Sampah Antariksa Makin Padat, Ilmuwan Jepang Tawarkan Solusi Plasma
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 40.000 serpihan besar dan ratusan ribu pecahan kecil mengorbit Bumi, meningkatkan risiko tabrakan dengan satelit dan stasiun antariksa.
- Sebuah tim dari Universitas Tohoku mengembangkan pendorong plasma dua arah yang dapat memperlambat sampah antariksa tanpa kontak fisik, mempercepat penurunannya dari orbit.
- Meski masih tahap uji laboratorium, teknologi ini menjanjikan penanganan sampah antariksa yang lebih aman dan hemat biaya di masa depan.

Risiko tabrakan di orbit Bumi semakin nyata seiring bertambahnya populasi sampah antariksa. Data Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan pada 2024 terdapat sekitar 40.000 serpihan besar yang terpantau, belum termasuk ratusan ribu pecahan lebih kecil yang tak terhitung. Setiap objek, sekecil apa pun, bergerak dengan kecepatan tinggi dan berpotensi merusak satelit maupun wahana antariksa.
Ancaman ini bukan sekadar teori. Pada 2021, sebuah satelit militer Tiongkok hancur setelah dihantam sampah antariksa tak terkendali. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa lalu lintas di orbit rendah Bumi (LEO) kian padat dan berbahaya. Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pun kerap harus melakukan manuver menghindar, bahkan dalam satu pekan bisa lebih dari sekali.
Selama ini, sampah antariksa dibiarkan mengorbit hingga akhirnya masuk kembali ke atmosfer dan terbakar. Namun, proses alaminya sangat lama: objek di ketinggian lebih dari 600 mil di atas ambang reentry bisa bertahan berabad-abad. Tidak ada rencana global yang efektif untuk membersihkan orbit, sehingga setiap misi ke LEO harus memperhitungkan probabilitas tabrakan.
Untuk mengatasi persoalan ini, Kazunori Takahashi, peneliti dan profesor madya di Sekolah Pascasarjana Teknik Universitas Tohoku, Jepang, mengusulkan solusi tanpa kontak fisik. Ia merancang satelit pembersih yang dilengkapi sistem propulsi plasma. Prinsipnya, satelit menembakkan plasma ke arah sampah untuk memperlambat objek tersebut sehingga jatuh dari orbit dan terbakar di atmosfer.
Pendekatan ini berbeda dari metode konvensional yang memerlukan kontak langsung, seperti menggunakan lengan robot atau jaring. Kontak langsung meningkatkan risiko tabrakan dan kerusakan pada satelit pembersih. Dengan plasma, satelit dapat menjaga jarak aman sambil tetap memberikan gaya perlambatan. "Ini adalah solusi tanpa kontak yang tidak membutuhkan banyak sumber daya," ujar Takahashi, seperti dikutip dari laporan tersebut.
Namun, ada tantangan fisika: setiap aksi menimbulkan reaksi. Saat plasma ditembakkan ke sampah, satelit justru terdorong ke arah berlawanan, mengurangi efektivitas. Takahashi pun mengembangkan pendorong plasma dua arah (bidirectional plasma thruster) yang memancarkan plasma ke dua arah sekaligus, sehingga gaya dorong pada satelit saling meniadakan. Ia menguji desain ini dalam tabung vakum yang meniru kondisi antariksa, dan hasilnya berhasil.
"Pencapaian ini membawa tim selangkah lebih dekat untuk mengembangkan sistem propulsi yang mampu menghilangkan sampah antariksa secara efisien dan aman," kata Takahashi.
Meski demikian, teknologi ini belum siap digunakan secara operasional. Diperlukan pengujian lebih lanjut, termasuk simulasi skala penuh dan validasi di lingkungan orbit. Jika berhasil, metode ini dapat menjadi terobosan dalam pengelolaan sampah antariksa yang selama ini terabaikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat ketergantungan pada satelit untuk komunikasi, navigasi, dan pemantauan cuaca. Orbit rendah Bumi yang semakin padat menuntut kesadaran akan pentingnya tata kelola antariksa yang berkelanjutan. Indonesia sebagai negara kepulauan juga perlu memperkuat sistem pemantauan sampah antariksa untuk melindungi aset satelitnya.
Ke depan, pertanyaannya: akankah teknologi plasma ini benar-benar menjadi solusi global, atau hanya menjadi langkah kecil di tengah lautan sampah antariksa yang terus bertambah? Yang jelas, tanpa tindakan nyata, orbit Bumi akan semakin sesak dan berisiko.



