Bitcoin di Persimpangan: Optimisme $100.000 Bitwise Berhadapan dengan Tembok Inflasi The Fed
Baca dalam 60 detik
- Bitwise memproyeksikan Bitcoin menembus $100.000 akhir tahun, bertentangan dengan konsensus trader yang memperkirakan kisaran $85.000โ$95.000.
- Kenaikan suku bunga The Fed dan inflasi inti 0,3% menjadi penghalang utama, dengan peluang kenaikan Desember mencapai 75%.
- Posisi leverage yang sudah bersih dan funding rate netral membuka ruang bagi short squeeze jika Bitcoin menembus $90.000.

Harapan Bitcoin kembali ke level $100.000 sebelum tutup buku 2026 memecah belah kalangan analis. Di satu sisi, Bitwise menilai adopsi institusional dan permintaan aset safe haven akan mengalahkan ketidakpastian ekonomi jangka pendek. Di sisi lain, sejumlah pengamat pasar justru melihat inflasi yang masih lengket dan suku bunga tinggi sebagai tembok yang sulit ditembus.
Perdebatan ini bukan sekadar soal angka. Bitcoin yang diperdagangkan di kisaran $81.500 pada saat artikel ini disusun telah turun jauh dari puncak historisnya, dan setiap prediksi ke $100.000 kini bergantung pada apakah The Fed akan melunakkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan ke depan. Kepala riset Bitwise, Ryan Rasmussen, termasuk yang paling percaya diri. Ia memperkirakan Bitcoin akan keluar dari ketidakpastian beberapa pekan ke depan dengan valuasi lebih tinggi, bahkan berpotensi melewati $100.000.
Rasmussen mengidentifikasi tiga pendorong jangka panjang: pembelian institusional melalui ETF dan korporasi, permintaan aset hard asset di tengah inflasi dan kekhawatiran utang pemerintah, serta regulasi yang semakin jelas sehingga menurunkan persepsi risiko memiliki kripto. Menurutnya, ketiga faktor ini jauh lebih besar daripada hambatan yang ada. Namun ia juga mengakui bahwa volatilitas akan tinggi menjelang kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada akhir Oktober dan pemilu midterm AS pada November.
Pandangan yang lebih hati-hati datang dari Adam Morgan McCarthy, kepala riset LO:TECH yang berbasis di London. Ia memperkirakan Bitcoin akan bergerak dalam rentang $85.000โ$95.000 hingga akhir tahun. "Makro telah melawan Bitcoin sepanjang tahun, dengan The Fed menaikkan suku bunga pada September dan kenaikan Desember diperkirakan 75%," ujarnya. Ia menambahkan bahwa untuk kembali ke $100.000, ekspektasi kenaikan Desember harus berubah menjadi jeda, didukung oleh penurunan harga minyak dan inflasi.
Data inflasi yang dirilis 14 Oktober memperumit prospek. Harga konsumen naik 0,6% dari bulan sebelumnya, sementara harga inti naik 0,3%. Lebih dari separuh kenaikan headline disumbang oleh bensin. Sementara itu, James Butterfill dari CoinShares melihat ketegangan serupa antara inflasi yang persisten dan melemahnya lapangan kerja. Jika harga mendingin, The Fed punya ruang untuk merespons pelemahan pasar tenaga kerja; namun jika inflasi kembali menguat, kebijakan ketat akan bertahan dan menekan Bitcoin.
"Kami percaya Bitcoin akan berakhir lebih tinggi, berpotensi di atas $100.000. Namun kami juga memperkirakan volatilitas di sekitar kenaikan suku bunga akhir Oktober dan pemilu midterm November." โ Ryan Rasmussen, Head of Research Bitwise
Dari sisi posisi pasar, ada secercah harapan. Luca Invernizzi, trader derivatif senior di Laser Digital (anak perusahaan Nomura), menilai rebound dari titik terendah musim panas belum meyakinkan karena volume tipis, arus masuk ETF yang memudar, dan pembelian korporasi yang melambat. Namun ia mencatat bahwa leverage sudah banyak terhapus dari Bitcoin, dengan sebagian besar spekulasi berlebih beralih ke altcoin. Funding rate, pembayaran antara trader futures perpetual, berada di atau di bawah nol. Ini mengurangi bahan bakar untuk penjualan paksa dan membuka ruang bagi short squeeze lebih lanjut. "Penembusan bersih di atas $90.000 untuk BTC dapat memicu putaran short covering lagi," kata Invernizzi.
Sentimen positif juga datang dari pemulihan industri secara lebih luas. Dalam catatan risetnya, Citi menyebut kapitalisasi pasar kripto global naik dari sekitar $2,1 triliun menjadi hampir $3 triliun pada kuartal III. Arus ETF institusional kembali positif, sementara aktivitas di bursa, stablecoin, dan infrastruktur aset digital membaik. Bank itu juga melihat investor semakin melirik bisnis yang mendukung tokenisasi, kustodian, stablecoin, dan penyelesaian transaksi, meskipun Clarity Act gagal maju.
Butterfill dari CoinShares mengingatkan bahwa arus produk investasi telah melambat setelah mencatat $11,1 miliar inflow sejak pertengahan Juli. Ia melihatnya sebagai ketidakpastian, bukan penurunan fundamental Bitcoin, tetapi kenaikan berkelanjutan membutuhkan pembelian baru. Ia juga menyoroti bahwa kekhawatiran tentang keuangan pemerintah bisa menjadi sumber permintaan jangka panjang. Imbal hasil Treasury yang lebih tinggi biasanya merugikan Bitcoin karena memperketat kondisi keuangan, tetapi hubungan itu bisa berubah jika investor increasingly menafsirkan yield sebagai kompensasi risiko fiskal. "Bias kami adalah harga lebih tinggi dalam jangka menengah, tetapi kami ingin melihat argumen fiskal diterjemahkan menjadi alokasi yang berkelanjutan sebelum mengharapkan terobosan decisif," ujarnya.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini relevan mengingat increasing minat terhadap aset kripto di tanah air. Regulasi dan adopsi institusional di AS sering menjadi barometer global, termasuk bagi Bappebti dan pelaku pasar lokal. Namun, dengan suku bunga global yang masih tinggi, daya tarik aset berisiko seperti Bitcoin akan terus diuji. Pertanyaannya, akankah optimisme Bitwise terbukti, atau justru kehati-hatian McCarthy yang lebih dekat dengan realitas pasar?



