WHO Desak Rusia Buka Data Kasus Kematian Pekerja Lab di Siberia, Kecurigaan Wabah Pes Menguat
Baca dalam 60 detik
- WHO menyatakan belum menerima informasi lengkap dari Moskow terkait kematian Darya Shipilova, peneliti di institut anti-pes Irkutsk.
- Pemerintah Rusia membantah kematian akibat pes dan menyebutnya pneumonia tanpa penyebab jelas, namun memberlakukan karantina ketat di laboratorium.
- Ketidakjelasan ini menghambat penilaian risiko global dan memicu kekhawatiran akan potensi penyebaran lintas negara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan belum memperoleh gambaran utuh dari Rusia menyusul kematian seorang peneliti berusia 28 tahun di Siberia yang diduga terinfeksi pes. Darya Shipilova, yang bekerja di institut riset anti-pes di Irkutsk, meninggal dua hari setelah menunjukkan gejala mirip flu. Kasus ini mencuatkan pertanyaan serius tentang transparansi informasi kesehatan di tingkat internasional.
Kremlin membantah adanya kaitan dengan laboratorium tempat Shipilova bekerja. Otoritas Rusia menegaskan perempuan itu meninggal karena "pneumonia dengan etiologi tidak diketahui" dan menilai situasi sanitasi-epidemiologi di wilayah tersebut stabil. Namun, tindakan karantina besar-besaran justru diberlakukan di laboratorium dan rumah sakit sekitarnya. Staf dilaporkan terkurung di dalam institut selama tiga hari, tidur di lantai dan kursi, sementara tes dilakukan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Rabu menegaskan pihaknya belum dapat melakukan penilaian risiko secara menyeluruh. "Kami belum memiliki gambaran lengkap tentang peristiwa ini," ujarnya. Ia menekankan pentingnya berbagi informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan. Tedros juga meminta klarifikasi tambahan dari pemerintah Rusia terkait laporan media yang belum terkonfirmasi tentang "pekerja kedua dengan pneumonia tanpa sebab jelas".
Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, mempertanyakan penyebab pasti kematian Shipilova. "Jika pes pneumonik dikesampingkan, apa sebenarnya yang menyebabkan kematiannya?" tanyanya. Ia menekankan bahwa WHO masih belum mengetahui bagaimana Shipilova bisa terinfeksi dan virus apa yang menyerangnya. Ketidakjelasan ini memperkuat kekhawatiran akan kemungkinan penyebaran penyakit menular yang tidak terdeteksi.
"Berbagi informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan sangat penting untuk mengklarifikasi laporan yang bertentangan dan memungkinkan penilaian akurat terhadap potensi risiko publik," tegas Tedros.
Keluarga Shipilova meragukan teori infeksi akibat kecelakaan kerja. Ibunya, Svetlana (64), mengatakan bahwa tabung reaksi tidak mungkin pecah. "Saya tahu kebenarannya. Tabung reaksi itu tidak bisa pecah, bahkan jika dilempar ke dinding," ujarnya. Teman-teman sekelas Shipilova juga skeptis dan menilai tuduhan tersebut tidak berdasar. Mereka menggambarkan Shipilova sebagai pekerja yang berdedikasi dan bertanggung jawab.
Kremlin berupaya meredam insiden ini dan mengabaikan tawaran bantuan dari Presiden AS Donald Trump. Gedung Putih telah meminta Moskow memberikan rincian lebih lanjut, namun menegaskan risiko bagi AS sangat rendah. Trump sebelumnya mengatakan akan membahas isu pes ini dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, tetapi Kremlin menyatakan belum ada jadwal panggilan telepon.
Menurut Baikal Medical Journal, otoritas kesehatan Irkutsk mengambil langkah ekstensif untuk mencegah potensi wabah. Tetangga melaporkan pekerja dengan pakaian pelindung putih dan masker gas mendisinfeksi gedung bata dua lantai tempat Shipilova tinggal beberapa kali setelah kematiannya. "Baunya sangat menyengat," kata seorang wanita. Ia mengaku diberi tahu bahwa disinfeksi dilakukan untuk membasmi kecoa, meskipun di gedung itu tidak ada kecoa. Kejadian ini menimbulkan spekulasi di masyarakat.
Kasus ini menyoroti pentingnya keterbukaan data kesehatan lintas negara. Ketika informasi tidak lengkap, organisasi internasional seperti WHO kesulitan menilai risiko dan memberikan panduan yang tepat. Bagi Indonesia, yang memiliki hubungan dagang dan mobilitas manusia dengan berbagai negara, kejelasan informasi semacam ini krusial untuk langkah mitigasi dini. Kementerian Kesehatan dan otoritas bandara perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penumpang dari wilayah terdampak, meskipun risiko saat ini dinilai rendah.
Ke depan, desakan WHO agar Rusia membuka data secara transparan akan menjadi ujian bagi kerja sama kesehatan global. Jika informasi tetap tertutup, kekhawatiran publik dapat membesar dan berpotensi mengganggu respons internasional. Akankah Rusia memenuhi permintaan WHO, atau justru memperdalam ketidakpastian yang merugikan semua pihak?



