FIA Akui Kesalahan Manusia di Kualifikasi Sprint F1 Singapura, Carlos Sainz Kecewa
Baca dalam 60 detik
- FIA mengonfirmasi adanya kesalahan manusia yang menyebabkan mode overtake tidak aktif selama 27 detik di SQ1, memengaruhi performa sejumlah pembalap.
- Carlos Sainz dan beberapa pembalap lain merasa dirugikan karena setengah mobil mendapat tenaga lebih besar, sementara mereka tidak.
- Insiden ini menambah daftar masalah teknis di F1 musim ini, setelah sebelumnya GP Bahrain juga mengalami kendala serupa.

Federasi Otomotif Internasional (FIA) mengakui telah terjadi kesalahan manusia yang memicu kekacauan pada sesi kualifikasi sprint Grand Prix Singapura. Insiden ini membuat sejumlah pembalap, termasuk Carlos Sainz, gagal menampilkan performa terbaiknya akibat sistem mode overtake tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Kekacauan bermula ketika sesi SQ1 dihentikan sementara akibat insiden Sergio Perez yang menabrak pembatas di Tikungan 5. Setelah balapan dilanjutkan, muncul dua anomali: beberapa catatan waktu tidak terdaftar di sistem, dan sejumlah pembalap mengeluh kehilangan tenaga mesin. Banyak dari mereka menduga masalah ini berkaitan dengan bug perangkat lunak yang sebelumnya terjadi di GP Bahrain.
Namun, FIA membantah dugaan tersebut. Juru bicara FIA menegaskan bahwa masalah ini bukan akibat perangkat lunak, melainkan murni kesalahan manusia dalam mengaktifkan mode overtake—sistem yang memberikan tambahan energi setengah megajoule. "Selama periode pertama kualifikasi sprint, terjadi kesalahan manusia di Race Control yang tidak terkait dengan masalah timing di SQ1," ujar juru bicara FIA. "Masalah ini menyebabkan mode overtake tidak tersedia setelah periode bendera merah. Ketika diketahui tidak aktif, mode tersebut kemudian diaktifkan selama 27 detik sebelum dinonaktifkan kembali."
Carlos Sainz, yang tersingkir di SQ1, mengungkapkan kekecewaannya. "Kami hanya mendapat satu lap. Ada masalah rem," kata Sainz. "Tapi di atas itu, setengah mobil menjalani lap dengan mesin setengah detik lebih cepat dari yang lain. Ada masalah perangkat lunak lagi kali ini dan kami berada di sisi yang dirugikan." Ia juga mempertanyakan inkonsistensi penanganan masalah oleh FIA. "Entah kenapa, FIA, seperti di Malaysia, tidak memutuskan untuk menyelesaikannya dengan cepat dan membiarkan setengah mobil di kualifikasi memiliki tenaga lebih tinggi dari yang lain."
"Ini adalah kesalahan manusia yang tidak menguntungkan dan memengaruhi performa mobil tertentu berdasarkan waktu run dan posisi mereka di lintasan." - Juru bicara FIA
Insiden ini bukan pertama kalinya terjadi musim ini. Sebelumnya, GP Bahrain juga mengalami kekacauan ketika mobil kehilangan daya listrik dalam kondisi basah, memaksa balapan dihentikan setelah satu lap formasi. Kejadian-kejadian ini memunculkan pertanyaan tentang konsistensi dan profesionalisme pengelolaan balapan di ajang Formula 1.
Meskipun FIA telah mengakui kesalahannya, dampak dari insiden ini bisa lebih jauh. Mode overtake tidak hanya memengaruhi catatan waktu di lap terbang, tetapi juga persiapan ban di lap keluar. Hal ini dapat merugikan pembalap yang terkena dampak secara strategis, terutama dalam sesi kualifikasi sprint yang singkat.
Ke depan, FIA perlu memastikan bahwa prosedur operasional di Race Control lebih ketat untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa. Dengan semakin ketatnya persaingan di F1, setiap keunggulan teknis sekecil apa pun dapat menentukan hasil akhir. Akankah FIA meningkatkan pengawasan dan pelatihan untuk mencegah insiden serupa? Waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan dari tim dan pembalap jelas meningkat.



