkan bagaimana infrastruktur satelit dan AI menjadi medan persaingan baru yang memengaruhi kedaulatan digital. Ketergantungan pada penyedia asing untuk konektivitas dan komputasi awan menuntut kebijakan yang jelas, terutama di tengah rencana pengembangan satelit nasional dan kebutuhan pusat data dalam negeri. Jika Starlink Mobile benar-benar masuk pasar Asia Tenggara, operator lokal akan menghadapi tekanan kompetitif yang signifikan.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada seberapa cepat SpaceX memonetisasi kapasitas AI-nya dan apakah pembicaraan merger dengan Tesla berubah menjadi keputusan korporasi formal. Jawaban atas dua hal itu akan menentukan apakah SpaceX layak dinilai sebagai perusahaan teknologi murni atau tetap sebagai konglomerat industri yang bertumpu pada visi jangka panjang Musk.



