Perburuan "Bumi Kedua": Ilmuwan Temukan Petunjuk Baru, tapi Belum Ada yang Terkonfirmasi
Baca dalam 60 detik
- Astronom telah mengidentifikasi sejumlah planet berbatu berukuran mirip Bumi yang mengorbit di zona layak huni, namun tak satu pun dipastikan memiliki atmosfer atau air permukaan.
- Teleskop generasi baru seperti Habitable Worlds Observatory dirancang untuk menganalisis atmosfer planet kecil secara langsung, membuka jalan pembuktian keberadaan dunia yang benar-benar menyerupai Bumi.
- Temuan ini memperkuat gagasan bahwa kondisi mirip Bumi bukan keunikan tata surya kita, meski bukti kehidupan di luar Bumi masih nol.

Pencarian planet yang benar-benar menyerupai Bumi memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun hanya menghitung ukuran dan jarak orbit, para astronom kini mulai membedah atmosfer dunia-dunia jauh untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ada tempat lain di alam semesta yang benar-benar bisa dihuni?
Selama dua dekade terakhir, misi seperti Kepler dan TESS telah mengonfirmasi ribuan planet di luar tata surya. Sebagian di antaranya berukuran mirip Bumi dan berada di zona layak huni—wilayah sekitar bintang di mana air bisa berwujud cair jika atmosfernya mendukung. Kepler-186f, yang ditemukan pada 2014, menjadi tonggak karena merupakan planet seukuran Bumi pertama yang terverifikasi di zona layak huni bintang lain. Kepler-1649c, yang diumumkan NASA pada 2020, hanya sekitar 6% lebih besar dari Bumi dan menerima sekitar 75% energi dari bintangnya dibandingkan yang diterima Bumi dari Matahari.
Namun, kemiripan ukuran dan energi tidak serta-merta berarti planet itu benar-benar seperti Bumi. Atmosfer bisa mengubah segalanya. Venus, tetangga terdekat kita, berukuran hampir sama dengan Bumi tetapi memiliki atmosfer tebal yang menciptakan suhu permukaan ekstrem. "Kita perlu berhenti terjebak pada label 'seukuran Bumi' dan mulai melihat konteks kimia dan atmosfernya," ujar seorang peneliti exoplanet yang terlibat dalam studi terbaru, seperti dikutip dari jurnal ilmiah.
Pada 2026, tim peneliti melaporkan kandidat planet berbatu HD 137010 b yang mengorbit bintang mirip Matahari pada jarak 146 tahun cahaya. Orbitnya mendekati satu tahun Bumi, tetapi para ilmuwan menduga planet ini jauh lebih dingin—mungkin lebih dingin dari Mars—tergantung pada atmosfernya. Temuan ini menegaskan bahwa berada di zona layak huni hanyalah syarat awal, bukan jaminan.
Terobosan lain datang dari LHS 1140 b, planet di zona layak huni yang sejak lama menarik perhatian karena kepadatannya menunjukkan dunia berbatu atau kaya air. Pada 2026, peneliti mendeteksi helium yang lolos dari planet ini—bukti bahwa ia memiliki atmosfer. Penemuan ini penting karena planet kecil di sekitar bintang katai merah sering kehilangan atmosfernya akibat aktivitas bintang yang intens. Meski demikian, komposisi atmosfer dan keberadaan air di permukaannya masih misteri.
Bintang katai merah menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, bintang jenis ini memudahkan deteksi planet kecil karena ukurannya yang relatif kecil dibandingkan bintangnya. Di sisi lain, flare dan radiasi yang kuat dapat mengikis atmosfer planet. Sistem TRAPPIST-1, dengan tujuh planet berbatu, menjadi laboratorium alami untuk mempelajari apakah planet-planet di zona layak huni katai merah mampu mempertahankan atmosfer dalam jangka panjang.
Studi pada 2026 menambah lapisan kerumitan: ketersediaan unsur penting seperti nitrogen dan fosfor—bahan baku kehidupan—sangat bergantung pada kondisi kimia saat inti planet terbentuk. Model menunjukkan hanya rentang kondisi formasi yang sempit yang memungkinkan kedua unsur tersebut tetap dapat diakses di mantel planet. Artinya, dua planet yang tampak mirip dari kejauhan bisa memiliki prospek kimia yang sangat berbeda.
Untuk mengurai teka-teki ini, astronom mengandalkan spektroskopi transmisi. Ketika planet melintas di depan bintangnya, cahaya bintang melewati atmosfer planet, dan molekul-molekul di dalamnya menyerap panjang gelombang tertentu. Pola serapan ini menjadi "sidik jari" kimia yang mengungkap keberadaan uap air, karbon dioksida, metana, atau oksigen. Namun, tak satu pun molekul itu cukup untuk membuktikan adanya kehidupan; ilmuwan perlu memahami seluruh lingkungan kimia planet.
Keterbatasan instrumen saat ini mendorong pengembangan observatorium masa depan. NASA tengah merancang Habitable Worlds Observatory, misi yang bertujuan memotret langsung planet mirip Bumi di sekitar bintang mirip Matahari. Tantangannya besar: cahaya bintang jauh lebih terang daripada planet, sehingga diperlukan teknologi untuk menekan silau bintang. Sebuah proposal 2026 menggabungkan teleskop darat besar dengan starshade di orbit untuk memblokir cahaya bintang.
Di sisi lain, para ilmuwan juga memperdebatkan seberapa ketat definisi "mirip Bumi". Sebuah planet bisa menopang kehidupan meski permukaannya sangat berbeda—misalnya lautan bawah es tebal, atmosfer lebih tebal, atau bintang yang lebih kecil dan dingin. Pandangan pada 2026 bahkan menyebut bahwa habitat paling umum untuk kehidupan mungkin adalah lautan tersembunyi di bawah es, bukan permukaan seperti Bumi.
"Kita telah menemukan banyak kepingan puzzle yang menjanjikan, tetapi belum ada satu pun planet yang terkonfirmasi mendukung kehidupan seperti Bumi," tegas NASA dalam pernyataan resminya.
Hingga kini, belum ada planet yang benar-benar identik dengan Bumi. Tidak ada yang terbukti memiliki lautan, atmosfer yang dapat dihirup, dan aktivitas biologis. Gambar-gambar planet yang beredar sebagian besar adalah rekonstruksi artistik berdasarkan data fisik yang terbatas. Namun, penemuan planet berbatu, zona layak huni, dan indikasi atmosfer membuat pertanyaan tentang "Bumi kedua" semakin ilmiah dan terukur.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar wacana. Program antariksa nasional yang tengah merintis, termasuk pengembangan satelit observasi dan kerja sama internasional, dapat memanfaatkan data exoplanet untuk pendidikan dan riset. Generasi muda Indonesia yang tertarik pada astrofisika kini memiliki akses lebih besar ke data terbuka dari misi luar angkasa, membuka peluang kontribusi dalam analisis atmosfer exoplanet.
Pertanyaannya, apakah kriteria "Bumi kedua" harus mencakup ukuran dan iklim yang mirip, lautan cair, atau bukti kehidupan? Jawabannya akan menentukan arah pencarian dekade berikutnya. Yang jelas, alam semesta tampaknya tidak kekurangan bahan untuk menciptakan dunia yang mirip rumah kita—kita hanya perlu waktu dan teknologi untuk membuktikannya.



