JPMorgan Bawa JPM Coin ke Ethereum, Sinyal Ekspansi Tokenisasi Perbankan Global
Baca dalam 60 detik
- JPMorgan memindahkan JPM Coin dari Base ke Ethereum untuk memperluas jangkauan layanan tokenisasi deposito dolar.
- Langkah ini menandai pergeseran strategi bank besar yang sebelumnya memilih jaringan privat, kini merambah blockchain publik.
- Keputusan tersebut berpotensi mempercepat adopsi aset dunia nyata (RWA) dan mendorong standar baru dalam pembayaran lintas batas.

JPMorgan Chase & Co. secara resmi mengumumkan rencana menghadirkan JPM Coin—token digital yang mewakili deposito dolar di bank tersebut—ke jaringan Ethereum. Langkah ini menjadi sinyal bahwa bank terbesar di Amerika Serikat itu mulai membuka diri terhadap blockchain publik setelah sebelumnya hanya beroperasi di jaringan layer-2 Base milik Coinbase.
Kepala Kinexys Labs, Emma Landriault, dalam wawancara dengan Bloomberg menyatakan bahwa Ethereum dipilih karena likuiditasnya lebih tinggi dibandingkan jaringan pesaing dan telah digunakan oleh banyak klien institusional. Meski demikian, Landriault tidak merinci kapan tepatnya JPM Coin akan tersedia di Ethereum. Juru bicara JPMorgan juga belum merespons permintaan keterangan dari CoinDesk hingga berita ini diturunkan.
Rencana ekspansi ini sebenarnya sudah diisyaratkan sejak Januari lalu, ketika JPMorgan menyebut akan membawa token tersebut ke Canton Network. Menurut Landriault, memperluas ketersediaan JPM Coin bertujuan melayani perusahaan kripto yang ingin melakukan pembayaran berbasis blockchain, serta firma keuangan yang membutuhkan token digital untuk menyelesaikan transaksi atau menjamin aset tokenisasi.
Tokenisasi—proses mengubah aset dunia nyata dan instrumen keuangan menjadi bentuk digital yang dicatat dan diperdagangkan di ledger terdesentralisasi—menjadi salah satu pendorong utama di balik langkah ini. Keunggulannya terletak pada kecepatan penyelesaian transaksi dan pergerakan dana yang lebih efisien, menghindari hambatan sistem pembayaran konvensional. Meski demikian, sebagian besar bank besar masih enggan menggunakan jaringan publik karena alasan regulasi dan keamanan.
Di Amerika Serikat, JPMorgan bersama Citi, Bank of America, Wells Fargo, dan belasan bank lain tengah merencanakan jaringan bersama untuk deposito tokenisasi. Sementara itu, di kancah internasional, JPMorgan termasuk dalam lebih dari 30 bank yang membantu Swift merumuskan fitur dan tata kelola ledger berbasis blockchain. Pada Juli lalu, Swift mengumumkan 17 bank—termasuk Citi dan Wells Fargo—bersiap menguji transaksi langsung, namun JPMorgan tidak masuk dalam daftar tersebut.
“Ethereum menawarkan likuiditas yang lebih dalam dan telah menjadi rumah bagi banyak pelaku institusional, sehingga menjadi pilihan logis untuk memperluas jangkauan JPM Coin,” ujar Landriault, mengutip pernyataannya kepada Bloomberg.
Langkah JPMorgan ini mempertegas tren adopsi tokenisasi di kalangan perbankan global, meski masih terdapat tantangan terkait kepatuhan dan interoperabilitas antarjaringan. Kehadiran JPM Coin di Ethereum dapat mendorong standar baru dalam penyelesaian transaksi lintas batas dan mempercepat integrasi aset dunia nyata ke ekosistem keuangan terdesentralisasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan tokenisasi aset dan pembayaran digital. Bank-bank domestik yang tengah mengembangkan layanan serupa dapat mempelajari model JPMorgan dalam menyeimbangkan inovasi dan kepatuhan. Namun, tanpa kerangka regulasi yang jelas dari Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, adopsi serupa di tanah air masih menghadapi jalan terjal.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat bank lain mengikuti jejak JPMorgan merambah blockchain publik, dan apakah regulator global akan menyusun standar yang memungkinkan token deposito beroperasi lintas jaringan tanpa mengorbankan stabilitas sistem keuangan.



