Tiga Kekalahan di Brasil, Hector Souto Sebut Timnas Futsal Indonesia Panen Pengalaman
Baca dalam 60 detik
- Timnas futsal Indonesia menutup Copa das Nacoes de Futsal 2026 dengan rekor tiga kekalahan beruntun, terakhir 1-2 dari Peru.
- Pelatih Hector Souto menilai turnamen ini mempercepat pendewasaan 15-20 pemain karena berhadapan langsung dengan tim-tim kelas dunia.
- Fokus berikutnya adalah kualifikasi Piala Asia, dengan para pemain diminta membawa pengalaman dari Spanyol dan Brasil ke klub masing-masing.

Timnas futsal Indonesia mengakhiri petualangan di Copa das Nacoes de Futsal 2026 tanpa satu pun kemenangan. Setelah takluk 0-3 dari Brasil dan 0-2 dari Tanjung Verde di fase grup, skuad asuhan Hector Souto kembali menelan kekalahan tipis 1-2 dari Peru pada laga klasifikasi peringkat kelima dan keenam, Minggu (18/10/2026) dini hari WIB. Gol tunggal Yogi Saputra sempat memperkecil kedudukan setelah tim sempat tertinggal dua gol lebih dulu, namun tidak cukup untuk menghindari kekalahan ketiga.
Meski demikian, Souto menolak melihat hasil tersebut sebagai kegagalan semata. Pelatih asal Spanyol itu justru menyoroti perkembangan signifikan yang dialami para pemainnya setelah menjalani dua tahap persiapan intensif: pemusatan latihan dan uji coba di Spanyol, lalu berlaga di turnamen bergengsi di Brasil. Menurutnya, pengalaman bertemu klub-klub kuat Eropa dan tim nasional Amerika Selatan telah mempercepat proses pembelajaran, terutama dalam hal membaca tempo permainan dan mengambil keputusan di bawah tekanan.
Dalam analisisnya, Souto menegaskan bahwa mental juara tidak dibangun sekadar lewat motivasi verbal. Ia menekankan pentingnya latihan sistematis, pemahaman taktik yang mendalam, kemampuan pengambilan keputusan cepat, serta analisis lawan yang cermat. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi kepelatihan modern yang menempatkan proses di atas hasil instan, terutama bagi tim yang sedang mengejar ketertinggalan dari negara-negara dengan tradisi futsal mapan.
"Kami tidak bisa berpura-pura datang dari Asia lalu langsung mengungguli semua tim nasional di Eropa dan Amerika Selatan. Kami perlu memahami realitas, bekerja untuk ekosistem futsal yang lebih baik, dan itu akan menentukan masa depan para pemain," ujar Souto, seperti dikutip dari pernyataannya setelah laga.
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa pembenahan fundamental—mulai dari pembinaan usia muda, kualitas kompetisi domestik, hingga dukungan fasilitas—menjadi kunci agar prestasi di level internasional tidak sekadar bergantung pada semangat sesaat. Souto juga menyadari ekspektasi tinggi publik Indonesia yang selalu mendambakan kemenangan. Namun, ia mengajak melihat lebih jernih: timnya tampil solid dalam bertahan saat melawan Brasil, mampu menguasai permainan ketika menghadapi Tanjung Verde, dan kembali menunjukkan penguasaan bola yang baik kontra Peru. Bagi sang pelatih, aspek permainan itulah yang menjadi indikator kemajuan, bukan semata skor akhir.
Kekalahan dari Peru memang memperpanjang catatan tanpa kemenangan Indonesia di turnamen ini. Namun, jika ditarik ke belakang, partisipasi di Copa das Nacoes de Futsal 2026 merupakan bagian dari strategi jangka panjang yang dirancang Souto sejak awal. Ia ingin para pemain terbiasa dengan intensitas dan fisik permainan level atas, sehingga ketika kembali memperkuat klub masing-masing, mereka dapat menularkan standar baru ke lingkungan latihan sehari-hari. Souto berharap proses ini akan berbuah ketika timnas kembali berkumpul untuk menghadapi agenda resmi, terutama kualifikasi Piala Asia yang menjadi target utama berikutnya.
Dengan tiga kekalahan tersebut, Indonesia harus puas menempati posisi keenam. Meski demikian, nilai edukasi dari turnamen ini jauh lebih berharga daripada sekadar peringkat. Para pemain kini memiliki referensi konkret tentang kecepatan transisi, disiplin taktik, dan efektivitas penyelesaian akhir yang menjadi standar tim-tim elite. Souto menegaskan bahwa para pemain akan segera kembali ke klub untuk mengasah kemampuan individu, sebelum nantinya kembali ke timnas dengan bekal pengalaman dari Spanyol dan Brasil. Ia optimistis, dengan ekosistem yang terus diperbaiki, Indonesia akan tampil lebih lengkap dan kompetitif di masa depan.
Pertanyaannya kini: mampukah pengalaman pahit di Brasil ini menjadi fondasi bagi kebangkitan futsal Indonesia di kualifikasi Piala Asia, atau justru sebaliknya—menjadi pengingat bahwa jarak dengan negara-negara top masih cukup lebar untuk dikejar dalam waktu singkat?



