Kakak Nicky Astria Resmi Pimpin Asprov PSSI Jabar, Fokus Benahi Pembinaan Usia Dini
Baca dalam 60 detik
- Buki Wibawa Karya Guna terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Asprov PSSI Jawa Barat periode 2026-2030 dalam Kongres Luar Biasa di Bandung.
- Dukungan 95 voters dan mundurnya dua kandidat lain, Tommy Apriantono dan Muhammad Farhan, memperkuat legitimasi kepemimpinannya.
- Agenda utama: integrasi program pembinaan dari pusat hingga desa, penambahan pelatih lisensi D, dan perbaikan infrastruktur lapangan.

Buki Wibawa Karya Guna resmi memimpin Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Barat untuk empat tahun ke depan setelah terpilih secara aklamasi dalam Kongres Luar Biasa di Hotel Horison, Bandung, Sabtu (17/10/2026). Pria yang juga menjabat Ketua DPRD Jawa Barat ini menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang oleh Plt. Ketua, Vivi Cahyani, dan langsung dihadapkan pada tuntutan mempercepat pembenahan pembinaan sepak bola di provinsi dengan populasi sekitar 50 juta jiwa tersebut.
Pemilihan berlangsung tanpa kompetisi berarti setelah dua kandidat lain, Prof. Tommy Apriantono dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, memilih mundur dan mendukung Buki. Dukungan dari 95 pemilik suara menjadi modal politik yang kuat bagi Buki untuk menjalankan program-programnya. Dalam pidato pertamanya, ia menyatakan bahwa kepercayaan ini merupakan amanah yang harus dibayar dengan kerja nyata, terutama dalam membangun ekosistem sepak bola yang berkelanjutan.
Jawa Barat selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pemain nasional. Klub-klub seperti Persib Bandung dan sejumlah tim Liga 1 lainnya kerap menyumbang talenta ke Timnas Indonesia. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada konsistensi pembinaan di tingkat akar rumput. Buki menyadari bahwa tanpa integrasi program dari pusat hingga desa, potensi besar itu tidak akan terkelola optimal. Ia pun berkomitmen menyelaraskan kebijakan PSSI pusat dengan kebutuhan riil di daerah, termasuk di wilayah pedesaan yang selama ini minim sentuhan pembinaan.
Dalam kesempatan itu, Buki juga menyoroti peran Vivi Cahyani yang dinilainya telah melakukan terobosan dalam waktu kurang dari satu tahun. "Banyak hal yang sudah dilakukan Plt. Ketua PSSI Provinsi Jawa Barat," ujarnya. Ia berharap keberlanjutan program yang sudah dirintis dapat diperkuat, bukan dimulai dari nol. Salah satu fokus yang akan ia dorong adalah penambahan jumlah pelatih berkualitas, mengingat luasnya wilayah dan besarnya basis pemain di Jawa Barat.
"PSSI pusat tentu perlu terus mendukung pembinaan di daerah. Program nasional harus disinkronkan sampai ke tingkat desa, dan itu membutuhkan dukungan, terutama dari sisi pelatih," kata Buki Wibawa.
Selain kuantitas pelatih, Buki menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta perbaikan infrastruktur dan sarana-prasarana lapangan. Menurutnya, tanpa fasilitas memadai, pembinaan usia dini tidak akan berjalan maksimal. Ia pun berencana mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah dan swasta untuk mengatasi keterbatasan lahan dan fasilitas olahraga di berbagai kabupaten/kota.
Perjalanan sepak bola Buki sendiri tidak lepas dari UNI, klub yang juga menaungi sekolah sepak bola (SSB) dan memiliki sejarah panjang sejak 1903. Ia berharap kisah UNI yang telah melahirkan banyak legenda dan menjadi pemasok pemain untuk Persib dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan SSB di seluruh Jawa Barat. "UNI juga menjadi pemasok pemain untuk Persib dan telah melahirkan banyak legenda sepak bola," tuturnya.
Dengan kepemimpinan baru ini, publik sepak bola Jawa Barat menaruh harapan besar pada percepatan pembinaan yang lebih terstruktur. Pertanyaannya, mampukah Buki menerjemahkan dukungan politik yang solid menjadi terobosan nyata di lapangan, terutama dalam menjangkau desa-desa terpencil yang selama ini menjadi kantong talenta tersembunyi? Jawabannya akan terlihat dari seberapa cepat program lisensi D dan pembangunan infrastruktur berjalan di lapangan.



