Charles Hoskinson Tulis Sendiri Bahasa Pemrograman Baru untuk Cardano, Ini Dampaknya
Baca dalam 60 detik
- Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, mengembangkan bahasa pemrograman baru untuk jaringan blockchain-nya secara pribadi.
- Bahasa ini akan menggabungkan transaction intents, proof-carrying data, dan Groth16 proofs untuk aplikasi terdesentralisasi yang lebih efisien.
- Meski detail teknis belum diungkap, langkah ini berpotensi memperkuat ekosistem Cardano di tengah persaingan ketat platform smart contract.

Charles Hoskinson, pendiri Cardano, secara mengejutkan mengumumkan bahwa ia sedang menulis bahasa pemrograman baru untuk blockchain yang ia dirikan. Pengumuman ini disampaikan melalui akun X pribadinya pada Minggu (19/10/2026), menandai langkah langka seorang CEO yang terlibat langsung dalam pengembangan teknis inti di tengah tim engineering yang besar.
Menurut cuitannya, Hoskinson mengerjakan proyek ini bersama Lucas Rosa, software engineer di Input Output Global (IOG) yang juga ikut menciptakan Aiken, salah satu bahasa smart contract utama Cardano. Bahasa baru ini diklaim akan menjadi yang pertama menggabungkan antara keinginan pengguna dalam bertransaksi dengan bukti kriptografis bahwa aturan telah dipatuhi.
Ada tiga fitur utama yang akan didukung: transaction intents, proof-carrying data, dan Groth16 proofs. Transaction intents memungkinkan pengguna menyatakan tujuan transaksi tanpa harus merinci langkah-langkahnya—misalnya, seorang trader dapat meminta penukaran token hanya jika harga akhir memenuhi syarat tertentu. Proof-carrying data melampirkan bukti kriptografis pada informasi sehingga aplikasi lain dapat memverifikasi kepatuhan aturan tanpa menghitung ulang seluruh proses. Sementara Groth16 adalah sistem proof yang menghasilkan bukti ringkas dan cepat diverifikasi, memungkinkan validasi kondisi tanpa mengungkap data privat.
Kombinasi ketiganya berpotensi memungkinkan pengembang membangun aplikasi yang mengoordinasikan perdagangan, memeriksa kondisi kompleks, dan meneruskan informasi terverifikasi antar layanan, dengan Cardano hanya perlu memeriksa bukti kecil di akhir. Saat ini, pengembang Cardano menggunakan Plutus (berbasis Haskell) dan Aiken untuk smart contract, sedangkan Midnight—blockchain berfokus privasi besutan IOG—memiliki bahasa sendiri bernama Compact.
Langkah Hoskinson ini terbilang tidak biasa. Sebagian besar pendiri blockchain yang jaringannya sudah besar cenderung mendelegasikan pengembangan teknis kepada tim engineer. Namun, Hoskinson memilih terjun langsung, sebuah sinyal kuat bahwa ia ingin memastikan arah evolusi Cardano tetap sesuai visinya. Meski demikian, tanpa kode publik atau tenggat waktu, komunitas masih menunggu bukti konkret.
"Saya benar-benar secara pribadi mengembangkan bahasa pemrograman untuk Cardano," tulis Hoskinson di X, seperti dikutip.
Dalam konteks Indonesia, perkembangan ini dapat memengaruhi para pengembang lokal yang tengah membangun aplikasi di atas Cardano. Bahasa yang lebih ekspresif dan efisien dapat menurunkan hambatan masuk bagi developer Tanah Air, terutama di sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan rantai pasok. Namun, adopsi tetap bergantung pada ketersediaan dokumentasi dan dukungan komunitas global.
Ke depan, publik akan menantikan apakah bahasa ini benar-benar diluncurkan dan mampu menarik minat pengembang di tengah persaingan ketat platform smart contract seperti Ethereum, Solana, dan lainnya. Jika berhasil, Cardano berpotensi memperluas cakupan aplikasi yang dapat dibangun di atasnya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai blockchain yang serius dalam inovasi teknis.



