Colton Herta Dinilai Remehkan Jurang F2 dan IndyCar, Musim Debut Cadillac Berjalan Pahit
Baca dalam 60 detik
- Colton Herta terpuruk di peringkat 19 klasemen F2 2026, jauh dari ekspektasi setelah beralih dari IndyCar.
- CEO F2 Bruno Michel menilai Herta meremehkan perbedaan lingkungan kerja dan format akhir pekan yang serba singkat.
- Masa depan Herta di F2 belum pasti; ia enggan menjalani musim kedua, tetapi keputusan Cadillac menjadi penentu.

Petualangan Colton Herta menembus Formula 1 lewat jalur Formula 2 tidak berjalan sesuai skenario. Pembalap asal California itu kini tercecer di posisi ke-19 klasemen pembalap, dan performanya justru menurun seiring bergulirnya musim—sebuah anomali yang bahkan sulit ia jelaskan sendiri.
Herta bukan nama sembarangan. Selama tujuh tahun ia bersaing di jajaran terdepan IndyCar, seri single-seater paling bergengsi di Amerika Serikat. Pada 2026 ia memutuskan kembali ke Eropa—setelah terakhir kali menjajal formula junior pada 2015–2016—demi mengejar impian tampil di F1. Cadillac, tim yang baru merintis langkah di kejuaraan dunia, memberinya peran sebagai pembalap penguji dan pengembang. Namun agar bisa naik kelas, Herta mesti lebih dulu menaklukkan F2.
Kenyataan berkata lain. Alih-alih mendominasi, Herta kerap terlibat insiden dan kecelakaan yang memperburuk situasinya. CEO F2, Bruno Michel, tidak menutup mata. Menurutnya, pembalap 26 tahun itu memiliki talenta mumpuni, tetapi ada faktor non-teknis yang luput diperhitungkan. “Dia dan kami mungkin meremehkan perbedaan lingkungan kerja dibanding tim IndyCar,” ujar Michel, seraya berharap Herta mampu mengakhiri musim dengan catatan lebih baik.
Michel menyoroti format akhir pekan F2 yang menuntut ketepatan waktu ekstrem. Dalam sesi kualifikasi 30 menit, pembalap harus menentukan momen terbaik untuk mencatatkan dua lap terbang dengan jatah ban yang terbatas. “Di sinilah kami melatih pembalap untuk F1, karena di sana waktu di lintasan juga sangat minim,” jelasnya. Bagi Herta, yang terbiasa dengan ritme IndyCar yang lebih longgar, tekanan ini diduga menjadi bumerang.
“Dia dan kami mungkin meremehkan perbedaan lingkungan kerja. Saya sangat berharap dia bisa menutup musim dengan hasil membanggakan—dia pantas mendapatkannya.” — Bruno Michel, CEO F2
Meski performa jauh dari harapan, Michel menegaskan bahwa kegagalan Herta tidak serta-merta menjadi contoh buruk bagi pembalap lain yang ingin menyeberang dari IndyCar ke F1. Ia menilai adaptasi membutuhkan waktu, dan F2 tetap menjadi laboratorium yang keras bagi siapa pun yang datang dari budaya balap berbeda.
Di sisi lain, Herta sendiri menyatakan tidak berminat menjalani musim kedua di F2. Namun ia tidak menutup pintu bila Cadillac menghendaki sebaliknya. Keputusan tim yang berbasis di Amerika Serikat itu akan sangat menentukan arah kariernya. Jika Cadillac memilih mempertahankannya di F2, Herta harus membuktikan bahwa musim debut yang pahit ini hanyalah fase penyesuaian, bukan akhir dari segalanya.
Pertanyaannya kemudian: apakah Cadillac akan memberi Herta kesempatan kedua, atau justru menilai eksperimen lintas benua ini sebagai jalan buntu? Jawabannya akan segera terlihat dalam beberapa bulan ke depan, seiring persiapan tim menuju musim debut mereka di F1.



