Tinta Tato PhotoTat: Bisa Menyala di Bawah UV dan Menghilang dengan LED
Baca dalam 60 detik
- Peneliti University of Colorado Boulder menciptakan tinta tato PhotoTat yang dapat diaktifkan dan dimatikan dengan paparan sinar UV dan LED.
- Tinta ini memanfaatkan mikrosfer PMMA dan pewarna perubahan warna untuk menciptakan gambar penuh warna yang tak terlihat dalam kondisi normal.
- Potensi aplikasi medis mencakup penanda radioterapi yang dapat disembunyikan, meski keamanan bagi manusia belum diuji.

Tim insinyur dari University of Colorado Boulder memperkenalkan PhotoTat, sebuah lini tinta tato multicolor yang dapat dinyalakan dan dimatikan hanya dengan sinar ultraviolet (UV) dan light-emitting diode (LED). Terobosan ini dipublikasikan di jurnal Cell Press, Matter & Light, dan disebut-sebut berpotensi mengubah cara orang memandang seni tubuh serta menawarkan solusi medis yang tidak permanen.
Berbeda dari tinta konvensional yang menempel abadi di lapisan dermis, PhotoTat menggunakan polimetil metakrilat (PMMA) yang dibentuk menjadi bola-bola mikroskopis menyerupai kaca. Ke dalam bola-bola itu, para peneliti menyuntikkan berbagai pewarna yang mampu berubah warna. "Dengan mencampur warna-warna primer ini, kami bisa menghasilkan gambar penuh warna," ujar Carson Bruns, penulis utama studi tersebut, seperti dikutip dari rilis universitas.
Dalam kondisi cahaya biasa, tinta ini sepenuhnya transparan. Begitu terkena sinar UV, warna-warna cerah seperti biru, magenta, atau kuning muncul dalam hitungan detik. Efeknya bertahan beberapa jam, namun paparan cahaya LED terang dapat mempercepat proses pemudaran. "PhotoTat seperti sakelar. Anda menyalakannya dengan UV, dan mematikannya saat berkunjung ke rumah nenek," tambah Bruns.
Selain untuk keperluan estetika, Bruns melihat peluang besar di ranah medis. Pasien kanker yang menjalani radioterapi sering kali harus ditato kecil sebagai penanda posisi sinar. Tato ini bisa menimbulkan bekas luka fisik dan trauma psikologis. "Tato medis itu tidak indah dan menjadi pengingat permanen akan pengalaman traumatis. Dengan PhotoTat, kami bisa mengubah tato yang tidak diinginkan menjadi sesuatu yang hanya terlihat oleh dokter saat di klinik, dan tak terlihat di waktu lain," jelasnya.
Meski demikian, riset ini masih jauh dari kata siap edar. Bruns belum menentukan apakah tinta ini aman bagi manusia. Ia sendiri telah menguji coba pada dirinya dengan membuat garis hitam sisik ikan di kakinya, lalu mengisinya dengan PhotoTat. Dengan sedikit cahaya, sisik itu bisa berubah merah, oranye, biru, dan warna lainnya. "Seperti sisik putri duyung ajaib," ujarnya.
Di Indonesia, teknologi semacam ini berpotensi menarik minat industri klinik kecantikan dan layanan kesehatan. Namun, regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang bahan kosmetik dan alat kesehatan akan menjadi penentu utama. Tinta yang dapat dikontrol cahaya juga menimbulkan pertanyaan tentang standar keamanan jangka panjang, terutama karena PMMA yang digunakan sebagai bahan dasar telah lama dipakai dalam implan medis, tetapi kombinasi dengan pewarna aktif masih perlu diuji toksisitasnya.
Selain itu, adopsi di pasar tato Indonesia yang tumbuh pesat—terutama di kota-kota besar—bisa menjadi ujian tersendiri. Jika PhotoTat terbukti aman dan terjangkau, ia dapat menawarkan alternatif bagi mereka yang ingin mengekspresikan diri tanpa komitmen permanen. Namun, tanpa sertifikasi resmi, produk ini tidak akan bisa masuk ke studio tato legal.
Bruns menegaskan bahwa proyek ini adalah passion project-nya. Ia memiliki banyak tato, termasuk singa hijau di lengannya. "Saya mencintai seni tubuh karena begitu personal," katanya. Ia juga melihat karyanya sebagai perlawanan terhadap stigma sosial terhadap tato, terutama di lingkungan ilmiah. "Ada stigma, baik di sains maupun di banyak budaya, terhadap seni tubuh. Saya bangga bisa mendobraknya."
Ke depan, tim peneliti berencana menyempurnakan desain dan melakukan uji keamanan sebelum tinta ini benar-benar tersedia di pasar. Pertanyaannya, apakah PhotoTat akan menjadi standar baru dalam dunia tato medis dan estetika, atau justru tersandung oleh regulasi dan biaya produksi? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi arah riset ini jelas: tato yang bisa dihapus dengan sentuhan cahaya bukan lagi fiksi ilmiah.



