Studi Global: Perempuan Alami Nyeri Lebih Sering di 11 Titik Tubuh, Ini Penjelasannya
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap lebih dari 6 juta partisipan dari 118 negara menemukan perempuan melaporkan nyeri di 11 area tubuh lebih sering daripada laki-laki, dengan nyeri punggung sebagai keluhan tertinggi.
- Penyebabnya bukan tunggal, melainkan kombinasi faktor hormonal, imun, psikososial, hingga perbedaan akses layanan kesehatan dan cara melaporkan gejala.
- Puncak kenaikan nyeri muskuloskeletal justru terjadi pada usia 20–55 tahun, membuka peluang intervensi dini sebelum beban nyeri menetap di usia lanjut.

Sebuah studi berskala global yang menganalisis data nyeri yang dilaporkan sendiri dari 6.125.459 partisipan di 118 negara memastikan bahwa perempuan secara konsisten merasakan nyeri lebih sering daripada laki-laki. Temuan yang dipublikasikan di Nature Medicine ini menunjukkan perempuan melaporkan nyeri di sedikitnya 11 lokasi anatomi: kepala, wajah, leher dan bahu, tangan dan pergelangan tangan, siku, kaki dan pergelangan kaki, lutut, dada, punggung, perut, serta pinggul. Nyeri punggung menempati prevalensi tertinggi, yakni 40%.
Penulis utama studi, Matt Fillingim, PhD, peneliti pascadoktoral di McGill University, Montreal, Kanada, menegaskan tidak ada satu penjelasan tunggal di balik perbedaan ini. Menurutnya, disparitas tersebut mencerminkan interaksi kompleks antara faktor biologis dan sosial—mulai dari hormon seks, fungsi imun, pemrosesan nyeri di sistem saraf, stres, beban reproduksi, paparan pekerjaan, pola pemanfaatan layanan kesehatan, hingga perbedaan cara melaporkan gejala. Ia juga merujuk pada studi model hewan yang mengindikasikan adanya perbedaan jalur imun dalam hipersensitivitas nyeri antara jantan dan betina.
Yang menonjol dari studi ini, kata Fillingim, adalah konsistensi perbedaan di seluruh 11 titik tubuh, meskipun besaran kesenjangannya bervariasi menurut jenis nyeri. Variasi ini memperkuat dugaan bahwa tidak ada mekanisme universal tunggal yang bekerja. Ia menambahkan, temuan tersebut mendorong pendekatan pencegahan dan pengawasan nyeri berbasis siklus hidup, karena banyak lintasan nyeri berubah paling cepat sebelum usia lanjut.
Shuchita Garg, MD, profesor klinis di Departemen Anestesi/Divisi Nyeri Kronis University of Cincinnati Medical Center, yang tidak terlibat dalam studi, menilai riset ini sebagai kontribusi besar yang menantang sebagian data lama. Namun ia mengingatkan bahwa sebagian besar data bersifat potong lintang, sehingga menggambarkan pola usia dalam populasi, bukan perubahan individual. Estimasi yang dihasilkan pun merujuk pada prevalensi titik atau periode, bukan kronisitas—artinya studi ini membahas nyeri secara umum, bukan khusus nyeri kronis.
Garg memaparkan alasan di balik prevalensi nyeri yang lebih tinggi pada perempuan sangat rumit, melibatkan elemen biologis, hormonal, dan psikososial. Perbedaan terbesar ditemukan pada nyeri wajah dan perut, sakit kepala, serta gejala berat. Migrain, nyeri temporomandibular, dan nyeri visceral—yang berkaitan dengan usia reproduksi—menunjukkan disparitas paling mencolok. Perkembangan pubertas dan hormon seks diduga menjadi pemicu perbedaan antara remaja laki-laki dan perempuan. Ia juga menyoroti perbedaan jalur imun: nyeri neuropatik dikaitkan dengan aktivitas mikroglia pada laki-laki dan sel T pada perempuan, meski temuan ini masih berbasis riset praklinis pada model hewan pengerat.
Kondisi khas perempuan seperti dismenore, endometriosis, dan nyeri panggul berkontribusi langsung terhadap besarnya nyeri di area perut. Nyeri yang dimaksud bersifat nosiplastik—nyeri tumpul, dalam, dan menetap—dan amplifikasi nyeri seperti pada fibromialgia lebih sering ditemukan pada perempuan, sejalan dengan tingkat keparahan dan luasnya nyeri. Faktor psikososial dan akses layanan kesehatan juga berperan, termasuk kemungkinan tingginya depresi, kecemasan, paparan trauma, beban pengasuhan, serta keterlambatan diagnosis dan pengobatan.
