PSIM Pecat Van Gastel, Suporter Minta Kebangkitan Laskar Mataram
Baca dalam 60 detik
- Manajemen PSIM Yogyakarta mengakhiri kerja sama dengan pelatih Jean-Paul van Gastel setelah rentetan hasil buruk di BRI Super League 2026/2027.
- Brajamusti dan The Maident menyambut keputusan tersebut, berharap pergantian pelatih menjadi titik balik untuk memperbaiki performa tim.
- Suporter menuntut minimal enam poin dari tiga laga melawan PSM Makassar, Bhayangkara FC, dan IsenMulang, namun target itu mulai meleset setelah kalah dari PSM.

PSIM Yogyakarta resmi berpisah dengan pelatih kepala Jean-Paul van Gastel setelah serangkaian hasil buruk di BRI Super League 2026/2027. Keputusan itu diumumkan langsung oleh Direktur Utama PSIM, Liana Tasno, di Gedung Graha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, dan langsung menuai respons dari dua kelompok suporter besar, Brajamusti dan The Maident.
Presiden Brajamusti, RM Satrio Wijayanto, menilai pemecatan tersebut sebagai konsekuensi logis dari rapor merah tim. Menurutnya, performa PSIM sejak musim lalu hingga laga terakhir sangat jauh dari harapan. “Dari 21 pertandingan, hanya tiga kemenangan yang diraih. Kami patut bersyukur manajemen mengambil langkah tegas karena performa tim tidak kunjung membaik,” ujar Satrio, Sabtu (17/10/2026).
Senada dengan Satrio, Ketua Umum The Maident, Rendy Agung Prasetya, berharap keputusan manajemen menjadi momentum kebangkitan Laskar Mataram. Ia mengaku telah mendengar langsung penjelasan dari Liana Tasno dan menilai manajemen telah mendengar aspirasi suporter. “Perjalanan PSIM musim ini sangat tidak baik. Semoga dengan pergantian ini, tim bisa kembali on the track karena masih ada sekitar 12 laga di putaran pertama,” kata Rendy.
Kekecewaan suporter sebenarnya sudah memuncak sebelum laga melawan PSM Makassar. Dalam pertemuan guyub sedulur bersama manajemen, perwakilan suporter meminta tim setidaknya mengamankan enam poin dari tiga pertandingan yang dianggap krusial. Namun, harapan itu langsung pupus setelah PSIM takluk dari PSM. “Yang tiga poin sudah lewat karena kalah dari PSM. Kami berharap pemain segera merespons positif pertandingan berikutnya,” jelas Rendy.
Meski kecewa, Brajamusti menegaskan dukungan penuh kepada tim. Satrio berpesan agar para pemain tetap semangat dan tidak terpengaruh tekanan. “Kami akan selalu mendukung PSIM di Liga 1, apa pun yang terjadi. Pesan saya untuk pemain, tetap semangat, kami ada di samping kalian,” tuturnya.
Pergantian pelatih di tengah kompetisi memang bukan hal ideal, tetapi manajemen PSIM menilai evaluasi menyeluruh diperlukan untuk menyelamatkan musim. Dengan 12 laga tersisa di putaran pertama, waktu bagi pelatih anyar untuk membenahi skuad terbilang sempit. Tantangan terdekat adalah menghadapi Bhayangkara FC dan IsenMulang, dua laga yang oleh suporter dianggap sebagai ujian berat.
Ke depan, publik Yogyakarta akan menyoroti apakah keputusan manajemen ini benar-benar menjadi titik balik atau justru menambah ketidakpastian. Yang jelas, tekanan kini beralih ke ruang ganti dan jajaran pelatih baru: mampu memanfaatkan sisa putaran pertama untuk merangkak naik, atau justru terpuruk lebih dalam.



