Honda Akui Upgrade Mesin F1 Bikin Driveability Kembali ke Level Spec 1
Baca dalam 60 detik
- Presiden HRC Koji Watanabe mengonfirmasi peningkatan tenaga mesin Spec 2 tercapai, tetapi responsivitas kendaraan justru merosot mendekati performa awal musim.
- Keterlambatan dua tahun dalam membangun struktur pengembangan menjadi akar masalah, diperparah oleh pembatasan anggaran dan jam operasional.
- Aston Martin mulai merangsek ke papan tengah, namun Honda masih menegaskan defisit tenaga sebagai prioritas utama yang belum terselesaikan.

Honda Racing Corporation (HRC) mengakui bahwa pembaruan unit tenaga Formula 1 mereka berhasil mendongkrak output mesin, tetapi harus dibayar mahal dengan menurunnya kualitas pengendaraan (driveability) yang kembali mendekati level spesifikasi pertama yang sempat bermasalah. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Presiden HRC Koji Watanabe, membuka tabir bahwa target tenaga memang tercapai, namun karakter mesin menjadi kurang bersahabat bagi pembalap.
Sejak kembali sepenuhnya ke kejuaraan dunia dengan regulasi teknis baru yang menuntut hampir 50% energi listrik, Honda memang belum sepenuhnya kompetitif. Sasis AMR26 rancangan Adrian Newey juga memiliki kekurangan tersendiri, tetapi ketidakpastian performa yang dialami Fernando Alonso—termasuk turbo lag dan perpindahan gigi yang tidak mulus—berakar pada powertrain Jepang tersebut. Meski demikian, pembaruan sasis dan mesin pada akhir musim panas lalu telah membantu Aston Martin tampil lebih baik, bahkan mulai bersaing di papan tengah dengan mengumpulkan enam poin dalam enam putaran terakhir.
Namun, pembaruan unit tenaga melalui sistem Additional Development and Upgrade Opportunities (ADUO) untuk produsen powertrain itu tidak sepenuhnya mulus. Watanabe menjelaskan bahwa pihaknya menargetkan peningkatan tenaga secara bertahap, tetapi perubahan pada proses pembakaran dan area lain justru mengorbankan driveability. "Kami mencapai target tenaga untuk Spec 2, tetapi juga melakukan beberapa perubahan pada proses pembakaran dan area lainnya. Akibatnya, driveability menurun ke level yang lebih dekat dengan yang kami alami pada Spec 1 di awal," ujarnya.
Watanabe tidak menampik bahwa masalah utama adalah defisit tenaga dibandingkan para pesaing. "Seperti yang dikatakan para pembalap, masalah terbesar adalah kami tidak memiliki cukup tenaga dibandingkan kompetitor. Dengan Spec 2, tujuan kami adalah menutup celah itu secara progresif dengan meningkatkan output," katanya. Ia menambahkan bahwa perbaikan driveability dapat dilakukan seiring waktu melalui perubahan perangkat keras dan penyempurnaan sistem kontrol, namun kekurangan tenaga tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi.
"Kami mencapai target tenaga Spec 2, tetapi driveability menurun ke level yang lebih dekat dengan Spec 1 di awal. Itu bisa kami perbaiki seiring waktu, tetapi kami masih kekurangan tenaga." — Koji Watanabe, Presiden HRC
Keterpurukan Honda saat ini tidak lepas dari keputusan mundur dari kemitraan Red Bull pada 2021, yang membuat mereka harus merekrut kembali engineer F1 berpengalaman. Watanabe membeberkan bahwa titik awalnya adalah keterlambatan pengembangan. "Kami memutuskan kembali satu tahun lebih lambat dari kompetitor, dan butuh waktu untuk membangun struktur pengembangan. Akibatnya, kami kehilangan hampir dua tahun," jelasnya. Fokus awal pada pengembangan baterai dan motor listrik yang memakan waktu lama membuat pengembangan mesin pembakaran internal tertinggal. Ketika personel mulai lengkap, Honda justru terbentur batasan anggaran dan jam operasional, sehingga tidak mampu mengejar ketertinggalan.
Meski demikian, perbaikan driveability perlahan terlihat. Namun, dengan kompetisi yang semakin ketat dan regulasi biaya yang membatasi ruang gerak, Honda berada di posisi sulit: mengejar tenaga tanpa mengorbankan kenyamanan pengendaraan. Pertanyaannya, mampukah Honda memecah kebuntuan ini sebelum musim berganti, atau akankah defisit tenaga terus menghantui ambisi mereka di lintasan?



