LinkedIn Perangi 'AI Slop', 40% Postingan Panjang Terdeteksi Buatan Mesin
Baca dalam 60 detik
- LinkedIn mengerahkan tim berisi mantan jurnalis dan pakar media sosial untuk melatih model AI internal agar bisa membedakan tulisan otentik dari konten generik.
- Tombol pelaporan 'seems like AI slop' diklik lebih dari satu juta kali hanya dalam dua minggu pertama peluncurannya pada Agustus.
- Penurunan 40% tampilan konten yang diklasifikasikan sebagai AI slop menjadi sinyal awal bahwa strategi humanisasi platform membuahkan hasil.

LinkedIn mengambil langkah tegas terhadap membanjirnya konten tulisan yang dihasilkan kecerdasan artifisial (AI) di platformnya. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu kini mengerahkan tim khusus beranggotakan mantan jurnalis dan pakar media sosial untuk mengajari sistem AI internalnya membedakan postingan manusiawi dari tulisan mesin yang seragam.
Langkah ini muncul setelah laporan firma riset Pangram pada Juli lalu mengungkap bahwa lebih dari 40% postingan panjang di LinkedIn merupakan hasil generasi AI. Angka itu jauh melampaui X dan Medium yang berada di kisaran 30%, sementara Reddit dan Substack mencatat proporsi lebih kecil. Temuan tersebut menempatkan LinkedIn sebagai platform dengan tingkat kontaminasi konten AI tertinggi di antara jejaring sosial mapan.
Bagi LinkedIn, kualitas konten bukan sekadar persoalan estetika. Postingan yang terlalu banyak diproduksi mesin cenderung kehilangan daya tarik karena terdengar seragam dan dangkal. Jika pengguna terus-menerus disuguhi konten semacam itu, mereka berisiko meninggalkan platform karena tidak lagi memperoleh wawasan bernilai dari koneksi profesional mereka. Ujung-ujungnya, keterlibatan pengguna menurun dan nilai bisnis LinkedIn ikut tergerus.
Pada Agustus, LinkedIn merilis tombol yang memungkinkan pengguna menandai unggahan yang "terasa seperti AI slop". Responsnya di luar dugaan: lebih dari satu juta klik tercatat hanya dalam dua pekan. Perusahaan kemudian mengintegrasikan sistem AI internalnya untuk menyaring konten berkualitas rendah dan mendorong pengguna kembali menulis dengan gaya manusiawi.
Strategi ini melibatkan tim kurasi yang sebagian besar terdiri dari mantan wartawan dan pakar media sosial. Mereka bertugas melatih model AI LinkedIn agar mampu mengenali ciri-ciri tulisan otentik dan bermanfaat. Apabila model menandai sebuah unggahan sebagai konten AI berkualitas rendah, jangkauannya akan dibatasi hanya sampai koneksi langsung pengguna, tidak disebarkan lebih luas ke seluruh jaringan.
"Saya tahu Anda merasa sudah melakukan hal benar dengan daftar poin yang sempurna dan kalimat pembuka yang memikat, mengikuti saran para advisor LinkedIn di internet. Tapi yang benar-benar berhasil adalah menjadi manusia," ujar Dan Roth, Editor-in-Chief LinkedIn, seperti dikutip CNN.
Roth menambahkan bahwa timnya juga berperan sebagai "terapis konten" bagi para eksekutif dan pakar yang terbiasa menggunakan AI untuk menghasilkan tulisan yang tampak rapi. Banyak dari mereka kemudian bingung ketika unggahan tersebut minim respons. Pendekatan yang diambil bukan sekadar melarang, melainkan mengajak pengguna merenung: apakah mereka sendiri menikmati membaca tulisan itu dan merasa terwakili olehnya.
Alih-alih mendorong kesempurnaan, LinkedIn justru mengampanyekan keaslian yang tidak selalu mulus. Pengguna diimbau merekam video dengan ponsel yang disandarkan pada gelas kopi, bukan menggunakan studio mahal, atau menulis unggahan spontan untuk memantik percakapan meski gagasannya belum utuh. Pesan intinya: konten yang terasa manusiawi lebih efektif menembus kebisingan dibandingkan tulisan hasil generasi mesin.
Upaya ini membuahkan hasil awal. LinkedIn melaporkan bahwa perbaikan pada sistem deteksi telah menurunkan 40% tampilan konten yang diklasifikasikan sebagai AI slop. Meski demikian, perusahaan tidak serta-merta menolak AI. Roth mengakui bahwa tidak semua orang memiliki bakat komunikasi alami, sehingga AI tetap bisa menjadi alat bantu. Namun, tanpa sentuhan penyuntingan dan personalisasi, konten tersebut kecil kemungkinan menjangkau audiens luas.
Di Indonesia, fenomena serupa berpotensi mengemuka seiring meningkatnya adopsi AI generatif di kalangan profesional. Platform seperti LinkedIn menjadi kanal penting bagi pekerja knowledge di Jakarta dan kota besar lain untuk membangun reputasi. Jika konten generik terus membanjiri ruang diskusi, kredibilitas jejaring profesional bisa tergerus. Langkah LinkedIn ini bisa menjadi preseden bagi platform lain di Tanah Air dalam menjaga kualitas interaksi.
Ke depan, pertarungan melawan AI slop tidak akan selesai dengan satu tombol pelaporan. LinkedIn perlu memastikan sistem deteksinya tidak salah sasaran terhadap pengguna yang memanfaatkan AI secara kreatif dan produktif. Pertanyaannya, sejauh mana platform dapat menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan nilai otentisitas yang justru menjadi daya tarik utamanya?



