Bantul Cetak Rekor Hari Tanpa Hujan 161 Hari, Sinyal Kemarau Ekstrem Meluas
Baca dalam 60 detik
- BMKG mencatat BPP Pajangan, Bantul, sebagai wilayah dengan hari tanpa hujan terpanjang di Indonesia, mencapai 161 hari per awal Oktober 2026.
- El Nino level sangat kuat menunda awal musim hujan DIY hingga 30 hari dan memicu suhu maksimum 35,2 derajat Celsius.
- Rekor HTH 2015 yang mencapai 245 hari masih menjadi acuan; BMKG meminta masyarakat waspada cuaca ekstrem dan dehidrasi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai wilayah dengan periode hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Indonesia pada kemarau 2026. Hingga dasarian pertama Oktober, pos tersebut tidak mengalami hujan selama 161 hari berturut-turut. Angka ini menjadi alarm bagi sektor pertanian dan pengelolaan air di kawasan selatan Jawa.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II BMKG Yogyakarta, Mamenun, menjelaskan bahwa rekor tersebut muncul dari kombinasi musim kemarau dan El Nino yang masih berada pada level sangat kuat. "Untuk HTH memang selama musim kemarau dan ditambah untuk saat ini, El Nino masih di level sangat kuat," ujarnya saat dihubungi Jumat (16/10).
Selain BPP Pajangan, pos pengamatan SDA Pundong mencatat 159 hari tanpa hujan. Mamenun menambahkan bahwa hampir seluruh pos di DIY telah melewati 60 hari kering, meskipun durasinya bervariasi. Meski demikian, catatan tahun ini belum melampaui rekor 2015 yang mencapai 245 hari.
Dampak kemarau panjang tidak hanya terasa pada kekeringan lahan, tetapi juga pada lonjakan suhu. Stasiun Klimatologi DIY mencatat suhu maksimum 35,2 derajat Celsius pada 3 Oktober 2026, tertinggi sepanjang tahun ini. Mamenun memperingatkan bahwa potensi panas masih tinggi hingga akhir Oktober.
Menurut BMKG, posisi gerak semu matahari yang berada di selatan ekuator dan melintasi Pulau Jawa menyebabkan radiasi matahari diterima secara maksimal. Minimnya tutupan awan memperparah intensitas sinar matahari ke permukaan, diperkuat oleh musim kemarau dan El Nino yang mengurangi peluang hujan. Kelembapan udara yang rendah juga membuat sensasi panas lebih menyengat.
"El Nino masih pada level sangat kuat dan diprediksi masih bertahan hingga awal tahun 2027. Ini mundurnya terhadap klimatologisnya," kata Mamenun.
Prediksi awal musim hujan 2026/2027 di DIY juga mengalami kemunduran sekitar tiga dasarian atau 30 hari dari rata-rata klimatologis 1991-2020. Fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027, sehingga periode kering berpotensi lebih panjang dari biasanya. Bagi petani, keterlambatan ini berarti risiko gagal tanam dan penurunan produksi pangan semakin nyata.
Meski suhu tahun ini belum memecahkan rekor historis 36,8 derajat Celsius pada 12 Oktober 2024, BMKG tetap mengimbau masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem. Pada 13-19 Oktober 2026, hujan lebat, angin kencang, dan petir masih berpeluang terjadi secara lokal. Warga diminta membatasi aktivitas di bawah terik matahari, mencukupi kebutuhan air, dan menggunakan pelindung seperti topi, payung, serta tabir surya.
BMKG juga menekankan pentingnya mengenali tanda dehidrasi dan kelelahan akibat panas. Jika tubuh terasa lemas atau pusing setelah terpapar suhu tinggi, segera beristirahat di tempat sejuk. "Pantau informasi cuaca terkini dari BMKG. Mengenali suhu dan memahami iklim melalui data riwayat/historis suhu maksimum menjadi informasi penting untuk memahami karakteristik suhu wilayah D.I Yogyakarta dan mendukung kewaspadaan terhadap kondisi suhu panas," pungkas Mamenun.
Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah dan pusat akan mempercepat langkah mitigasi kekeringan sebelum dampak El Nino semakin luas? Tanpa antisipasi, rekor 161 hari tanpa hujan di Bantul bisa menjadi awal dari krisis air dan pangan yang lebih serius di Jawa bagian selatan.



