Harga Minyak Melonjak 5% ke USD105,3, Pasar Obligasi Global Bergolak
Baca dalam 60 detik
- Brent menembus USD105,3 per barel setelah eskalasi militer di Timur Tengah dan badai mengancam produksi Teluk Meksiko.
- Imbal hasil obligasi Inggris menyentuh level tertinggi sejak 2007, memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan suku bunga bank sentral.
- Bagi Indonesia, lonjakan ini berpotensi memperlebar defisit APBN dan menekan daya beli masyarakat melalui harga energi dan pangan.

Harga minyak mentah dunia melesat lebih dari 5 persen pada Kamis (8/10), mendorong Brent menembus USD105,3 per barel. Pemicunya bukan tunggal: eskalasi konflik militer di Timur Tengah dan ancaman badai di Teluk Meksiko menciptakan kombinasi risiko pasokan yang jarang terjadi sekaligus.
Lonjakan ini langsung merembet ke pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun naik ke 5,515 persen, level tertinggi sejak Juli 2007. Sementara yield obligasi 30 tahun menyentuh 6,0117 persen, setelah sebelumnya menembus 6,036 persen pada Rabu—tertinggi sejak Januari 1998. Kenaikan imbal hasil mencerminkan aksi jual besar-besaran di pasar obligasi, karena investor mulai memperhitungkan kembali prospek inflasi yang lebih tinggi akibat mahalnya energi.
Pasar obligasi Eropa dan Amerika juga tertekan. Imbal hasil obligasi 10 tahun Prancis naik ke 4,931 persen, mendekati rekor 24 tahun. Jerman mencatat kenaikan ke 3,504 persen, sedangkan yield Treasury AS 10 tahun naik ke 5,331 persen. Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang turun 1,4 persen, Kospi Korea Selatan anjlok 2,6 persen, dan Stoxx Europe 600 melemah 0,9 persen. FTSE 100 Inggris turun tipis 0,4 persen pada awal perdagangan.
Laporan The Atlantic menyebutkan Gedung Putih telah meminta Pentagon menyusun opsi serangan terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu AS bulan depan. Menurut pejabat anonim dalam pemerintahan Trump, skala dan target serangan masih dibahas, termasuk apakah operasi akan benar-benar dijalankan. Laporan ini mengikis harapan bahwa Trump akan menahan diri dari eskalasi konflik sebelum pemilu. Sebuah "operasi terbatas" disebut bisa dilanjutkan dengan tindakan lebih besar setelah pemilu.
"Setiap gelombang serangan baru terhadap Iran menambah risiko pasokan minyak dari Timur Tengah, terutama karena perang AS-Israel melawan Teheran kini memasuki bulan kedelapan," demikian laporan tersebut, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya.
Di jalur pelayaran Selat Hormuz, serangan terhadap kapal tanker telah mencapai intensitas tertinggi sepanjang perang. Insiden terbaru terjadi Rabu, ketika sebuah tanker terkena proyektil di lepas pantai utara Qatar dan menimbulkan korban, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations. Gangguan ini memperlambat arus pelayaran dan memperdalam kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.
Dari sisi produksi, ancaman Badai Isaias—yang menguat menjadi badai pertama musim Atlantik—memaksa Shell dan Chevron menghentikan operasi di Teluk Meksiko. Badai diperkirakan mendarat pada Jumat atau Sabtu. Maersk, raksasa pelayaran Denmark, menambah kekhawatiran dengan menaikkan biaya tambahan bahan bakar darurat untuk semua pengiriman ekspor dan impor. Kenaikan harga energi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Bagi Indonesia, efek berantai dari lonjakan minyak dunia tidak bisa diabaikan. Sebagai importir minyak bersih, setiap kenaikan harga Brent berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Pemerintah menghadapi dilema: menahan harga BBM bersubsidi berarti beban APBN membengkak, sementara menaikkannya akan memukul daya beli masyarakat di tengah pemulihan ekonomi. Sektor energi dalam negeri, terutama batu bara dan gas, mungkin diuntungkan dari harga komoditas yang lebih tinggi, tetapi manfaatnya tidak serta-merta menutupi kerugian dari sisi impor.
Ke depan, pasar akan mencermati dua hal: apakah ketegangan di Timur Tengah benar-benar berujung pada serangan militer baru, dan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan Badai Isaias terhadap infrastruktur energi Teluk Meksiko. Jika keduanya memburuk bersamaan, harga minyak bisa melampaui USD110 per barel, memaksa bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga lebih agresif—sebuah skenario yang akan menekan pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia.


