Deforestasi Amazon Cetak Rekor Terendah, tetapi Pilpres Brasil 25 Oktober Jadi Penentu
Baca dalam 60 detik
- Data satelit Prodes menunjukkan pembukaan hutan Amazon turun 41,8% menjadi 3.335 km persegi, level terendah sejak pengukuran dimulai 1988.
- Pemilu run-off Brasil 25 Oktober mempertemukan Lula da Silva dan Flávio Bolsonaro yang memiliki visi bertolak belakang soal Amazon dan hubungan dengan AS.
- Kawasan Cerrado juga mencatat deforestasi terendah sejak 2001, menandakan kebijakan penegakan hukum lingkungan mulai berdampak lebih luas.

Deforestasi di Amazon Brasil mencapai titik terendah sepanjang sejarah pencatatan pada 2026, menurut data satelit pemerintah yang dirilis Jumat (16/10/2026). Capaian ini menjadi modal politik bagi Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva, tetapi nasib hutan hujan terbesar dunia itu kini bergantung pada hasil pemilihan presiden putaran kedua pada 25 Oktober mendatang.
Data Prodes yang dikelola Institut Riset Antariksa Nasional Brasil (INPE) mencatat pembukaan lahan di Amazon turun 41,8% dalam setahun terakhir menjadi 3.335 kilometer persegi. Angka itu lebih rendah 1.236 km persegi dari rekor sebelumnya, setara luas wilayah Kota Rio de Janeiro. Sejak 2022, atau setahun sebelum Lula menjabat, laju deforestasi telah melambat 71,2% berkat pengetatan penegakan hukum dan peningkatan anggaran lembaga lingkungan.
Meski demikian, keberhasilan ini tidak serta-merta mengamankan masa depan Amazon. Lula, yang pada putaran pertama justru tertinggal, harus bersaing dengan Flávio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro. Flávio secara terbuka mengadopsi pendekatan ayahnya yang berpihak pada pemilik lahan besar dan kepentingan ekstraktif, serta mengabaikan krisis iklim dalam manifesto kampanyenya.
Perbandingan dengan era Jair Bolsonaro (2019–2023) sangat kontras. Pada periode itu, deforestasi Amazon melonjak 59,5%, setara dengan penebangan lebih dari satu juta pohon per hari, akibat pemangkasan anggaran lembaga perlindungan hutan dan longgarnya penindakan kejahatan lingkungan. Kini, bahkan di negara bagian dengan catatan terburuk seperti Pará dan Mato Grosso, angka deforestasi turun lebih dari 45% dibanding tahun sebelumnya. Hanya Roraima, basis pendukung Bolsonaro, yang mencatat kenaikan tipis 0,4%.
Di luar Amazon, biome Cerrado yang selama ini dianggap sebagai kawasan kompensasi bagi ekspansi kedelai dan peternakan juga mencatat deforestasi terendah sejak 2001, yakni 5.516 km persegi. Dalam empat tahun terakhir, deforestasi di Cerrado turun 48,4%. Perbaikan di dua biome ini menunjukkan bahwa kebijakan penegakan hukum lingkungan mulai berdampak sistemik, bukan hanya simbolis.
"Angka ini membuktikan bahwa menghentikan perusakan hutan di Brasil sepenuhnya mungkin dilakukan. Namun, semuanya bergantung pada hasil pemilu. Negara ini akan menentukan apakah kita menuju akhir deforestasi atau akhir dari hutan," kata Marcio Astrini, sekretaris eksekutif Climate Observatory.
Peta elektoral di wilayah Amazon memperlihatkan polarisasi yang tajam. Flávio Bolsonaro meraup suara terbanyak di sekitar kawasan hutan terdegradasi, tambang, peternakan, dan monokultur kedelai, sementara Lula unggul di kota-kota besar dan area hutan yang relatif utuh. Perbedaan visi juga tercermin dalam hubungan dengan Amerika Serikat. Lula menuduh Presiden AS Donald Trump berupaya mengolonisasi Brasil dan menguasai sumber dayanya, sedangkan keluarga Bolsonaro memiliki kedekatan erat dengan Washington. Eduardo Bolsonaro, saudara Flávio, bahkan menyerukan agar AS menjatuhkan tarif hukuman terhadap Brasil.
Jika keluarga Bolsonaro kembali berkuasa, prioritas perdagangan Brasil diperkirakan bergeser, terutama untuk mineral kritis, dari China dan Eropa ke AS. Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok kanan jauh diprediksi akan mengeksploitasi sumber daya alam Amazon tanpa memedulikan dampak lingkungan dan sosial. Mantan Menteri Lingkungan Marina Silva memperingatkan bahwa Flávio akan melanjutkan "proyek sesat" ayahnya untuk menghancurkan Amazon.
Konteks Indonesia: Bagi Jakarta, dinamika ini relevan karena Brasil adalah pesaing utama dalam ekspor komoditas seperti kedelai, daging sapi, dan bijih besi, sekaligus mitra dalam forum multilateral seperti G20 dan BRICS. Kebijakan lingkungan Brasil yang fluktuatif dapat memengaruhi harga komoditas global dan tekanan terhadap komitmen iklim negara berkembang. Indonesia, yang juga menghadapi tantangan deforestasi di Kalimantan dan Sumatra, dapat mengambil pelajaran dari keberhasilan Brasil menekan laju pembukaan hutan melalui penegakan hukum dan investasi kelembagaan.
Dengan hasil pemilu yang masih terbuka, pertanyaan besarnya: akankah Brasil mempertahankan jalur penurunan deforestasi, atau justru membalikkan capaian bersejarah ini demi kepentingan ekonomi jangka pendek? Dunia, termasuk Indonesia, akan menyaksikan apakah komitmen iklim Brasil bertahan di bawah tekanan politik domestik.



