Tesla Roadster 2 Terbang Perdana, Musk Klaim Mobil Terbang Pertama di Dunia
Baca dalam 60 detik
- Elon Musk mendemonstrasikan Tesla Roadster 2 yang mampu terbang menggunakan thruster roket SpaceX di fasilitas uji coba Texas.
- Prototipe ini diklaim sebagai mobil terbang pertama di dunia, namun Musk mengakui legalitasnya belum jelas di banyak yurisdiksi.
- Produksi massal dijadwalkan 2028 dengan harga di atas US$200.000, sementara varian terbang penuh hanya tersedia lewat undangan.

Elon Musk secara resmi memperkenalkan Tesla Roadster 2 sebagai mobil terbang pertama di dunia dalam sebuah demonstrasi di fasilitas pengembangan roket SpaceX di Texas, Kamis (16/10/2026). Mobil sport dua kursi itu tidak hanya melaju di jalan, tetapi juga terbang, berputar, dan mendarat menggunakan thruster roket yang dikembangkan SpaceX.
Demonstrasi tersebut menandai babak baru dalam ambisi Musk menggabungkan teknologi otomotif dan antariksa. Roadster 2 diklaim mampu berakselerasi dari 0 hingga 60 mph dalam waktu kurang dari satu detikโsebuah rekor untuk kendaraan produksi. Dalam video yang beredar, mobil itu terlihat menaiki tanjakan melengkung dengan sistem pengisap agar bisa menempel terbalik, sebelum menyalakan thruster untuk bermanuver di udara.
Musk menegaskan bahwa prototipe ini dikendalikan dari jarak jauh untuk menghindari risiko kecelakaan. "Mobil terbang itu nyata. Ada kontrol ketinggian, thruster, dan thruster utama di belakang. Jadi pada dasarnya bisa terbang seperti roket, bisa melakukan roll, senam gila," ujarnya di hadapan penonton. Namun ia juga mengakui, "Saya tidak yakin ini legal di semua yurisdiksi," dan menambahkan bahwa prototipe tersebut "bukan mobil yang dioptimalkan untuk keselamatan, tapi ini meningkatkan keseruan ke level 11."
Sejarah menunjukkan Musk pernah meragukan masa depan mobil terbang. Pada 2014, ia menyatakan skeptisisme terhadap kendaraan semacam itu. Tiga tahun berselang, ia justru mengumumkan pengembangan Roadster 2 sebagai mobil sport listrik yang disebut akan "menghajar mobil bensin".
Langkah ini memicu pertanyaan besar tentang kesiapan regulasi global. Di banyak negara, termasuk Indonesia, hukum penerbangan dan lalu lintas darat belum mengakomodasi kendaraan yang bisa berpindah mode dari jalan raya ke udara. Otoritas penerbangan sipil di berbagai belahan dunia masih berpegang pada kerangka konvensional yang tidak membayangkan mobil pribadi mengudara.
"Ini bukan sekadar mobil cepat, tapi pernyataan bahwa batas antara transportasi darat dan udara semakin kabur. Regulasi akan menjadi penghambat utama, bukan teknologinya." โ pengamat otomotif dan teknologi, seperti dikutip dari sejumlah analis industri.
Bagi pasar otomotif global, kehadiran Roadster 2 mempertegas posisi Tesla sebagai pemain yang berani mendobrak pakem. Namun, dengan harga selangit dan status legal yang belum jelas, kendaraan ini lebih mungkin menjadi simbol prestise ketimbang produk massal dalam waktu dekat. Tesla sendiri menyatakan bahwa penerbangan tidak diizinkan di jalan umum, sehingga fungsi terbang hanya bisa dilakukan di area tertutup atau fasilitas khusus.
Di Indonesia, wacana mobil terbang sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir, sejumlah pihak swasta dan perguruan tinggi mengembangkan prototipe kendaraan udara pribadi, meski masih jauh dari tahap komersialisasi. Jika Roadster 2 benar-benar masuk produksi, Indonesia menghadapi tantangan ganda: menyiapkan infrastruktur dan merevisi regulasi lalu lintas serta penerbangan agar tidak tumpang tindih.
Pertanyaan besarnya, akankah mobil terbang menjadi standar baru mobilitas atau sekadar kemewahan eksperimental? Dengan target produksi 2028, Tesla masih punya waktu untuk meyakinkan regulator dan pasar bahwa visi ini bukan sekadar gimmick. Namun, seperti kata Musk sendiri, ini "bukan mobil yang dioptimalkan untuk keselamatan"โdan itu bisa menjadi ganjalan terbesar di meja otoritas.



