Tiga Saudari Tenggelam di Brighton: Koroner Putuskan Kematian Akibat Bunuh Diri
Baca dalam 60 detik
- Koroner senior Penelope Schofield menyimpulkan tiga saudari asal London meninggal akibat bunuh diri setelah tenggelam di laut Brighton pada 13 Mei.
- Penyelidikan mengungkap para korban sempat mengunjungi bekas rumah ibunda mereka di Birmingham yang meninggal karena tenggelam pada 2010.
- Tidak ditemukan bukti alkohol, narkoba, atau kekerasan; motif di balik keputusan tersebut tidak akan pernah diketahui secara pasti.

Koroner senior Penelope Schofield memutuskan bahwa tiga saudari yang jasadnya ditemukan di perairan Brighton, Inggris, pada 13 Mei lalu, mengakhiri hidup mereka sendiri secara bersama-sama. Keputusan itu dibacakan dalam sidang penyelidikan di Pengadilan Koroner Woodvale, Brighton, Kamis (8/10/2026), menutup rangkaian investigasi atas kematian Jane Adetoro (36), Christina Walters (32), dan Rebecca Walters (31).
Ketiganya tinggal bersama di Greenford, London barat. Jenazah Jane dan Christina diangkat oleh kru kapal penyelamat RNLI, sementara tubuh Rebecca ditemukan tergeletak di garis pantai Brighton. Hasil otopsi memastikan ketiganya meninggal karena tenggelam, tanpa jejak obat-obatan, alkohol, maupun tanda-tanda kekerasan pada tubuh mereka.
Yang membuat kasus ini berbeda dari kebanyakan penyelidikan kematian adalah pola yang terungkap menjelang akhir hidup ketiga perempuan tersebut. Dua hari sebelum kejadian, mereka menyewa taksi menuju Birmingham dan tiba pukul 23.36 di Linton Walk, sebuah alamat yang berjarak dekat dengan Brookvale Park Lake—lokasi ibunda mereka, Janice Adetoro, meninggal karena tenggelam pada 2010. Mereka dijemput kembali ke flat di Greenford sekitar pukul 01.28 dini hari keesokan harinya.
DCI Mark Cullimore dari Kepolisian Sussex mengungkapkan tidak ada rekaman CCTV yang merekam aktivitas ketiganya selama berada di Birmingham. Celah informasi itu membuat penyidik tidak dapat memastikan apa yang mereka lakukan di sana. Namun, rangkaian perjalanan yang mereka susun—dari kunjungan ke kota kelahiran sang ibu hingga perjalanan malam ke Brighton—menunjukkan perencanaan yang matang, bukan tindakan spontan.
Schofield menegaskan bahwa ketiga saudari itu menjalani hidup yang sangat tertutup dan amat menjaga privasi. "Kami tidak tahu mengapa mereka mengambil jalan ini, atau mengapa mereka memilih Brighton sebagai tempatnya. Pengadilan tidak berwenang berspekulasi, dan alasan itu mungkin tidak akan pernah terungkap," ujarnya di ruang sidang. Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa penyelidikan koroner memang bertujuan menetapkan sebab kematian, bukan menggali motif yang berada di luar jangkauan bukti.
"Tidak ada kata-kata yang mampu mengungkapkan rasa sakit kehilangan seorang anak. Kehilangan ketiga putri saya sekaligus adalah patah hati yang melampaui apa pun yang bisa saya bayangkan," kata Joseph Jacobson, ayah ketiga korban, dalam pernyataan tertulis yang dibacakan saat sidang.
Jacobson, yang mengikuti persidangan melalui tautan video, mengaku tidak dapat memahami mengapa hidup anak-anaknya berakhir begitu tiba-tiba. Ia menyebut mereka akan selalu menjadi putrinya dan berharap ketenangan menyertai jiwa mereka. Kesaksian itu menjadi satu-satunya suara keluarga yang terdengar di ruang sidang, mengingat ketiga korban dikenal sebagai pribadi yang menutup rapat kehidupan pribadi mereka dari lingkungan sekitar.
Kasus ini menyoroti persoalan yang lebih luas tentang bagaimana sistem kesehatan mental di Inggris menangani trauma berlapis dalam sebuah keluarga. Christina tercatat bergulat dengan kecemasan dan depresi sejak kepergian ibunya, sementara Rebecca tidak memiliki riwayat serupa dan Jane bahkan tidak terdaftar sebagai pasien dokter. Artinya, tidak ada satu pun dari mereka yang secara formal berada dalam pengawasan layanan kesehatan jiwa saat peristiwa itu terjadi—sebuah kondisi yang oleh sejumlah pengamat layanan sosial dinilai menunjukkan lemahnya deteksi dini terhadap keluarga yang memilih hidup menyendiri.
Di Indonesia, persoalan serupa juga mengemuka. Data Riskesdas dan sejumlah survei kesehatan jiwa menunjukkan bahwa banyak individu dengan gangguan emosional tidak pernah mencari bantuan profesional, sebagian karena stigma, sebagian karena keterbatasan akses layanan. Kasus tiga saudari di Brighton menjadi pengingat bahwa kedekatan antaranggota keluarga tidak selalu berarti terdeteksinya risiko. Layanan konseling komunitas dan hotline kesehatan jiwa di dalam negeri masih menghadapi tantangan jangkauan, terutama bagi mereka yang memilih menarik diri dari lingkungan sosial.
Pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal bagaimana ketiganya meninggal—fakta itu sudah diputuskan pengadilan—melainkan seberapa siap sistem di berbagai negara mengenali keluarga yang rentan sebelum mereka benar-benar menghilang dari radar. Tanpa perbaikan pada mekanisme deteksi dini dan dukungan psikologis yang mudah diakses, kasus semacam ini berpotensi terulang tanpa pernah terlihat datang.