"Kesenjangan ini kemungkinan besar bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan cerminan gabungan faktor biologis dan sosial—termasuk hormon seks, fungsi imun, pemrosesan nyeri di sistem saraf, stres, beban reproduksi, paparan pekerjaan, pemanfaatan layanan kesehatan, dan perbedaan pelaporan gejala." — Matt Fillingim, PhD
Studi ini juga mengungkap bahwa peningkatan nyeri muskuloskeletal paling cepat terjadi pada usia 20–55 tahun, meskipun beban nyeri tertinggi dilaporkan pada usia 75 tahun ke atas. Fillingim menekankan bahwa temuan ini tidak berarti nyeri paling tinggi sebelum usia 55, melainkan proporsi populasi yang melaporkan nyeri meningkat paling pesat pada rentang tersebut. Untuk kondisi seperti nyeri punggung, pinggul, dan lutut, prevalensi terus naik hingga usia lanjut. Ia menduga akumulasi paparan—beban fisik, cedera, kenaikan berat badan, penyakit metabolik, stres, dan regangan berulang—menjadi penjelas utama, dan sebagian besar beban tersebut sudah terbentuk saat usia lanjut tiba.
Vernon Williams, MD, neurolog olahraga dan pendiri Center for Sports Neurology and Pain Medicine di Cedars-Sinai Orthopedics and Sports Medicine, Los Angeles, menambahkan bahwa usia bukan satu-satunya faktor. Pada usia paruh baya, seseorang mungkin telah mengakumulasi cedera, regangan berulang, perubahan aktivitas fisik, stres, gangguan tidur, dan faktor lain yang memengaruhi cara sistem saraf memproses nyeri. Respons otak terhadap nyeri dapat menjadi lebih sensitif seiring waktu, sehingga peningkatan sebelum usia 55 mencerminkan efek kumulatif dari faktor biologis, psikologis, dan sosial, bukan penyebab tunggal terkait usia.
Dari sisi tata laksana, Garg menyarankan upaya pencegahan diarahkan pada orang dewasa usia 20-an hingga 40-an, dengan manajemen nyeri yang disesuaikan secara individual. Langkah awal mencakup investigasi menyeluruh terhadap kemungkinan penyebab yang dapat diobati, promosi aktivitas fisik, terapi psikologis, dan modifikasi faktor risiko. Ia menekankan olahraga membantu mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi, dan memperbaiki kesehatan secara umum, tanpa ada satu jenis olahraga yang lebih unggul asalkan dilakukan konsisten. Program latihan, terapi perilaku kognitif (CBT), dan terapi penerimaan-komitmen (ACT) dinilai efektif untuk nyeri muskuloskeletal kronis karena memengaruhi cara nyeri diproses di sistem saraf—bukan berarti nyeri tersebut imajiner. Faktor yang dapat dimodifikasi seperti tidur, merokok, penurunan berat badan, dan suasana hati juga perlu ditangani.
Williams menyarankan agar penderita nyeri tidak sekadar berusaha "hidup dengan" nyeri kronis atau menutupinya dengan obat. Evaluasi menyeluruh untuk memahami sumber nyeri menjadi kunci, karena pengobatan paling efektif bergantung pada identifikasi jenis dan asal nyeri. Fokus pada pemulihan fungsi dan gerakan, dengan pendekatan komprehensif yang mencakup fisioterapi, latihan, strategi perilaku, mindfulness, dan obat bila perlu. Nyeri kronis bersifat kompleks, tetapi tidak selalu permanen. Garg menambahkan, tujuan fungsional seperti meningkatkan mobilitas, kualitas hidup, aktivitas sehari-hari, atau kembali bekerja lebih baik daripada menargetkan penghapusan total nyeri.
Fillingim berharap temuan ini mendorong pendekatan pencegahan dan pengawasan nyeri berbasis siklus hidup, serta menyoroti kesenjangan data global. Ia mengaku kesulitan mengakses dataset yang layak dari kawasan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah, terutama sebagian Afrika Sub-Sahara, Asia Tenggara, dan wilayah lain yang kurang terwakili. Keterbatasan ini mencerminkan minimnya pengumpulan data, sedikitnya studi kohort besar, kendala sumber daya untuk penyimpanan dan pemeliharaan data, infrastruktur riset yang terbatas, serta sulitnya menyediakan data untuk analisis sekunder. Tanpa data tersebut, pemahaman tentang mengapa beban nyeri tinggi pada usia tertentu dan strategi pencegahan yang paling tepat akan tetap timpang.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat beban nyeri punggung dan muskuloskeletal yang tinggi di populasi usia produktif. Dengan akses layanan kesehatan yang belum merata dan kesadaran akan nyeri kronis yang masih rendah, pendekatan pencegahan dini—terutama melalui aktivitas fisik dan manajemen faktor risiko—menjadi krusial. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan nasional siap menggeser fokus dari pengobatan reaktif ke intervensi dini yang menyasar kelompok usia 20–55 tahun?



