Gencatan Energi Trump Diklaim, Rusia Justru Hantam PLTN Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Klaim gencatan senjata energi oleh Trump tidak diakui Moskow, sementara serangan Rusia ke pembangkit listrik Ukraina terus berlanjut.
- Serangan udara Rusia menewaskan enam warga sipil di Kharkiv dan Ukraina barat, memicu keraguan atas efektivitas kesepakatan.
- Amerika Serikat mengancam menghentikan sistem pengadaan senjata untuk Ukraina jika Kyiv tidak menghentikan serangan jauh ke Rusia.

Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Rusia dan Ukraina telah menyetujui gencatan senjata di sektor energi langsung dibantah oleh kenyataan di lapangan. Hanya beberapa jam setelah pernyataan itu, gelombang serangan drone dan rudal Rusia dilaporkan menghantam sejumlah pembangkit listrik di Ukraina, termasuk fasilitas vital di Kyiv dan Kharkiv. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan keheranannya, menyebut kesepakatan yang diumumkan Trump sebagai "berita baru" baginya dan menegaskan bahwa Moskow belum mengonfirmasi komitmen apa pun.
Dalam pernyataan melalui platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa "mulai berlaku efektif, ada gencatan senjata energi dalam perang antara Rusia dan Ukraina" dan memperingatkan kedua pihak untuk tidak melanggarnya. Namun, pernyataan itu tidak disertai rincian mekanisme pengawasan atau durasi. Zelenskyy kemudian melaporkan bahwa sebuah drone menghantam pembangkit listrik di Kyiv pada Minggu, menyebabkan pemadaman listrik di sebagian ibu kota. Tak lama berselang, ia mengonfirmasi serangan terhadap PLTU CHP-5 di Kharkiv, kota terbesar kedua Ukraina. "Langit Ukraina dipenuhi drone Shahed Rusia sepanjang hari," ujarnya di media sosial.
Serangan mematikan di Kharkiv terjadi ketika sebuah proyektil menghantam sebuah toko kelontong, menewaskan tiga orang dan melukai 20 lainnya. Gubernur Syniehubov mengonfirmasi bahwa dua anak termasuk dalam korban luka. Sementara itu, di Ukraina barat, otoritas melaporkan tiga korban jiwa dalam serangan terpisah. Rusia juga mengklaim telah menyerang pusat logistik di wilayah Mykolaiv dan sebuah kapal kargo di Laut Hitam, sementara pihak yang dipasang Moskow di Donetsk melaporkan satu orang tewas akibat serangan Ukraina.
Klaim gencatan senjata energi Trump muncul hanya dua hari setelah ia mengumumkan kesepakatan kontroversial untuk membeli bahan bakar diesel Rusia sambil melonggarkan sanksi Amerika Serikat untuk sementara. Kebijakan itu memicu kemarahan Ukraina dan sekutu Eropanya, yang menilai langkah tersebut akan memperkuat posisi Moskow. Perdana Menteri Kanada Mark Carney, setelah melakukan panggilan telepon dengan Zelenskyy pada Minggu, menyatakan bahwa kesepakatan diesel itu "bertentangan langsung dengan upaya Ukraina, Kanada, dan sekutu kami untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di Eropa." Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menyatakan dukungannya kepada Zelenskyy, sementara Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan Berlin terus memberikan dukungan penuh.
"Dengan segala hormat kepada Presiden Trump, adalah hak masyarakat dan rakyat kami untuk memilih pemimpin," tegas Zelenskyy menanggapi pernyataan Trump yang menyarankan Ukraina segera mengganti presidennya.
Ketegangan antara Washington dan Kyiv semakin memanas setelah Trump, dalam sebuah kesempatan, menyerukan agar Ukraina memiliki presiden baru yang mau menyelesaikan perang. Zelenskyy merespons dengan menegaskan bahwa pemilihan pemimpin adalah hak kedaulatan rakyat Ukraina. Di sisi lain, laporan Financial Times mengungkap bahwa pemerintahan Trump mengancam akan menghentikan sistem pengadaan senjata yang memasok persenjataan ke Ukraina. Tujuan tekanan itu adalah memaksa Kyiv menghentikan serangan mendalam ke infrastruktur energi Rusia, termasuk kilang minyak. Menurut pejabat Eropa yang dikutip FT, Amerika Serikat sedang melobi ibu kota-ibu kota Eropa dan Kyiv untuk mengakhiri serangan tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika perang Rusia-Ukraina ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap stabilitas harga energi dan pangan global. Ketegangan yang berkepanjangan di kawasan Laut Hitam dapat mengganggu jalur logistik gandum dan minyak, yang pada gilirannya memengaruhi inflasi di negara-negara berkembang. Posisi Indonesia yang non-blok tetap menekankan pentingnya penyelesaian damai, namun fluktuasi pasokan energi global menjadi perhatian serius bagi anggaran subsidi dan ketahanan pangan nasional.
Dengan belum adanya konfirmasi resmi dari Kremlin dan serangan yang justru meningkat, klaim gencatan senjata energi Trump tampak lebih sebagai manuver politik daripada terobosan diplomatik. Pertanyaannya kini: akankah tekanan Washington terhadap Kyiv justru memperlemah posisi Ukraina di medan perang, atau malah mempercepat jalan menuju negosiasi yang sesungguhnya? Dunia menunggu langkah berikutnya, sementara warga Ukraina terus menanggung beban kemanusiaan yang tak kunjung usai.



