Topi Koboi Raksasa 23 Meter Akan Berdiri di Sirkuit F1 Austin, COTA Incar Rekor Guinness
Baca dalam 60 detik
- Circuit of the Americas (COTA) menyiapkan atraksi topi koboi setinggi 23 meter yang akan diresmikan pada Grand Prix Amerika Serikat.
- Struktur fiberglass ini akan menjadi bar bertema Barat dan berpotensi mencatatkan rekor dunia Guinness baru.
- Langkah tersebut menegaskan strategi sirkuit untuk menarik wisatawan sepanjang tahun, bukan hanya saat balapan berlangsung.

Circuit of the Americas (COTA) di Austin, Texas, akan segera memiliki ikon baru yang tidak biasa: sebuah topi koboi raksasa setinggi 75 kaki atau sekitar 23 meter. Atraksi ini dijadwalkan rampung sebelum Grand Prix Amerika Serikat dan akan diinspeksi oleh perwakilan Guinness World Records pada hari Kamis menjelang akhir pekan balapan. Jika terverifikasi, topi tersebut berpotensi menjadi rekor dunia untuk kategori topi koboi terbesar yang belum pernah ada sebelumnya.
Presiden COTA, Bobby Epstein, mengungkapkan bahwa gagasan ini muncul dari keinginan menghadirkan daya tarik wisata yang tetap dikenali publik meski ajang Formula 1 tidak sedang digelar. "Saya pikir sirkuit ini perlu memiliki atraksi turis dengan semacam rekor Guinness," ujarnya kepada The Athletic. Alih-alih mendirikan tenda biasa, Epstein memilih membangun topi koboi setinggi 75 kaki. Konstruksi dari fiberglass itu dikabarkan hampir selesai dan akan dilengkapi bar bertema Western di dalamnya, dapat diakses dari Lone Star Land, area penggemar bernuansa peternakan.
Langkah COTA ini bukan sekadar keisengan. Sirkuit balap di seluruh dunia berlomba menciptakan pengalaman di luar lintasan untuk memperpanjang masa tinggal penonton dan meningkatkan pendapatan non-tiket. Beberapa sirkuit F1 telah memiliki terowongan pitlane, marina buatan, hingga sirkuit jalanan di antara kasino. Topi raksasa ini menjadi cara COTA menonjolkan identitas lokal Texas yang kental dengan budaya koboi, sekaligus menciptakan penanda visual yang mudah diingat.
Epstein berharap topi ini tidak hanya menjadi properti musiman. Ia memperkirakan atraksi tersebut akan tetap berdiri sepanjang tahun, menjadikannya landmark permanen yang dapat dikunjungi wisatawan kapan saja. Lone Star Land sendiri selama ini dikenal sebagai zona penggemar dengan pertunjukan line dancing, demonstrasi tali, dan aneka topi Stetson. Kehadiran topi raksasa ini akan memperkuat tema tersebut dan berpotensi menarik lebih banyak pengunjung di luar kalender balap.
Meski belum ada kategori resmi untuk topi koboi terbesar di Guinness World Records, COTA optimistis dapat membuka kategori baru jika verifikasi berhasil. Sebagai perbandingan, rekor topi koboi terbanyak yang pernah tercatat adalah 39.013 orang di Angel Stadium, Anaheim, pada 2012. Jumlah itu bukan tidak mungkin didekati oleh tribun COTA jika para penonton kompak mengenakan Stetson. Sementara itu, patung sepatu koboi terbesar di San Antonio hanya setinggi 10,74 meter, sehingga topi COTA akan dua kali lebih menjulang.
Pada akhir pekan balapan nanti, perhatian juga akan tertuju pada Kimi Antonelli yang berpeluang mengunci gelar juara di Austin, serta Williams yang berencana memamerkan mobil show car bertema Marvel di zona penggemar. Kombinasi antara atraksi rekor dunia dan momen kompetitif di lintasan diperkirakan akan meningkatkan keramaian dan liputan media internasional.
Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin bagaimana sirkuit balap di dalam negeri, seperti Mandalika, dapat mengembangkan daya tarik non-balapan yang mengakar pada budaya lokal. Dengan memperkuat identitas daerah dan menghadirkan atraksi ikonik, sirkuit tidak hanya bergantung pada event tahunan, tetapi juga menciptakan aliran pendapatan berkelanjutan dari pariwisata. Pertanyaannya, akankah COTA benar-benar mencetak rekor Guinness, dan akankah sirkuit lain—termasuk di Asia Tenggara—meniru strategi serupa?



