Sindiran Nicki Thiim ke F1: Verstappen Ingin Balapan Mobil Sesungguhnya, Bukan Listrik
Baca dalam 60 detik
- Nicki Thiim melontarkan kritik pedas terhadap mobil F1 era regulasi 2026 yang dinilai tak lagi menyenangkan untuk dikendarai.
- Kehadiran Verstappen di GT World Challenge Europe Portimao menuai pujian paddock, dianggap angin segar bagi popularitas seri balap GT3.
- Dampak jangka panjang: sorotan global pada GTWC berpotensi mengubah lanskap pasar balap mobil sport, termasuk di kawasan Asia.

Pembalap senior Aston Martin, Nicki Thiim, memanfaatkan momen kehadiran Max Verstappen di balapan pamungkas GT World Challenge Europe (GTWC) di Portimao untuk melancarkan sindiran tajam terhadap Formula 1. Menurut Thiim, juara dunia empat kali itu lebih memilih mengendarai mobil balap yang sesungguhnya ketimbang harus berkompromi dengan teknologi elektrifikasi yang kini melekat pada jet darat.
Kritik tersebut bukan tanpa dasar. Regulasi power unit F1 2026 yang menetapkan pembagian tenaga 50:50 antara mesin pembakaran internal dan komponen listrik telah menuai banyak protes dari para pembalap, termasuk Verstappen sendiri. Polemik ini memaksa F1 menggelar revisi aturan pada 2027 dan setelahnya, meski untuk saat ini para penggemar harus menerima kenyataan bahwa mobil F1 generasi baru belum sepenuhnya sesuai ekspektasi.
Thiim, yang akan memulai balapan dari posisi kesembilan bersama tim Comtoyou Racing, menyampaikan pujiannya kepada Verstappen sambil menyelipkan olok-olok terhadap F1. “Sangat menyenangkan dia ada di sini. Saya suka pola pikir balapnya—dia hanya ingin keluar dan balapan apa pun yang bisa dikendarainya,” ujar pembalap asal Denmark itu. “Dia mungkin ingin mengendarai mobil balap yang sesungguhnya, bukan benda-benda listrik yang selama ini dia kendarai!”
Pernyataan Thiim mewakili sentimen yang lebih luas di paddock GTWC. Verstappen, yang tampil sebagai pembalap tamu di seri penutup musim ini, dianggap membawa perhatian yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi kejuaraan yang selama ini dikenal dengan persaingan ketat GT3 tetapi kurang mendapat sorotan arus utama. Kehadiran sang bintang F1 diyakini mampu menarik minat generasi muda dan memperluas basis penggemar.
“Saya sangat menghormati Max. Dia sebenarnya tidak punya apa pun untuk dibuktikan di sini, datang untuk bermain dengan kami di GT World. Ini juga menunjukkan level kompetisi kami,” kata Jordan Pepper, pembalap pabrikan BMW yang akan start dari posisi ke-14.
Pepper menambahkan bahwa Verstappen adalah pembalap terbaik generasinya, terlepas dari ajang apa pun yang ia masuki. “Dia membuktikannya di Nurburgring tahun ini. Sangat keren bahwa di akhir pekan liburnya dia datang ke GT dan menyorotkan lampu pada apa yang kami miliki di sini. Seri ini terus berkembang setiap tahun. Baru saja Anda pikir tidak bisa lebih baik, kompetisinya malah semakin tinggi,” ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin bagaimana ajang balap nasional perlu berbenah. Kehadiran bintang sekelas Verstappen di GTWC menunjukkan bahwa daya tarik sebuah kejuaraan tidak hanya ditentukan oleh level kompetisi, tetapi juga oleh narasi dan tokoh yang terlibat. Seri balap seperti GT World Challenge Asia yang rutin digelar di Sirkuit Mandalika memiliki peluang serupa untuk mendongkrak popularitas jika mampu menghadirkan pembalap papan atas atau membangun cerita yang kuat di sekitar kompetisi.
Ke depan, apakah sindiran Thiim akan menggema menjadi kritik kolektif terhadap arah teknologi F1, atau justru menjadi pemicu bagi GTWC untuk terus menaikkan profilnya di peta balap dunia? Yang jelas, perdebatan tentang mobil balap “sesungguhnya” versus “listrik” akan terus berlanjut seiring transisi energi yang tak terhindarkan.



