Tragedi Penembakan Erie: Kakek Bunuh 8 Orang, Termasuk Cucu dan Bayi dalam Kandungan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria 45 tahun menembak mati delapan orang di rumahnya di Erie, Pennsylvania, sebelum mengakhiri hidupnya sendiri.
- Korban terdiri dari tujuh kerabat dan seorang teman, termasuk balita dan janin, memicu pertanyaan tentang kesehatan mental pelaku.
- Insiden ini mengguncang komunitas dan memicu perdebatan soal kepemilikan senjata serta deteksi dini gangguan jiwa.

Warga Erie, Pennsylvania, dikejutkan oleh aksi penembakan massal yang menewaskan delapan orang di sebuah rumah pada Jumat sore waktu setempat. Pelaku, seorang pria berusia 45 tahun, diduga merupakan kakek dari beberapa korban dan mengakhiri hidupnya sendiri setelah melancarkan aksinya. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terburuk di wilayah tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Kepala Kepolisian Erie, Rick Lorah, mengungkapkan bahwa pelaku memiliki hubungan keluarga dengan tujuh dari delapan korban. Korban kedelapan adalah teman dari seorang wanita yang sedang hamil, yang juga tewas dalam insiden tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang belum merilis identitas para korban maupun pelaku secara resmi.
Julius Windham, ayah dari balita berusia satu tahun yang menjadi korban, mengaku tidak pernah menyangka pelaku tega melakukan hal tersebut. Dalam sebuah peringatan pada Minggu, ia mengenang pelaku sebagai sosok yang selalu tersenyum dan tampak normal. "Saya pikir itu hanya topeng belaka," ujarnya. Windham kehilangan putrinya, Amarianna, serta ibu dari anak tersebut yang sedang hamil, dan anak laki-laki berusia lima tahun dari wanita itu.
"Kata-kata tidak bisa menjelaskan apa yang saya rasakan sekarang. Tapi saya harus kuat untuk komunitas saya, keluarga saya, anak-anak saya," kata Windham.
Menurut keterangan polisi, sebelum insiden, pelaku terlibat dalam sebuah insiden di dalam rumah yang memicu kedatangan dua wanita yang tampak gelisah. Mereka mengetuk pintu, namun pelaku keluar dan menembak keduanya, lalu kembali masuk. Tim penyelidik yang tiba di lokasi menemukan dua wanita tewas di luar rumah. Setelah mengerahkan drone dan robot, polisi masuk dan menemukan mayat seorang anak laki-laki berusia lima tahun dan seorang bayi perempuan berusia satu tahun di lantai dasar, dua wanita dan dua pria muda di tangga, serta pelaku di lantai dua.
Lorah menyatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan motif di balik aksi tersebut, namun ia menyebut faktor kesehatan mental mungkin berperan. "Mereka tahu ada sesuatu yang terjadi di rumah itu. Kami harus mencari tahu apa itu," ujarnya. Investigasi akan melibatkan wawancara dengan kerabat dan pemeriksaan ponsel para korban wanita yang tewas di luar.
Insiden ini mengingatkan pada pembantaian tahun 1982 di Wilkes-Barre, Pennsylvania, di mana seorang pria membunuh 13 orang, termasuk lima anaknya sendiri. Peristiwa tersebut menjadi salah satu penembakan massal paling mematikan dalam sejarah negara bagian itu.
Wali Kota Erie, Daria Devlin, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. "Saya sangat menyesal. Apa yang terjadi pada Anda sungguh mengerikan, dan tidak ada kata-kata yang bisa meringankan beban ini. Seluruh komunitas kami bersama Anda," katanya dalam konferensi pers. Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, juga menyampaikan duka cita melalui media sosial X, "Hati saya hancur untuk keluarga ini. Lori dan saya mendoakan orang-orang terkasih dan seluruh komunitas Erie."
Tragedi ini kembali menyoroti isu kepemilikan senjata dan kesehatan mental di Amerika Serikat. Meskipun belum ada pernyataan resmi mengenai riwayat kejiwaan pelaku, sejumlah pihak mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem peringatan dini dan akses layanan kesehatan mental. Di Indonesia, peristiwa semacam ini menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini gangguan jiwa dan pengawasan ketat terhadap kepemilikan senjata api, meskipun kasus penembakan massal sangat jarang terjadi. Pemerintah Indonesia telah memiliki regulasi ketat terkait senjata api, namun kesadaran akan kesehatan mental masih perlu ditingkatkan.
Ke depan, penyelidikan diharapkan dapat mengungkap motif dan mencegah terulangnya tragedi serupa. Komunitas Erie kini berduka, namun juga menuntut jawaban atas bagaimana seorang kakek bisa tega menghabisi keluarganya sendiri. Apakah sistem deteksi dini kesehatan mental sudah cukup efektif untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga? Pertanyaan itu kini menggantung di udara.



