Street Fighter Movie Baru Pakai Animasi 2D untuk Flashback, Sutradara Ungkap Alasannya
Baca dalam 60 detik
- Film Street Fighter garapan Capcom dan Legendary akan menyisipkan animasi 2D tradisional pada adegan kilas balik, bukan sekadar live-action.
- Sutradara Kitao Sakurai menilai pendekatan ini menghindari kesan norak dan memperkuat koneksi waralaba dengan anime Jepang.
- Studio Titmouse dipercaya menggarap animasi yang seluruh framenya digambar tangan, memberi nilai artistik tersendiri.

Film Street Fighter terbaru yang diproduksi Capcom dan Legendary Pictures menyimpan kejutan: sejumlah besar adegan dalam film tersebut disajikan melalui animasi 2D tradisional. Keputusan ini menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap era 1990-an, periode yang menjadi latar cerita film. Film ini memang berlatar tahun 1993, tahun yang sama ketika Capcom merilis Super Street Fighter 2: The New Challengers di mesin arkade.
Penggunaan animasi 2D bukan tanpa alasan. Sutradara sekaligus penulis naskah Kitao Sakurai mengungkapkan bahwa teknik tersebut dipilih untuk menghindari kesan berlebihan saat menyampaikan momen emosional penting. "Saat menulis, kami sadar perlu memahami latar belakang emosional Ken dan Ryu serta apa yang membawa mereka ke titik ini, karena itulah inti cerita," ujarnya kepada Polygon. Ia menambahkan, pendekatan konvensional seperti meremajakan aktor atau merekrut aktor anak tidak sesuai dengan tone yang diinginkan.
Animasi hampir sepenuhnya digunakan pada adegan kilas balik, khususnya yang menyoroti masa pelatihan Ken dan Ryu di bawah bimbingan Master Gouken, yang diperankan Don Lee. Film bahkan dibuka dengan urutan animasi yang menceritakan turnamen World Warrior pertama dan sejarah dua rivalitas besar dalam jagat Street Fighter.
Sakurai menjelaskan bahwa pemilihan animasi 2D sejalan dengan hubungan mendalam antara Street Fighter dan anime. "Street Fighter memiliki koneksi luar biasa dengan anime, jadi mengapa tidak mengambil pilihan berani dengan menganimasikan adegan latar belakang dan menjadikannya ledakan energi yang luar biasa, bukan sesuatu yang mungkin norak atau mengganggu?" tuturnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, tim produksi menggandeng Titmouse, rumah produksi animasi yang telah berdiri lebih dari 25 tahun. Titmouse memiliki rekam jejak pada proyek-proyek besar seperti The Legend of Vox Machina, Spider-Man: Across the Spider-Verse, dan Star Trek: Lower Decks. Mereka juga baru saja menggarap animasi untuk adaptasi video game Golden Axe dan sebelumnya terlibat dalam animasi kolaborasi Street Fighter dengan Overwatch.
"Keputusan memilih Titmouse bagi saya adalah untuk menghormati era 90-an dan film-film yang saya cintai saat tumbuh besar, seperti Akira, Ghost in the Shell, dan Street Fighter 2: The Animated Movie. Saya ingin melakukannya dengan gaya dan teknik yang sama. Titmouse sangat antusias pada animasi gambar tangan tradisional. Saya bangga setiap frame animasi dalam film ini digambar tangan oleh seseorang. Ini sepenuhnya organik dan nyata, dan itu membuatnya istimewa."
โ Kitao Sakurai, sutradara Street Fighter
Keputusan menggunakan animasi 2D juga berfungsi sebagai jembatan bagi penggemar setia waralaba. Penggemar Street Fighter 2: The Animated Movie mungkin akan menemukan satu atau dua penghormatan terhadap adaptasi animasi tersebut. Film Street Fighter baru ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 16 Oktober.
Di tengah pasar film adaptasi video game yang sering kali gagal secara kritis maupun komersial, langkah Sakurai menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih mengandalkan efek visual CGI sepenuhnya, ia memilih estetika animasi tradisional yang jarang ditemui di produksi Hollywood berskala besar. Strategi ini berpotensi menarik dua audiens sekaligus: penggemar lama yang menghargai nostalgia dan penonton baru yang menghargai keunikan artistik.
Bagi industri film Indonesia, keputusan ini bisa menjadi cermin. Rumah produksi lokal yang menggarap adaptasi waralaba populer, baik dari game maupun komik, dapat mempertimbangkan pendekatan serupa untuk membedakan diri dari arus utama. Animasi 2D tradisional masih memiliki tempat di hati penonton, terutama ketika digunakan secara strategis untuk memperkuat narasi, bukan sekadar hiasan.
Ke depan, apakah penggunaan animasi 2D dalam film live-action akan menjadi tren baru di Hollywood, atau justru tetap menjadi pilihan niche yang hanya cocok untuk waralaba tertentu? Jawabannya mungkin akan terlihat dari respons box office dan reaksi penggemar setelah film ini tayang.



