Samsung Wallet Kirim USDC ke 82 Juta Perangkat Galaxy AS, Stablecoin Masuk Kantong Massal
Baca dalam 60 detik
- Samsung mengumumkan fitur transfer USDC di Samsung Wallet untuk pengguna Galaxy AS mulai pekan terakhir Oktober, menjangkau 82 juta perangkat.
- Layanan ini menggratiskan pengiriman ke dompet kripto eksternal dan menyediakan opsi pencairan ke rekening bank di lebih dari 60 negara.
- Kemitraan dengan Bastion dan Coinbase menandai langkah besar adopsi stablecoin di perangkat konsumen, memicu persaingan dengan Cash App.

Samsung resmi mengumumkan pada 7 Oktober bahwa pengguna Galaxy di Amerika Serikat akan dapat mengirim USDC melalui Samsung Wallet mulai pekan terakhir Oktober. Fitur ini akan tersedia di 82 juta perangkat Galaxy yang kompatibel di AS saat peluncuran, dan USDC menjadi stablecoin pertama yang didukung dompet digital tersebut. Langkah ini menandai babak baru integrasi mata uang kripto ke dalam ekosistem ponsel arus utama, memperluas akses stablecoin ke basis pengguna yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Dalam pengumuman tersebut, Samsung menegaskan tidak membebankan biaya untuk pengiriman USDC ke dompet kripto eksternal di luar negeri, meskipun dompet atau bursa penerima dapat menambahkan biaya sendiri. Kecepatan pengiriman bergantung pada kondisi jaringan. Bagi penerima yang tidak memiliki dompet kripto, dana dapat dikirim ke rekening bank di lebih dari 60 negara dalam mata uang lokal. Biaya transfer bank bervariasi tergantung tujuan dan jumlah, dan akan ditampilkan di aplikasi sebelum pengirim mengonfirmasi transaksi.
"Mengirim uang ke luar negeri seharusnya terasa semudah menggunakan dompet yang sudah ada di ponsel Anda," ujar Woncheol Chai, executive vice president yang memimpin tim dompet digital Samsung, dalam rilis resmi.
Infrastruktur transfer lintas batas ini akan dijalankan melalui Bastion, kustodian stablecoin berlisensi yang berada di bawah pengawasan regulator AS. Bastion menunjuk Coinbase sebagai sub-kustodian, sehingga seluruh USDC di dompet akan disimpan melalui Coinbase Prime Vault. Samsung menegaskan tidak memegang dana nasabah; akun, kustodi, dan pergerakan dana berasal dari mitra teregulasi, bukan dari Samsung sendiri. Setiap transfer memerlukan autentikasi biometrik pada perangkat terdaftar.
Dukungan jaringan blockchain akan datang dari mitra terpisah, termasuk Solana dan Sui. Solana Foundation menyatakan bahwa Samsung Wallet dan Samsung Pay akan membawa stablecoin yang berjalan di Solana, sementara Sui Foundation mengumumkan bahwa Samsung Wallet memilih Sui sebagai mitra infrastruktur blockchain untuk USDC. Lily Liu, presiden Solana Foundation, dalam rilis tersebut mengatakan bahwa keputusan Samsung "menempatkan dolar digital ke dalam kehidupan sehari-hari melalui salah satu merek teknologi paling tepercaya di dunia."
Layanan ini dibatasi untuk penduduk AS yang memenuhi syarat, berusia 18 tahun ke atas, memiliki Samsung Account, dan menggunakan perangkat Galaxy dengan Android 13 atau lebih baru. Pengguna juga harus mendaftar, memverifikasi identitas, dan mengatur biometrik. Samsung menyebut peluncuran ini sebagai kelanjutan kerja sama dengan Coinbase. Pada 2025, Samsung Pay mulai diluncurkan sebagai opsi pembayaran di aplikasi Coinbase. Ke depan, Samsung memperkirakan kemampuan baru seperti pembayaran dengan stablecoin secara online atau dengan mengetuk perangkat di toko, diikuti potensi ekspansi ke pasar tambahan.
Langkah Samsung ini bersaing langsung dengan Block's Cash App yang mulai meluncurkan dukungan USDC kepada hampir 60 juta penggunanya pada Mei. Persaingan di ranah pembayaran stablecoin semakin panas, dengan perusahaan teknologi besar berlomba mengintegrasikan aset digital ke layanan sehari-hari. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa adopsi stablecoin di perangkat konsumen bisa segera merambah Asia Tenggara, terutama jika regulator lokal membuka ruang. Namun, tantangan regulasi dan infrastruktur pembayaran domestik masih menjadi penghalang utama. Jika Samsung memperluas fitur ini ke Indonesia, bank dan penyedia dompet digital lokal perlu bersiap menghadapi disrupsi dalam layanan remitansi dan pembayaran lintas batas.
Pertanyaannya, akankah langkah Samsung ini mendorong adopsi stablecoin secara massal atau justru memicu kekhawatiran regulasi di berbagai yurisdiksi? Dengan 82 juta perangkat sebagai titik awal, dampaknya pada ekosistem keuangan global akan sulit diabaikan.



