Ajax Tumbang di Split, Maarten Paes Kembali Jadi Penonton Setia
Baca dalam 60 detik
- Ajax menelan kekalahan 1-2 dari Hajduk Split pada laga pembuka League Phase Conference League, sementara Maarten Paes tak kunjung mendapat menit bermain.
- Kiper Timnas Indonesia itu masih kalah bersaing dengan Marc-Andre ter Stegen yang tampil 10 kali, meski statistik kebobolan Paes lebih efisien.
- Keputusan pelatih Michel Sanchez memicu gelombang protes suporter di media sosial, sementara Ajax bersiap menghadapi Groningen di Eredivisie.

Ajax Amsterdam mengawali perjalanan di League Phase Conference League 2026/2027 dengan hasil pahit. Bertandang ke Stadion Poljud, Jumat (16/10/2026) dini hari WIB, De Godenzonen takluk 1-2 dari Hajduk Split. Kekalahan ini tidak hanya menempatkan Ajax di posisi ke-25 klasemen sementara dengan nol poin, tetapi juga mempertegas status Maarten Paes sebagai pilihan kedua di bawah mistar gawang.
Pelatih Michel Sanchez kembali mempercayakan posisi kiper kepada Marc-Andre ter Stegen. Keputusan itu diambil meski mantan penjaga gawang Barcelona tersebut kebobolan dua gol dalam laga tersebut. Tuan rumah membuka keunggulan lewat Abdoulie Sanyang pada menit ke-37. Ajax sempat menyamakan kedudukan melalui Davy Klaassen pada menit ke-53, namun Marin Soticek mencetak gol tiga menit berselang yang memastikan kemenangan Hajduk Split.
Bagi Paes, laga di Split menjadi catatan kelima dirinya hanya duduk di bangku cadangan di kompetisi Eropa musim ini. Kiper berusia 28 tahun itu tercatat baru tampil lima kali dari total 15 pertandingan Ajax di semua kompetisi, dengan rincian empat laga di kualifikasi Conference League dan satu di Eredivisie. Sementara Ter Stegen telah mengawal gawang dalam 10 pertandingan, termasuk tujuh laga liga domestik.
Secara statistik, perbandingan antara Paes dan Ter Stegen menjadi sorotan. Meski Ter Stegen mencatat dua nirbobol, rasio kebobolan per pertandingannya lebih tinggi dibanding Paes. Kiper Timnas Indonesia itu hanya kebobolan enam gol dalam lima laga, atau rata-rata 1,2 gol per pertandingan, sementara Ter Stegen rata-rata 1,6 gol per laga. Namun, Sanchez tampaknya lebih mengutamakan pengalaman dan reputasi Ter Stegen di level elite Eropa.
"Nama besar tidak seharusnya menjadi jaminan untuk terus menjadi pilihan utama. Lihat saja catatan kebobolan Paes yang lebih baik," tulis seorang warganet di kolom komentar akun media sosial Ajax, seperti dikutip dari Bola.com.
Keputusan Sanchez memicu reaksi keras dari suporter. Di unggahan hasil pertandingan, sejumlah pendukung menuntut agar Paes diberi kesempatan mengawal gawang. Mereka menilai performa Ter Stegen belum konsisten dan berpotensi merugikan tim. Sebagian lainnya mempertanyakan mengapa pelatih tetap bertahan dengan pilihan yang sama meski Ajax kembali menelan kekalahan.
Dari kacamata Timnas Indonesia, situasi ini menjadi perhatian tersendiri. Paes adalah kiper utama skuad Garuda dalam beberapa tahun terakhir. Minimnya menit bermain di level klub dikhawatirkan berdampak pada ketajaman instingnya menjelang agenda internasional. Namun, pelatih timnas, Shin Tae-yong, sebelumnya menegaskan bahwa kompetisi internal Ajax tetap menjadi tolok ukur utama untuk menjaga performa Paes.
Ajax kini harus segera mengalihkan fokus ke Eredivisie. Mereka akan bertandang ke markas Groningen di Stadion Euroborg pada pekan kesembilan, Minggu (18/10/2026) malam WIB. De Godenzonen saat ini menempati peringkat kelima dengan 15 poin dari delapan pertandingan. Meski belum terkalahkan dalam empat laga terakhir, Ajax hanya meraih hasil imbang dalam dua pertandingan beruntun.
Laga melawan Groningen menjadi kesempatan berikutnya bagi Paes untuk kembali mendapatkan menit bermain. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Michel Sanchez. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin spekulasi mengenai masa depan Paes di Amsterdam akan semakin memanas, terutama dengan jendela transfer musim dingin yang semakin dekat.
Pertanyaannya, apakah Sanchez akan memberikan kesempatan kepada Paes sebelum tekanan publik dan kebutuhan Timnas Indonesia memaksa perubahan? Ataukah Ter Stegen akan terus menjadi pilihan utama hingga kompetisi memasuki fase krusial?



