ORICO Tinggalkan Zona Nyaman, Tantang Raksasa Laptop dengan Obook15 Ber-AI
Baca dalam 60 detik
- ORICO, produsen aksesori penyimpanan asal Tiongkok, resmi merilis laptop pertamanya, Obook15, setelah 17 tahun berkecimpung di pasar peripheral.
- Laptop ini mengandalkan prosesor AMD Ryzen 7 6800H dan menawarkan slot M.2 kosong yang mendukung ekspansi penyimpanan hingga 4TB.
- Dengan harga mulai 689,99 dolar AS, Obook15 berpotensi mengguncang segmen laptop terjangkau, terutama di pasar Indonesia yang sensitif harga.

Setelah hampir dua dekade dikenal sebagai pembuat aksesori penyimpanan dan penghubung perangkat, ORICO akhirnya melangkah ke medan yang lebih besar: pasar komputer pribadi. Perusahaan asal Tiongkok itu resmi membuka preorder laptop pertamanya, Obook15, di Amerika Serikat dan Filipina, menandai debutnya sebagai produsen perangkat komputasi utuh.
Langkah ini bukan sekadar ekspansi lini produk. ORICO selama 17 tahun membangun reputasi lewat perangkat penyimpanan data dan konektivitas, bukan lewat riset dan pengembangan sasis laptop. Masuk ke pasar yang dikuasai pemain mapan seperti Lenovo, Asus, dan Acer menuntut lebih dari sekadar spesifikasi kertas. Namun ORICO tampaknya ingin membuktikan bahwa pengalaman panjang di ekosistem aksesori bisa diterjemahkan menjadi perangkat yang kompetitif.
Obook15 menyasar mahasiswa, pekerja awal karier, dan kreator konten—segmen yang paling sensitif terhadap harga namun tetap menuntut performa. Jantung perangkat ini adalah AMD Ryzen 7 6800H dengan delapan inti dan 16 thread, mampu mencapai frekuensi boost hingga 4,7GHz. GPU Radeon 680M terintegrasi di dalamnya, sementara memori LPDDR5 berjalan pada 6400MT/s tersedia dalam varian 12GB atau 24GB. Pilihan penyimpanan PCIe 3.0 mencakup 256GB, 512GB, dan 1TB.
Salah satu daya tarik utama Obook15 adalah kemudahan upgrade. Perangkat ini memiliki dua slot M.2 2280, tetapi satu slot dibiarkan kosong untuk ekspansi penyimpanan PCIe 4.0 hingga 4TB—empat kali lipat kapasitas drive bawaan terbesar. Fleksibilitas semacam ini jarang ditemukan pada laptop kelas menengah, dan bisa menjadi pembeda di mata pengguna yang ingin memperpanjang usia pakai perangkat tanpa harus membeli model baru.
Dari sisi desain, Obook15 mengusung sasis aluminium alloy pada tutup dan alas, dengan bobot 1,8 kg dan ketebalan 19,35 mm. Layar 15,6 inci berlapis matte dengan bezel tipis 5mm menghasilkan rasio layar-ke-tubuh 81%. Kamera 1MP dilengkapi penutup fisik—fitur kecil yang belakangan makin dicari pengguna yang peduli privasi. Keyboard full-size dengan backlight dan numeric pad melengkapi paket produktivitas, sementara sistem pendingin terdiri dari dua kipas, dua heat pipe, dan dua ventilasi udara untuk menjaga suhu prosesor pada rating 45W.
ORICO juga menyematkan asisten AI bernama XiaoAo yang menggabungkan 11 pakar khusus untuk membantu kontrol perangkat, otomasi alur kerja, dan manajemen pengetahuan. Langkah ini mengikuti tren industri yang kian menempelkan label AI pada perangkat keras konsumen. CEO ORICO Yeyou Xu menyebut Obook15 sebagai jawaban perusahaan atas kebutuhan produktivitas cerdas. Menurutnya, perangkat ini menggabungkan hardware mumpuni dengan agen AI yang dirancang mengurangi beban kerja rutin, sehingga fitur canggih bisa dijangkau segmen mainstream.
"Kami menggabungkan hardware yang capable dengan agen AI yang dirancang untuk mengurangi beban kerja rutin, membawa fitur canggih ke segmen mainstream," ujar Yeyou Xu, CEO ORICO.
Soal harga, Obook15 dibanderol mulai 689,99 dolar AS untuk varian 12GB/256GB, 749,99 dolar AS untuk 12GB/512GB, dan 899,99 dolar AS untuk 24GB/1TB. Selama periode preorder 16–23 Oktober, ORICO memberikan diskon 15% plus hadiah tambahan, sehingga varian termurah turun menjadi sekitar 586,49 dolar AS—potongan sekitar 103,50 dolar AS. Tersedia tiga pilihan warna: silver, pink, dan blue.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Obook15 bisa menjadi sinyal menarik. Segmen laptop di bawah 10 juta rupiah masih didominasi merek-merek mapan dengan spesifikasi konservatif. Jika ORICO berhasil menembus pasar Tanah Air dengan harga agresif dan dukungan purna jual yang memadai, persaingan di kelas menengah bawah berpotensi menghangat. Namun tantangan terbesarnya tetap: membangun kepercayaan konsumen terhadap merek yang selama ini identik dengan aksesori, bukan laptop.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Obook15 mampu bersaing secara spesifikasi, tetapi apakah ORICO bisa membangun ekosistem layanan purna jual dan distribusi yang solid. Tanpa itu, laptop pertama ini mungkin hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah panjang perusahaan—bukan titik balik yang sesungguhnya.



