Studi: Diet DASH Aman untuk Pasien Hipertensi Pengguna Obat ARB/ACE Inhibitor
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru menunjukkan diet kaya kalium seperti DASH tidak memicu lonjakan kalium darah berbahaya pada pasien hipertensi yang mengonsumsi ARB atau ACE inhibitor.
- Temuan ini berpotensi mengubah panduan klinis yang sebelumnya berhati-hati merekomendasikan diet tinggi kalium bagi pengguna obat tekanan darah tersebut.
- Meski demikian, pasien dengan penyakit ginjal lanjut tetap disarankan membatasi asupan kalium dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola makan.

Diet Approaches to Stop Hypertension (DASH) yang kaya akan kalium tidak meningkatkan kadar kalium serum ke tingkat berbahaya pada pasien hipertensi yang menjalani terapi angiotensin receptor blocker (ARB) atau angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor. Kesimpulan itu disampaikan dalam riset yang dipresentasikan pada Hypertension Scientific Sessions 2026, konferensi tahunan American Heart Association (AHA).
Selama ini, pasien yang mengonsumsi ARB atau ACE inhibitor kerap diminta waspada terhadap asupan kalium karena obat-obatan tersebut dapat memicu hiperkalemiaโkondisi kadar kalium darah melebihi ambang aman yang berisiko gangguan irama jantung. Di sisi lain, diet kaya kalium justru dianjurkan untuk menurunkan tekanan darah. Situasi ini menciptakan dilema klinis: menaikkan asupan kalium demi kontrol tensi, tetapi khawatir memicu efek samping obat.
Penelitian yang melibatkan 356 orang dewasa kulit hitam dari wilayah Boston Raya ini menganalisis data dari uji coba GoFresh dan GoFreshRx. Sebanyak 70% partisipan adalah perempuan, dengan usia rata-rata 53 tahun. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok: satu kelompok menerima bahan makanan sesuai pola DASH, kelompok lain mendapat bantuan tunai untuk membeli makanan yang sama. Keduanya mengasup sekitar 4.700 miligram kalium per hari.
"Ginjal memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatur sendiri ekskresi air dan elektrolit. Memang, kadang ginjal bisa keliru, terutama jika ada obat atau penyakit penyerta, tetapi studi ini menegaskan bahwa ginjal mampu menangani beban kalium dari makanan dengan meningkatkan sekresi kalium secara tepat, bahkan pada pasien hipertensi yang mengonsumsi obat yang bekerja melalui ginjal," ujar David Rhee, MD, ahli kardiologi bersertifikat dari Manhattan Cardiology, New York, yang tidak terlibat dalam penelitian.
Rhee menambahkan bahwa kalium dari makanan diserap ke aliran darah lebih lambat dibandingkan suplemen kalium klorida. Hal ini menjelaskan mengapa sumber alami lebih aman. Senada, Cheng-Han Chen, MD, ahli kardiologi intervensi dan direktur medis Program Jantung Struktural di MemorialCare Saddleback Medical Center, California, menilai temuan ini memberi kepercayaan diri bagi dokter untuk merekomendasikan diet DASH pada pasien pengguna ARB, ACE inhibitor, atau diuretik penahan kalium. "Selama ini kami sangat hati-hati. Hasil ini menunjukkan pasien tersebut kemungkinan dapat mengadopsi diet DASH tanpa kekhawatiran berarti," kata Chen.
Meski demikian, baik Rhee maupun Chen mengingatkan bahwa penelitian ini tidak menyertakan pasien dengan penyakit ginjal stadium 4 atau 5, maupun mereka yang memiliki kadar kalium basal di atas normal. "Secara umum, penderita penyakit ginjal kronis lanjut atau kadar kalium tinggi kronis tetap harus menghindari diet tinggi kalium," tegas Chen. Rhee menambahkan, "Begitu masuk wilayah penyakit ginjal lanjut, hiperkalemia menjadi risiko serius. Pasien tidak boleh dengan sengaja meningkatkan asupan kalium. Sebaliknya, mereka sering kali perlu menguranginya."
Bagi populasi umum, target 4.700 mg kalium per hari dinilai Rhee cukup menantang. "Kebanyakan dari kita hanya mengasup sekitar 2.000โ3.000 mg per hari. Kita tetap harus berusaha mencapai 3.000โ5.000 mg melalui sayuran berdaun hijau, kentang, kacang-kacangan, pisang, alpukat, dan salmon," jelasnya. Ia menyarankan pasien yang serius mengoptimalkan pola makan untuk bekerja sama dengan ahli gizi agar berhasil. "Diet terbaik adalah yang bisa Anda jalani secara konsisten," tambahnya.
Rhee juga mengingatkan bahwa risiko hiperkalemia tidak hanya datang dari obat tekanan darah. "Ada daftar panjang obat yang berpotensi meningkatkan kalium, terutama jika dikombinasikan satu sama lain atau dengan kondisi penyakit tertentu. Untuk setiap perubahan gaya hidup signifikan, bahkan yang tampak sehat, saya selalu menyarankan konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan terlebih dahulu," pesannya.
Dengan temuan ini, para klinisi kini memiliki dasar bukti lebih kuat untuk merekomendasikan buah dan sayuran kaya kalium kepada pasien hipertensi, dengan atau tanpa obat. Rhee mengaku akan lebih percaya diri dan mungkin mengutip studi ini untuk meyakinkan pasien. Ke depan, penelitian lanjutan perlu menyasar populasi dengan fungsi ginjal suboptimal untuk memastikan keamanan diet DASH pada kelompok yang lebih rentan. Pertanyaannya, apakah pedoman gizi internasional akan segera memperbarui rekomendasi kalium bagi pasien hipertensi pengguna obat? Waktu yang akan menjawab, tetapi arahnya sudah semakin jelas.



