Microsoft Batalkan Data Center AI di Inggris, Nscale Kehilangan Kontrak Akibat Listrik Terlambat
Baca dalam 60 detik
- Microsoft menarik diri dari proyek data center AI di Loughton, Essex, yang dikelola Nscale, setelah operator jaringan listrik setempat menyatakan kapasitas daya tidak tersedia hingga awal 2030-an.
- Nscale, yang lahir dari bisnis penambangan bitcoin, menghadapi tantangan infrastruktur energi yang juga menghantui sektor AI global, sementara kontrak AI senilai miliaran dolar tetap terkatung-katung.
- Kegagalan proyek ini menyoroti perebutan daya listrik yang semakin ketat di Inggris dan mendorong perlunya reformasi antrean koneksi jaringan agar proyek siap jalan tidak tertahan.

Raksasa teknologi Microsoft resmi menghentikan rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di Loughton, Essex, Inggris, yang sedianya dioperasikan oleh Nscale—perusahaan yang tumbuh dari industri penambangan bitcoin. Keputusan itu diambil setelah operator jaringan listrik lokal, UK Power Networks, mengindikasikan bahwa pasokan daya yang memadai untuk lokasi tersebut kemungkinan baru tersedia pada awal hingga pertengahan dekade 2030-an.
Proyek yang diumumkan tahun lalu bersama Nvidia dan OpenAI itu dirancang untuk menampung 23.040 chip Nvidia dan memasok 50 megawatt kapasitas komputasi ke layanan cloud Azure Microsoft pada awal 2027. Namun, hingga Februari lalu, lokasi tersebut masih berupa gudang perancah yang beroperasi. Nscale mengaku telah membersihkan lahan dan tengah menjajaki opsi pasokan listrik alternatif. Perusahaan menegaskan kontrak Microsoft lainnya tidak terpengaruh oleh pembatalan ini.
Nscale merupakan spin-off dari Arkon Energy, pengembang situs penambangan bitcoin. Pendirinya, Josh Payne, memanfaatkan pengalaman dalam mengamankan lahan dan pasokan listrik untuk merintis bisnis penyediaan komputasi bagi perusahaan AI. Model bisnis ini kian lazim di kalangan perusahaan tambang bitcoin tercatat, yang telah mengumumkan kontrak AI dan komputasi kinerja tinggi senilai lebih dari US$70 miliar hingga Maret lalu. Untuk membiayai ekspansi tersebut, mereka bahkan memangkas kepemilikan bitcoin kolektif lebih dari 15.000 BTC dari puncaknya.
Meski kontrak AI menjanjikan pendapatan stabil selama bertahun-tahun, biaya pembangunan infrastruktur jauh lebih mahal dibanding tambang kripto. Fasilitas siap AI membutuhkan investasi US$8–15 juta per megawatt, sementara tambang bitcoin hanya sekitar US$700.000–1 juta per megawatt. Pelanggan AI juga menuntut server beroperasi nonstop, yang menambah kompleksitas operasional. Laporan manajer investasi CoinShares mencatat lebih dari 4 gigawatt kapasitas AI telah dikontrakkan di antara penambang yang dilacak, tetapi baru sekitar 550 megawatt yang benar-benar menghasilkan pendapatan. Nilai kontrak tertunda menembus US$100 miliar, sedangkan pendapatan AI tahunan baru sedikit di atas US$1 miliar.
"Kecuali Nscale menemukan sumber listrik sendiri atau jaringan dapat bergerak lebih cepat, lokasi yang baru dibersihkan itu bisa terbengkalai selama bertahun-tahun," demikian laporan CoinDesk menggambarkan risiko proyek.
Inggris sendiri tengah menghadapi antrean panjang permintaan koneksi jaringan listrik. Regulator energi Ofgem melaporkan permintaan koneksi dari proyek data center mencapai sekitar 73 gigawatt, jauh melebihi kapasitas yang tersedia. Ofgem sedang mempertimbangkan aturan yang lebih ketat karena sejumlah pemohon diduga tidak akan pernah membangun proyeknya, sehingga menghambat proyek-proyek yang sudah siap eksekusi. Kondisi ini menciptakan paradoks: di satu sisi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi digital, di sisi lain infrastruktur energi menjadi bottleneck yang memperlambat realisasi investasi.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin penting. Sejumlah perusahaan tambang bitcoin dalam negeri juga mulai melirik bisnis penyediaan daya untuk AI, namun tantangan pasokan listrik dan birokrasi perizinan masih menjadi kendala utama. Jika Inggris—negara dengan jaringan listrik mapan—saja kesulitan, Indonesia perlu mempercepat reformasi sektor ketenagalistrikan agar tidak kehilangan momentum ekonomi digital. Pemerintah tengah mendorong pengembangan pusat data nasional, tetapi tanpa kepastian pasokan daya yang memadai, nasib serupa bisa menimpa proyek-proyek di dalam negeri.
Ke depan, masa depan pusat data AI di Eropa dan Asia akan sangat bergantung pada kemampuan negara menyediakan listrik yang andal dan berkelanjutan. Nscale masih memiliki peluang jika berhasil mengamankan pasokan listrik mandiri, tetapi tekanan waktu dan biaya menjadi taruhan besar. Sementara itu, para pelaku industri akan terus mencermati apakah regulator seperti Ofgem mampu memangkas birokrasi antrean, atau justru memperpanjang ketidakpastian yang menghambat inovasi.



