PSIM Yogyakarta Berbenah Usai Pecat Van Gastel, Manajemen Minta Suporter Tetap Setia
Baca dalam 60 detik
- PSIM Yogyakarta resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Jean-Paul van Gastel setelah lima laga awal tanpa kemenangan.
- Manajer Iksan Mahar menekankan pentingnya dukungan suporter di tengah jadwal padat November-Desember yang berpotensi menjadi periode tersibuk dalam sejarah klub.
- Guntur Cahyo Utomo ditunjuk sebagai caretaker selama sekitar sebulan, sementara manajemen memburu pelatih permanen untuk memastikan target bertahan di kasta tertinggi terpenuhi.

PSIM Yogyakarta memutuskan mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Jean-Paul van Gastel pada Sabtu (17/10/2026) setelah tim gagal meraih kemenangan dalam lima pertandingan pembuka BRI Super League 2026/2027. Keputusan itu diumumkan langsung oleh Direktur Utama PSIM, Liana Tasno, di Gedung Graha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, menandai berakhirnya era singkat pelatih asal Belanda tersebut.
Manajer PSIM, Iksan Mahar, menyebut perjalanan tim masih panjang dan berharap dinamika internal tidak mengganggu persiapan skuad. Ia menegaskan bahwa dukungan suporter menjadi faktor krusial untuk membangkitkan semangat Laskar Mataram. "Apa pun yang terjadi, the show must go on," ujarnya, mengutip ungkapan populer yang menggambarkan perlunya tim melanjutkan kompetisi tanpa terlena oleh gejolak.
Keputusan pemecatan Van Gastel bukan tanpa alasan. Manajemen menilai hasil buruk di awal musim berpotensi mengancam target utama tim untuk bertahan di kasta tertinggi Liga Indonesia. PSIM memang promosi ke Super League musim ini, sehingga stabilitas performa menjadi prioritas. Dengan lima laga tanpa kemenangan, posisi tim di papan bawah klasemen menjadi sinyal bahaya yang harus segera diatasi.
Sepeninggal Van Gastel, PSIM langsung dihadapkan pada jadwal berat. Dua laga tandang melawan Bhayangkara FC dan IsenMulang FC menjadi ujian pertama bagi caretaker Guntur Cahyo Utomo. Setelah itu, dua laga kandang yang tak kalah sulit menanti. Iksan Mahar menyadari bahwa periode November hingga Desember akan menjadi salah satu fase tersibuk dalam sejarah klub, dengan total 12 pertandingan dalam dua bulan. "Ini bisa jadi periode terpadat, terutama karena kami bermain di kasta tertinggi," katanya.
"Kami mohon dukungan dari semua pihak. Harapan kami, tim kebanggaan masyarakat Kota Jogja ini bisa kembali on the track dan mewujudkan visi untuk bertahan di Super League musim ini serta musim-musim berikutnya." โ Iksan Mahar, Manajer PSIM Yogyakarta
Penunjukan Guntur Cahyo Utomo sebagai caretaker memberi manajemen waktu sekitar sebulan untuk mencari pelatih permanen. Sosok pengganti Van Gastel diharapkan mampu membawa perubahan signifikan, terutama dalam hal taktik dan mental bertanding pemain. Manajemen juga menekankan pentingnya stabilitas untuk menghindari degradasi, mengingat kompetisi kasta tertinggi menuntut konsistensi performa sepanjang musim.
Bagi PSIM, pergantian pelatih di tengah musim bukan hal baru, tetapi tantangannya kali ini lebih besar karena tim baru saja kembali ke kompetisi elite. Dukungan suporter akan menjadi energi tambahan, terlebih laga kandang berikutnya akan digelar di hadapan pendukung sendiri. Iksan berharap sinergi antara tim, manajemen, dan suporter dapat mengembalikan momentum positif.
Ke depan, fokus utama PSIM adalah meraih poin di laga-laga krusial sebelum jeda kompetisi. Jika caretaker mampu memberikan dampak instan, bukan tidak mungkin manajemen akan mempertimbangkannya sebagai pelatih permanen. Namun, jika hasil belum membaik, tekanan untuk mendatangkan pelatih berpengalaman akan semakin besar. Publik Yogyakarta tentu berharap Laskar Mataram segera bangkit dan membuktikan bahwa promosi mereka bukan sekadar kebetulan.



