Radar Cuaca Australia 'Tertipu' Migrasi Ngengat Bogong, Ilmuwan Bidik Data Baru
Baca dalam 60 detik
- Sistem radar cuaca di New South Wales timur mendeteksi gumpalan yang menyerupai hujan ringan, tetapi ternyata berasal dari kawanan ngengat bogong yang bermigrasi ke Pegunungan Alpen Australia.
- Fenomena ini membuka peluang riset ekologi, karena data radar berpotensi melacak pergerakan serangga dan satwa terbang lain seperti flying fox secara lebih efisien.
- Meski jumlah ngengat meningkat, populasi jangka panjangnya masih terancam oleh perubahan iklim, sehingga pengamatan berbasis radar menjadi krusial untuk konservasi.

Radar cuaca yang dirancang mendeteksi hujan, hujan es, dan salju di kawasan New South Wales timur, Australia, belakangan menampilkan pola tak biasa: gumpalan hujan ringan yang muncul hampir setiap malam, padahal permukaan tanah kering. Fenomena ini bukan gangguan teknis, melainkan pantulan dari kawanan ngengat bogong yang sedang bermigrasi menuju Pegunungan Alpen Australia.
Menurut laporan Australian Broadcasting Corporation (ABC), citra radar menunjukkan sebaran hujan yang konsisten di langit malam, terutama di sekitar Sydney dan wilayah timur NSW. Biro Meteorologi Australia menyatakan bahwa deteksi tersebut kemungkinan besar berasal dari serangga dalam jumlah besar, yang memang dapat terlihat seperti hujan sangat ringan, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Namun, badan itu juga mengingatkan bahwa inversi suhu dapat menimbulkan efek serupa, sehingga atribusi tunggal kepada ngengat belum sepenuhnya pasti.
Bagi ilmuwan, anomali ini justru menjadi berkah. Dr Kate Umbers, ahli zoologi dari Western Sydney University sekaligus direktur pengelola Invertebrates Australia, menyebut data radar sebagai “emas murni” untuk memahami rute dan lokasi perkembangbiakan ngengat bogong. Selama ini, upaya melacak perjalanan serangga kecil itu dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menandai individu hingga mengumpulkan catatan sejarah dan laporan media. Radar menawarkan cara yang jauh lebih efisien untuk memetakan pergerakan populasi dalam skala luas.
Fenomena ini bukan yang pertama. Pada Olimpiade Sydney 2000, kawanan ngengat yang tertarik cahaya stadion dilaporkan begitu besar hingga membuat meteorolog keliru mengira sebagai hujan. Dua dekade lebih kemudian, populasi ngengat sempat menurun drastis, tetapi kini kembali dalam jumlah besar. Kemunculan mereka di radar menjadi semacam “kebangkitan” yang disaksikan publik luas.
Radar cuaca ternyata tidak hanya merekam ngengat. Prof Justin Welbergen, ekolog dari Western Sydney University, telah memanfaatkan data radar untuk melacak flying fox – sejenis kelelawar besar – baik secara near real-time maupun retrospektif. Ia menemukan bahwa kelelawar tersebut muncul di radar sebagai “kantong air besar” yang terbang pada waktu dan arah yang konsisten setiap senja. Pola ini kemudian diolah menjadi prototipe bernama Aerocast, yang mampu menghitung populasi flying fox dengan bantuan algoritma komputer. Inisiatif serupa di Amerika Serikat, BirdCast, menggunakan radar untuk memantau migrasi burung.
Welbergen yakin teknik yang dikembangkan untuk flying fox dapat diadaptasi untuk ngengat. “Di radar, flying fox pada dasarnya adalah ngengat raksasa,” ujarnya. Kesamaan lain, kedua spesies muncul dari lokasi tertentu pada waktu yang dapat diprediksi, sehingga sinyal radar mudah diidentifikasi. Jika berhasil, perluasan Aerocast dapat menjadi alat konservasi yang mendeteksi peristiwa ekologis penting, seperti pembungaan massal atau gelombang panas ekstrem.
“Ini menimbulkan berbagai kemungkinan dan pertanyaan menarik, termasuk: berapa banyak ngengat bogong yang setara dengan hujan lebat?” — Dr Kate Umbers, ahli zoologi Western Sydney University.
Meski demikian, Umbers mengingatkan bahwa melimpahnya penampakan di kota belum tentu menandakan populasi yang pulih sepenuhnya. Habitat alpin ngengat bogong terus terancam oleh pemanasan global. Namun, ia menyambut baik antusiasme warga Sydney dan Canberra yang kini menjadi “asisten riset” dengan melaporkan keberadaan serangga tersebut. “Ini adalah skenario terbaik yang bisa kami harapkan untuk memahami mereka,” katanya.
Ke depan, integrasi data radar ke dalam program pemantauan biodiversitas dapat mengubah cara ilmuwan melacak spesies yang sangat mobile. Di Indonesia, ide serupa berpeluang dikembangkan untuk memantau migrasi burung atau serangga penyerbuk di kawasan konservasi, seiring meningkatnya kebutuhan data ekologi yang akurat. Pertanyaannya, akankah radar cuaca yang selama ini identik dengan prakiraan hujan juga menjadi tulang punggung pengawasan satwa terbang di Asia Tenggara?



