Bending Spoons Borong Software Terlantar, Berkshire Hathaway Pasang Taruhan Rp14 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Bending Spoons, perusahaan induk asal Milan, mengakuisisi software SaaS yang tergerus era AI seperti Airtable dan Miro dengan harga diskon besar.
- Berkshire Hathaway menambah investasi US$330 juta, mengangkat total komitmennya menjadi lebih dari US$900 juta dan memicu lonjakan saham Bending Spoons hingga 41%.
- Model bisnis akuisisi-tanpa-exit ala Buffett ini diuji oleh pasar: pendapatan naik dua kali lipat, tetapi pemutusan hubungan kerja massal dan kenaikan harga berisiko memicu resistensi pelanggan.

Bending Spoons, perusahaan induk yang berbasis di Milan, Italia, kini menjadi magnet bagi software-software mapan yang tersingkir oleh gelombang kecerdasan buatan. Langkah ekspansinya mendapat restu dari Berkshire Hathaway, konglomerat milik Warren Buffett, yang pekan ini menambah kepemilikan saham senilai US$330 juta atau sekitar Rp5,1 triliun (asumsi kurs Rp15.500/US$). Total dana yang ditanam Berkshire di perusahaan itu telah melampaui US$900 juta atau sekitar Rp14 triliun.
Pasar merespons positif. Saham Bending Spoons yang tercatat di Nasdaq sempat melonjak 41% sebelum sebagian kenaikannya terkoreksi, menyisakan kapitalisasi pasar sekitar US$30 miliar. Menurut analis Mizuho, langkah Berkshire menambah porsi hanya beberapa bulan setelah penawaran umum perdana (IPO) menunjukkan keyakinan terhadap model bisnis Bending Spoons yang berbeda dari firma ekuitas swasta konvensional.
Bending Spoons bukan pemain baru di dunia akuisisi. Sejak 2022, perusahaan ini mencaplok Evernote, Brightcove, Vimeo, AOL, dan Eventbrite. Yang terbaru, mereka mengakuisisi Airtable senilai sekitar US$1,3 miliar—hampir 90% di bawah valuasi puncaknya pada akhir 2021—dan Miro dengan harga US$1,36 miliar, jauh dari valuasi US$17,5 miliar yang pernah disandangnya.
Model bisnis Bending Spoons memang berseberangan dengan firma private equity seperti Thoma Bravo atau Vista Equity Partners. Jika PE tradisional membeli perusahaan undervalued untuk later dijual kembali atau dibawa ke bursa, Bending Spoons memilih mengelola sendiri, memangkas biaya, dan memeras laba—mirip pendekatan Buffett. Namun ada perbedaan krusial: Bending Spoons tidak sekadar memegang saham, tetapi ikut mengoperasikan produk dan mengambil keputusan personel.
Konsekuensinya, pemutusan hubungan kerja menjadi bagian tak terpisahkan. Setelah mengakuisisi Airtable, Bending Spoons menyatakan "sebagian besar tim pra-akuisisi" akan meninggalkan perusahaan dengan pesangon besar. Langkah serupa pernah diterapkan di Evernote, Vimeo, dan WeTransfer. Bagi sebagian pengamat, ini adalah harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan aset yang sudah kehilangan relevansi.
"Mereka sangat piawai menemukan produk yang punya nilai tinggi dan biaya beralih yang mahal. Harga langganan tidak terlalu tinggi dibandingkan biaya pindah ke aplikasi lain," ujar Lloyd Walmsley, analis Mizuho, menggambarkan strategi penetapan harga Bending Spoons.
Walmsley mencontohkan kenaikan tarif Evernote: dari US$70 menjadi US$130 per tahun pada 2023, lalu menjadi US$100 untuk paket starter dan US$250 untuk paket advanced. Meski sempat berencana beralih ke OneNote, ia memilih bertahan karena biaya migrasi data terasa lebih mahal.
Bagi industri teknologi global, manuver Bending Spoons mencerminkan pergeseran lanskap yang lebih luas. Fenomena "SaaSpocalypse"—istilah untuk tekanan hebat terhadap saham software-as-a-service—telah membuat pemain seperti HubSpot dan Adobe kehilangan setidaknya 30% nilai pasar sepanjang tahun ini. Perusahaan rintisan SaaS yang dulu digadang-gadang kini sulit mendapat pendanaan, sementara pasar publik enggan menampung IPO mereka. Di celah itulah Bending Spoons masuk.
Namun, taruhan Berkshire dan investor lain belum terbukti. Produk-produk yang diakuisisi harus tetap diminati pelanggan di tengah tekanan margin akibat AI. Laporan keuangan kuartal mendatang—setelah Airtable dan Miro masuk portofolio—akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika pendapatan tetap tumbuh dari akuisisi, bukan dari inovasi organik, model ini hanya akan menjadi versi lain dari konsolidasi aset yang rapuh.
Pertanyaan ke depan: mampukah Bending Spoons membuktikan bahwa efisiensi dan kenaikan harga bisa berjalan seiring dengan loyalitas pelanggan, ataukah mereka hanya menunda kejatuhan software-software yang sudah kehilangan relevansi di era AI? Jawabannya akan terlihat dari gelagat pelanggan dan angka pertumbuhan dalam beberapa kuartal mendatang.



