Piastri Kalahkan Acosta di Duel Buggy Off-Road, Sinyal Mental Juara di Lintasan Kotor
Baca dalam 60 detik
- Oscar Piastri menaklukkan Pedro Acosta dalam seri Young Guns Part 2 di sirkuit tanah Monti MX, Prancis, dengan selisih tipis 1:53 berbanding 1:54.
- Kemenangan ini memperlihatkan adaptasi cepat pembalap F1 di medan non-asfalt, sekaligus menegaskan mentalitas kompetitif yang tak mengenal kompromi.
- Tantangan ketiga diusulkan Acosta dengan sepeda motor, namun Piastri menolak demi menjaga kontraknya bersama McLaren.

Oscar Piastri kembali membuktikan dirinya bukan hanya pembalap cepat di aspal, tetapi juga kompetitor ulung di medan tak biasa. Dalam ajang Young Guns Part 2 yang digelar di sirkuit tanah Monti MX, French Riviera, pembalap McLaren itu mengalahkan bintang MotoGP Pedro Acosta dengan catatan waktu 1 menit 53 detik, unggul satu detik atas rivalnya yang menorehkan 1:54.
Duo ini sebelumnya bertarung di lintasan gokart pada 2024, di mana Piastri mendominasi. Kini, dengan kendaraan identik berupa buggy off-road Segway Super Villain, Acosta berharap dapat membalikkan keadaan. Namun, trek tanah dengan lompatan besar, alur dalam, dan tikungan licin justru menjadi medan pembuktian bagi Piastri yang mengaku belum pernah mengemudi di tanah.
Acosta, yang sehari-hari menunggangi motor 300 tenaga kuda, merasa lebih aman dengan fitur keselamatan buggy. "Saya merasa terlalu aman. Kalau terbalik, kepala saya tidak akan membentur tanah," kelakarnya, menyoroti sabuk pengaman empat titik dan rollcage yang jauh lebih protektif dibandingkan setelan kulit dan helm. Sementara Piastri justru lega karena tidak perlu menjaga keseimbangan: "Fakta bahwa ini masih roda empat bagus untuk saya. Tapi ini di tanah, dan saya belum pernah," ujarnya sebelum balapan.
Dipandu oleh Charley Boorman, kompetisi terdiri dari sprint, speed trap, dan Grand Prix dua lap. Piastri langsung menunjukkan pembelajaran cepat dengan memenangi sprint dan speed trap. Drama terjadi di Grand Prix final ketika Acosta memacu terlalu keras untuk mengejar ketertinggalan. "Saya membuat kesalahan di hairpin pertama, lalu berusaha mengejar waktu yang hilang, dan saya hampir saja bunuh diri," kenang Acosta sambil tertawa, menggambarkan lompatan tinggi yang nyaris membuat buggy-nya terbalik ke depan.
Piastri tetap tenang dan melintasi garis finis dengan gaya khasnya yang mulus, mengunci kemenangan keseluruhan. Kemenangan ini memperpanjang rekor tak terkalahkan Piastri atas Acosta dalam dua pertemuan Young Guns. Acosta pun mengusulkan tantangan ketiga dengan sepeda motor agar lebih seimbang, namun Piastri dengan tegas menolak. "Saya rasa McLaren tidak akan senang jika kita melakukannya," canda Acosta, disambut Piastri, "Tidak, saya rasa tidak," sambil tersenyum. Acosta menambahkan, "Saya masih terbuka untuk tantangan roda empat, tapi kita harus terus melakukan Young Guns Part 3 untuk melihat apakah saya bisa menang."
Bagi penggemar motorsport, duel ini bukan sekadar hiburan sampingan. Ini menunjukkan bahwa pembalap modern dituntut memiliki adaptabilitas tinggi di berbagai medan, sekaligus memperkuat nilai komersial mereka di luar ajang resmi. Kolaborasi lintas disiplin seperti ini juga membuka peluang sponsor dan audiens baru, terutama di pasar Asia Tenggara yang antusias terhadap F1 dan MotoGP.
Di Indonesia, antusiasme terhadap kedua ajang tersebut terus tumbuh, terbukti dengan tingginya penonton siaran langsung dan maraknya komunitas penggemar. Kegiatan seperti Young Guns dapat menjadi contoh bagaimana bintang balap membangun koneksi lebih personal dengan penggemar, tanpa mengorbankan profesionalisme. Jika Piastri dan Acosta kembali berduel, format apa yang paling adil untuk keduanya? Mungkin jawabannya ada di lintasan netral, bukan di tanah atau aspal, melainkan di simulator yang menggabungkan keduanya.



