Ekonomi Inggris Tumbuh 0,1% di Agustus, Menkeu Sebut Tanda Ketahanan
Baca dalam 60 detik
- Perekonomian Inggris mencatat pertumbuhan 0,1% pada Agustus 2025, melampaui prediksi analis yang memperkirakan kontraksi tipis.
- Kanselir John Healey menyebut angka ini sebagai bukti ketahanan di tengah guncangan global, namun oposisi menyoroti pelemahan sektor konstruksi dan jasa yang stagnan.
- Menjelang Budget pertama dalam dua pekan, pemerintah berjanji memberi ruang napas bagi biaya hidup namun tetap disiplin fiskal tanpa penambahan anggaran untuk kenaikan gaji sektor publik.

Perekonomian Inggris mencatat pertumbuhan 0,1% pada Agustus 2025, membalikkan ekspektasi analis yang memperkirakan kontraksi tipis. Kanselir John Healey menyebut capaian ini sebagai "tanda ketahanan" di tengah tekanan global, dan menegaskan komitmen pemerintah untuk meredakan beban biaya hidup serta dunia usaha melalui Budget yang akan diumumkan dalam dua pekan.
Data dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 0,7% pada periode tiga bulan hingga Agustus. Angka ini melampaui perkiraan awal dan menjadi sinyal positif setelah Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan Inggris ke arah yang lebih baik awal pekan ini. Meski demikian, pertumbuhan bulanan yang tipis menggarisbawahi kerentanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Healey, yang sedang berada di Bangkok untuk pertemuan tahunan IMF, menekankan bahwa pertumbuhan ini merupakan buah dari disiplin fiskal yang diakui lembaga multilateral tersebut. "Ini adalah tanda ketahanan ekonomi Inggris yang tidak diperkirakan sebagian pihak," ujarnya kepada BBC. Ia juga menyoroti kontribusi sektor teknologi, khususnya pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), yang dinilai mulai memberikan dampak pada produktivitas meski baru dalam tahap awal.
Namun, di balik angka positif, sejumlah ekonom mengingatkan adanya tantangan struktural. Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics, menilai ekonomi Inggris "lebih tangguh dari perkiraan", tetapi memperingatkan bahwa kenaikan inflasi yang diperkirakan akan tetap "menekan pertumbuhan". Ia menyoroti ketahanan luar biasa terhadap harga energi dan biaya pinjaman yang tinggi. Sementara itu, Jake Finney dari PwC menambahkan bahwa investasi AI menjadi penopang kinerja Inggris, meski skala investasinya masih tertinggal dari Amerika Serikat.
"Dampak AI terhadap ekonomi dan produktivitas baru mulai terasa. Teknologi ini memiliki potensi besar sekaligus risiko besar, dan prioritas kami adalah memastikan pengembangannya aman," kata Healey.
Oposisi menilai pertumbuhan tipis ini menyembunyikan tren yang mengkhawatirkan. Juru bicara Partai Konservatif untuk urusan keuangan, Andrew Griffith, menyatakan sektor konstruksi telah menyusut selama empat bulan berturut-turut, dengan pembangunan rumah swasta turun paling tajam. "Pemerintah berjanji membangun Inggris, tetapi mereka gagal," ujarnya, seraya mendesak pemotongan pajak dan pengurangan regulasi. Senada, juru bicara Treasury dari Partai Liberal Demokrat, Daisy Cooper, menilai pertumbuhan 0,1% "bukan sesuatu yang layak dirayakan" karena ekonomi "hanya merangkak di gigi pertama".
Menghadapi kritik, Healey menegaskan bahwa Budget mendatang akan bersifat ketat dan tidak akan menyertakan penyesuaian inflasi untuk gaji sektor publik. Ia menolak permintaan tambahan anggaran untuk perawat dan dokter, dengan alasan pemerintah harus mengelola keuangan sesuai kemampuan. "Kami harus memastikan setiap kebijakan dapat dibiayai dalam anggaran yang ada," tegasnya. Pernyataan ini memicu kekhawatiran serikat pekerja dan pakar yang menuntut alokasi lebih besar untuk layanan publik yang biayanya terus meningkat.
Konteks Indonesia: Bagi Indonesia, dinamika ekonomi Inggris ini patut dicermati karena Inggris merupakan salah satu mitra dagang utama dan sumber investasi di sektor jasa keuangan, teknologi, serta energi terbarukan. Ketahanan ekonomi Inggris dapat menjaga permintaan ekspor Indonesia, terutama komoditas seperti minyak sawit dan produk manufaktur. Sebaliknya, kebijakan fiskal ketat Inggris berpotensi mengurangi belanja pemerintah yang dapat berdampak pada kerja sama pembangunan. Selain itu, perhatian Inggris terhadap AI dan disiplin fiskal dapat menjadi cermin bagi Indonesia dalam menyusun strategi menghadapi tekanan global serupa.
Ke depan, pasar akan menantikan detail Budget yang dijadwalkan dalam dua pekan. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu menyeimbangkan kebutuhan stimulus fiskal dengan disiplin anggaran, sembari menjaga momentum pertumbuhan yang rapuh? Keputusan Healey akan menjadi ujian bagi arah ekonomi Inggris di tengah ketidakpastian global.



