Rupiah India Terancam Tembus 100 per Dolar, RBI Kewalahan Hadapi Badai Eksternal
Baca dalam 60 detik
- RBI memperketat spekulasi valas dan menyediakan pasokan dolar khusus untuk BUMN minyak, tetapi rupee tetap diprediksi melemah ke 97-98 per dolar pada akhir 2026.
- Cadangan devisa India menyusut tajam dan import cover merosot ke level terendah sejak 2013, menandakan kerentanan struktural di tengah mahalnya harga minyak.
- Aliran modal asing keluar deras dari pasar saham India, memicu tekanan ganda pada neraca pembayaran dan memperbesar peluang sentuhan level 100.

Mata uang India, rupee, masih berada di jalur pelemahan meskipun bank sentral negara itu, Reserve Bank of India (RBI), menggelontorkan serangkaian intervensi agresif. Setelah sempat menyentuh level 96,79 per dolar AS, rupee berhasil bangkit ke kisaran 95 berkat langkah darurat RBI akhir pekan lalu. Namun, para strategist menilai pemulihan itu hanya sementara dan rupee berpotensi melemah menuju 100 per dolar AS pada pertengahan 2027.
Langkah RBI terbaru mencakup pembatasan rebooking kontrak derivatif valuta asing yang dibatalkan serta pembukaan jendela khusus untuk memenuhi kebutuhan dolar harian tiga perusahaan pemasaran minyak milik negara. Tujuan utamanya adalah mempersulit aksi spekulatif terhadap rupee dan memisahkan permintaan dolar dari pasar spot. Meski demikian, menurut Hanna Luchnikava-Schorsch, kepala ekonom Asia-Pasifik di S&P Global Market Intelligence, kebijakan itu tidak akan "sepenuhnya menetralkan tekanan fundamental dari harga minyak yang tinggi, defisit transaksi berjalan yang melebar, dan lingkungan arus modal global yang menantang."
Proyeksi S&P Global Market Intelligence menempatkan rupee di sekitar 97 per dolar AS pada akhir 2026 dan 98 pada pertengahan 2027. Senada dengan itu, Mizuho Securities memperkirakan rupee menyentuh 98 per dolar AS pada akhir 2026 hingga awal tahun berikutnya. Bahkan, skenario 100 per dolar AS tidak bisa dikesampingkan jika harga minyak kembali melonjak, arus portofolio asing kembali keluar, dan defisit transaksi berjalan melebar melampaui ekspektasi.
Tekanan terhadap rupee diperparah oleh posisi India sebagai importir minyak terbesar. Sekitar 85% kebutuhan bahan bakar dipenuhi dari impor, dengan Selat Hormuz sebagai jalur pasokan utama sebelum perang Iran. Ketika harga energi melambung, defisit perdagangan India melebar dan permintaan dolar meningkat. Di saat yang sama, investor global menarik dana dari pasar modal India karena menghindari risiko dan mencari eksposur kecerdasan buatan yang dinilai kurang tersedia di sana.
Perdana Menteri Narendra Modi bahkan mengimbau warganya untuk menunda perjalanan ke luar negeri dan mengurangi pembelian emas guna menekan permintaan valas. Himbauan serupa pernah disampaikan pada Mei lalu. Namun, upaya tersebut belum membendung derasnya arus keluar modal. Data NSDL mencatat investor portofolio asing telah melepas saham India senilai 32,5 miliar dolar AS hingga 13 Oktober 2026.
"RBI bertekad melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan pergerakan pasar valuta asing yang tertib," ujar Gubernur RBI Sanjay Malhotra kepada Moneycontrol.
Sejumlah analis meragukan efektivitas langkah RBI dalam jangka panjang. Devarsh Vakil, kepala riset HDFC Securities, menilai kebijakan itu hanya memberikan "stabilitas jangka pendek hingga menengah, bukan dukungan struktural." Hal serupa diungkapkan Harsimran Sahni dari Anand Rathi Global Finance, yang menyarankan perusahaan-perusahaan India memperkuat strategi lindung nilai dan menguji ketahanan eksposur valas mereka. Menurutnya, intervensi RBI dapat meredam volatilitas tetapi tidak bisa mengimbangi ketidakseimbangan eksternal secara "tanpa batas."
Kekhawatiran juga muncul dari sisi cadangan devisa. Program deposito valas non-residen (FCNR-B) yang diluncurkan Juni lalu berhasil menambah cadangan hingga 105 miliar dolar AS. Akan tetapi, sejak program itu ditutup pada 30 Agustus, rupee justru melemah 1,9% terhadap dolar AS. Intervensi melalui penjualan dolar membuat cadangan devisa menyusut 51 miliar dolar AS per 2 Oktober. Ambit Capital mencatat komitmen forward dolar mencapai 200 miliar dolar AS, yang secara efektif mengurangi kecukupan cadangan dan membuat rupee rentan terhadap depresiasi lebih lanjut.
Dengan import cover yang hanya 6,2 bulan, India berada dalam posisi rapuh menghadapi guncangan eksternal. Jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan harga minyak melonjak, tekanan terhadap rupee akan semakin berat. Pertanyaannya, sampai sejauh mana RBI mampu menahan laju pelemahan tanpa menguras cadangan devisa yang tersisa?



