Jagex Batalkan RuneScape Reignited dalam 12 Hari Setelah Gelombang Protes Pemain
Baca dalam 60 detik
- Jagex menghentikan proyek server terpisah RuneScape Reignited kurang dari dua pekan setelah pengumuman resminya.
- Desakan komunitas veteran soal pembagian ekosistem dan biaya langganan ganda menjadi pemicu utama pembatalan.
- Uji coba gratis 10 hari dan peta jalan 2027 tetap berjalan sebagai kompensasi atas kegagalan strategi ini.

Jagex resmi menghentikan RuneScape Reignited, sebuah inisiatif server terpisah yang baru diperkenalkan kurang dari dua minggu sebelumnya. Keputusan ini diambil setelah tekanan bertubi dari komunitas pemain yang menilai proyek tersebut berpotensi memecah basis pengguna lama dan membebani mereka dengan biaya langganan tambahan.
Reignited sejatinya dirancang sebagai pintu masuk bagi pemain baru dan mereka yang lama absen untuk memulai petualangan dari nol di dunia yang terisolasi. Namun, sejak pengumuman awal, respons negatif mengalir deras. Keluhan utama mencakup pembatasan interaksi antar-karakter serta keharusan membayar langganan terpisah—kebijakan yang dianggap tidak adil bagi pemain setia yang telah menahun menopang RuneScape.
Menghadapi reaksi tersebut, Jagex sempat menempuh jalur kompromi. Studio asal Inggris itu meminta maaf karena membuat veteran merasa tersisih, lalu menjanjikan serangkaian revisi besar. Mereka bahkan membuka ruang dialog lanjutan untuk menyerap masukan. Namun, setelah umpan balik terkumpul, manajemen menilai perbaikan apa pun tidak akan cukup menyelamatkan konsep dasarnya.
"Kami jelas meleset kali ini, dan karena itu kami tidak melanjutkannya. Target kami adalah melihat RuneScape tumbuh lagi, dengan pemain lama kembali dan pemain baru bergabung, tetapi tidak pernah dengan mengorbankan komunitas yang sudah ada," ujar Ryan Philpott, Associate Creative Director Jagex, dalam blog resmi.
Pembatalan ini bukan pertama kalinya Jagex mundur akibat desakan pemain. Pada 2023, mereka menarik battle pass RuneScape setelah protes besar. Dua tahun kemudian, sistem mikotransaksi "Treasure Hunter" juga dihentikan. CEO Jon Bellamy kala itu menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari transformasi perusahaan untuk memberi nilai lebih adil dan berkelanjutan. Meski demikian, rekam jejak itu tidak selalu mulus; kenaikan harga langganan dan penghapusan acara Pride Month di dalam gim sempat menuai kritik keras yang tidak direspons dengan pembatalan.
Sebagai langkah penengah, Philpott mengundang pemain baru dan lama untuk mencoba gim melalui uji coba gratis 10 hari yang dimulai 2 Desember. Program ini memberikan akses penuh ke seluruh dunia dan konten yang tersedia. Peta jalan pengembangan hingga 2027 juga dipastikan tidak mengalami revisi, menandakan bahwa fokus perusahaan kini kembali ke pengembangan inti RuneScape.
Bagi industri gim global, kasus ini menjadi cermin betapa mahalnya mengabaikan suara komunitas. Penggemar RuneScape, yang telah setia sejak 2001, memiliki daya tawar besar karena pendapatan jangka panjang Jagex sangat bergantung pada retensi mereka. Kegagalan membaca sentimen bisa berujung pada pembatalan produk, kerugian reputasi, dan hilangnya kepercayaan—seperti yang baru saja terjadi.
Di Indonesia, fenomena ini relevan bagi pengembang gim lokal yang tengah membangun basis pemain setia. Komunitas gim nasional, terutama di platform PC dan seluler, kerap menjadi penentu hidup-matinya sebuah judul. Pelajaran dari Jagex menunjukkan bahwa transparansi dan kesediaan mendengar kritik bukan sekadar etika, melainkan strategi bisnis yang menentukan. Tanpa itu, inovasi sebesar apa pun berisiko ditolak sebelum sempat diuji.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Jagex akan kembali mencoba model server terpisah, melainkan bagaimana mereka merancang inovasi yang menyatukan—bukan memecah—komunitas. Dengan peta jalan 2027 yang masih berdiri, akankah Jagex mampu membuktikan bahwa mereka benar-benar belajar dari kesalahan ini, atau justru mengulanginya dalam bentuk lain?



