Albon Sebut Rompi Pendingin Williams Terbaik di Grid F1, Pembalap Lain Menolak
Baca dalam 60 detik
- Alex Albon menilai rompi pendingin Williams paling efektif di antara semua tim F1, meski ia harus rela kehilangan posisi akibat masalah rem di Singapura.
- Regulasi Heat Hazard memaksa pembalap memilih antara memakai rompi atau menambah pemberat, dan sikap pembalap terbelah antara dukungan dan penolakan.
- Keandalan perangkat menjadi taruhan menjelang seri Austin dan Qatar, dengan spekulasi bahwa balapan di Qatar terancam batal.

Alex Albon menyebut rompi pendingin milik Williams sebagai yang paling mumpuni di lintasan Formula 1 saat ini, sebuah pujian langka di tengah musim yang penuh masalah bagi timnya. Pernyataan itu muncul setelah ia menjalani Grand Prix Singapura yang melelahkan namun tetap terasa nyaman berkat perangkat tersebut.
Balapan di Marina Bay berlangsung dalam kondisi ekstrem: suhu udara mencapai 30 derajat Celsius dengan kelembapan hingga 78 persen. FIA menetapkan status Heat Hazard, yang memberikan pilihan kepada pembalap antara mengenakan rompi pendingin atau menambahkan pemberat pada mobil. Kebijakan ini lahir dari insiden di Grand Prix Qatar 2023, ketika sejumlah pembalap mengalami kelelahan akibat panas.
Bagi Williams, keputusan itu sederhana. Meski Albon harus mengelola suhu rem yang overheating dan akhirnya mundur di akhir lomba, ia tetap merasa nyaman. "Saya harus katakan, tim telah melakukan pekerjaan bagus dengan cooling suit kami. Rompi saya sempat tidak berfungsi selama 10 lap pertama, dan saya pikir balapan akan terasa sangat panjang. Namun kemudian perangkat itu menyala dan terasa sangat nyaman," ujarnya.
Rekan setim Albon, Carlos Sainz, sebelumnya juga memuji pengembangan rompi pendingin sebagai salah satu capaian terbaik Williams musim ini. "Jika ada satu hal yang berhasil kami kembangkan dengan baik tahun ini, itu adalah cooling vest. Alex dan saya merasa jauh lebih nyaman di dalam mobil," kata Sainz.
Namun tidak semua pembalap sepakat. Pierre Gasly menyatakan tidak membutuhkannya, sementara Isack Hadjar melangkah lebih jauh dengan menilai perangkat itu seharusnya dilarang karena menurutnya balapan memang seharusnya berat. Max Verstappen menolak dengan alasan praktis: kabel-kabel perangkat dianggap mengganggu pergerakan dan sistemnya tidak bertahan lama. "Bagi saya tidak perlu. Panas memang panas, tapi ini bukan sauna. Rompi ini hanya membatasi gerak," ujar Verstappen.
Kritik paling tajam datang dari Kimi Antonelli, yang mengaku pernah mengalami heat stroke setelah sesi di Austin akibat sistem pompa yang memompa air bersuhu 50 derajat Celsius. "Sejak itu saya memilih berlatih keras agar tidak perlu memakainya. Jika perangkat ini sudah matang dan terjamin keandalannya, saya mungkin akan memakainya. Tapi sekarang masih ada ketidakpastian besar," tuturnya.
Isu keandalan inilah yang menjadi inti persoalan. Rompi pendingin memang dirancang untuk menurunkan suhu tubuh, tetapi jika gagal di tengah balapan, air yang memanas justru memperburuk kondisi pembalap. Perbedaan sikap antar pembalap mencerminkan tarik-menarik antara kenyamanan dan tradisi kerasnya balap Formula 1.
Dari sudut pandang teknis, keberhasilan Williams mengembangkan rompi yang berfungsi konsisten menunjukkan bahwa aspek keselamatan dan kenyamanan pembalap semakin menjadi bagian dari kompetisi. Tim yang mampu mengelola detail semacam ini berpotensi mendapatkan keuntungan psikologis dan performa di seri-seri panas.
Ke depan, perdebatan tentang rompi pendingin kemungkinan akan mereda dengan sendirinya karena berdasarkan prakiraan cuaca, tidak ada lagi balapan yang memenuhi ambang suhu 31 derajat Celsius musim ini. Grand Prix Amerika di Austin diperkirakan tidak akan memicu Heat Hazard, dan satu-satunya peluang tersisa adalah Qatar, yang justru terancam pembatalan akibat konflik geopolitik. Jika benar demikian, ujian sesungguhnya bagi keandalan rompi pendingin baru akan datang pada musim depan.



