AI Claude Bongkar Misteri 25 Tahun Seed NSA, Bitcoin Tetap Aman?
Baca dalam 60 detik
- Model AI Claude dari Anthropic berhasil mengungkap asal-usul angka seed kurva NIST yang disuplai NSA pada 1997-1998, sebuah teka-teki kriptografi yang tak terpecahkan selama seperempat abad.
- Temuan ini sekaligus meredakan kekhawatiran lama tentang backdoor NSA di standar enkripsi internet, namun tidak berdampak pada Bitcoin yang memakai kurva secp256k1 dengan parameter sederhana.
- Ke depan, transparansi algoritma kriptografi menjadi sorotan, sementara ancaman komputasi kuantum tetap menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi industri aset digital.

Seorang karyawan Anthropic meminta model AI internal perusahaan, Claude, menyelidiki asal-usul angka seed yang dipasok National Security Agency (NSA) ke National Institute of Standards and Technology (NIST) pada akhir 1990-an. Dalam waktu kurang dari 30 menit, model tersebut menemukan bahwa angka-angka itu dihasilkan oleh lrand48, sebuah pembangkit bilangan acak sederhana yang berbasis di pustaka bahasa C lawas, dengan timestamp dari 1997 dan 1998. Temuan ini menjawab teka-teki yang telah membingungkan kriptografer selama 25 tahun.
Kisahnya bermula pada 2000, ketika NIST mengadopsi seperangkat kurva eliptik yang disuplai NSA untuk standar enkripsi. NSA tidak pernah menjelaskan bagaimana angka seed itu dipilih, memicu spekulasi bahwa badan tersebut sengaja mencari kurva dengan kelemahan tersembunyi yang hanya bisa dieksploitasi oleh mereka. Kecurigaan semakin kuat setelah Edward Snowden membocorkan keterlibatan NSA dalam melemahkan standar kriptografi, termasuk generator acak Dual EC yang kemudian dicabut NIST dari rekomendasinya.
Upaya mengungkap misteri ini telah melibatkan banyak pihak. Kriptografer Neal Koblitz dan Alfred Menezes membahasnya dalam makalah 2015 berjudul “A Riddle Wrapped in an Enigma”. Peneliti keamanan Steve Weis mengajukan permintaan publik pada 2018, tetapi NIST mengaku tidak memiliki dokumentasi dan NSA berhenti merespons. Pada 2023, insinyur kriptografi Filippo Valsorda dan kontributor lain menawarkan hadiah mulai dari $12.288 hingga lebih dari $36.000 jika pemenangnya menyumbangkannya ke badan amal. Matematikawan NSA, Jerry Solinas, yang mengirimkan seed itu pada 1997, meninggal dunia pada tahun yang sama, membawa serta penjelasan yang tak sempat terungkap.
Bagi pengguna internet sehari-hari, temuan ini membawa kabar baik. Anthropic menegaskan bahwa pengguna kurva NIST tidak perlu mengubah apa pun. Siapa pun kini dapat menjalankan program yang sama untuk mereproduksi angka yang dipublikasikan NSA, sehingga potensi kelemahan tersembunyi menjadi jauh lebih kecil. Meski demikian, tim Anthropic masih belum bisa menjelaskan mengapa program tersebut melewati beberapa kandidat yang seharusnya bisa dipakai, atau bagaimana bagian lain dari kurva dipilih.
“Ini menakjubkan: ia memecahkan misteri 25 tahun,” tulis model tersebut dalam catatan penalarannya, setelah sempat meragukan apakah ia sedang bekerja dalam simulasi. “Semua bit teratas bersih—20 bit, peluang 1e-6. Jadi ini memang dunia nyata.”
Yang tak kalah penting, Bitcoin sama sekali tidak terlibat dalam teka-teki ini. Dompet Bitcoin menggunakan kurva secp256k1 yang dibangun dari persamaan lebih sederhana. Berbeda dengan P-256 yang menyimpan bilangan 77 digit dari seed NSA, secp256k1 hanya memiliki dua parameter kecil tetap, sehingga kecil kemungkinan ada pihak yang diam-diam menyisipkan kelemahan. Satoshi Nakamoto tidak pernah menjelaskan alasan memilih kurva itu, tetapi para kriptografer lama menganggap kesederhanaannya sebagai nilai plus. Ethereum kemudian mengadopsi kurva yang sama, dan Bitcoin mempertahankannya saat peningkatan Taproot pada 2021.
Meski misteri seed NSA terpecahkan, ancaman lain membayangi: komputasi kuantum. Komputer kuantum yang cukup kuat dapat bekerja mundur dari kunci publik yang terlihat di blockchain Bitcoin untuk menemukan kunci privat, terlepas dari bagaimana kurva dipilih. Google pekan ini mengumumkan bahwa chip Willow miliknya memangkas tingkat kesalahan hingga sekitar 40 kali lipat pada salah satu langkah paling mahal yang dibutuhkan mesin semacam itu. Namun, belum ada komputer kuantum yang cukup besar atau andal untuk memecahkan kunci Bitcoin, dan belum ada tenggat waktu yang jelas.
Di Indonesia, diskusi tentang kriptografi dan keamanan digital semakin relevan seiring pertumbuhan adopsi aset kripto dan layanan keuangan digital. Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong literasi keamanan siber, sementara pelaku industri dompet digital perlu memastikan bahwa algoritma yang mereka gunakan tidak bergantung pada parameter yang tidak transparan. Kasus seed NSA ini menjadi pelajaran berharga: standar enkripsi yang tidak dapat diaudit publik selalu menyisakan ruang curiga, dan transparansi adalah kunci kepercayaan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah NSA menyembunyikan backdoor di kurva NIST, melainkan seberapa cepat industri kripto dan lembaga standar global beralih ke algoritma yang tahan kuantum. Dengan hadiah yang kini mengalir ke Let’s Encrypt, setidaknya satu utang sejarah kriptografi telah lunas. Namun, perlombaan melawan komputer kuantum baru saja dimulai, dan siapa pun yang mengabaikannya berisiko kehilangan asetnya di masa depan.



