100 Bitcoin Era Satoshi Senilai Rp 140 Miliar Bergerak Setelah 16 Tahun, Sinyal Tekanan Jual?
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 100,02 BTC yang ditambang pada Juli 2010—saat harga Bitcoin masih di bawah satu sen dolar—kembali aktif setelah alamatnya tidak tersentuh lebih dari satu setengah dekade.
- Transaksi ini memicu spekulasi pasar karena dompet dari era Satoshi sering dianggap hilang, sehingga pergerakannya bisa menandakan potensi likuidasi besar.
- Galaxy Research mengonfirmasi pelacakan koin tersebut, namun belum ada indikasi apakah pemilik asli berencana menjual atau hanya memindahkan aset.

Sebuah alamat Bitcoin yang menyimpan 100,02 koin hasil penambangan pada 30 Juli 2010—ketika mata uang kripto itu masih dihargai sekitar 6 sen per koin—akhirnya bertransaksi pada Rabu malam waktu setempat. Nilai aset tersebut meroket menjadi sekitar USD 8,5 juta (sekitar Rp 140 miliar) berdasarkan harga pasar saat ini, memicu perhatian luas di kalangan pelaku pasar dan analis on-chain.
Menurut pantauan CoinDesk terhadap data blockchain, dana tersebut berpindah setelah alamatnya pasif selama lebih dari 16 tahun. Galaxy Research, unit riset Galaxy Digital, menjadi pihak pertama yang menyoroti aktivitas ini melalui platform X. Kejadian ini bukan sekadar catatan sejarah; pergerakan koin tua sering dianggap sebagai sinyal potensial bahwa pasokan lama akan memasuki pasar, meskipun transaksi itu sendiri tidak serta-merta berarti penjualan.
Yang membuat kasus ini menarik adalah status alamat tersebut. Selama bertahun-tahun, dompet yang tidak aktif kerap diasumsikan hilang atau kuncinya sudah tidak dapat diakses. Namun, transfer sukses membuktikan bahwa seseorang masih memegang kendali atas koin tersebut. Pertanyaannya, apakah pemiliknya adalah penambang awal yang sama atau pihak lain yang mewarisi akses? Catatan publik tidak mengungkap identitas, dan tidak ada indikasi langsung bahwa dana akan dijual.
Galaxy Research menegaskan pihaknya terus memantau pergerakan koin-koin tersebut. “Alamat ini memang sempat aktif di masa lalu, tetapi koin spesifik ini tidak bergerak sejak 2010. Kami melacaknya,” ujar mereka di X. Pernyataan itu menggarisbawahi pentingnya analisis UTXO (Unspent Transaction Output) dalam memahami pola transaksi Bitcoin. Sebuah alamat bisa tetap aktif untuk keperluan lain sementara sebagian koinnya mengendap bertahun-tahun, seperti yang terjadi di sini.
“Alamat ini sempat aktif di masa lalu, tetapi koin spesifik ini tidak bergerak sejak 2010. Kami melacak koin-koin tersebut.” — Galaxy Research
Dalam konteks yang lebih luas, pergerakan koin era Satoshi—masa ketika pencipta pseudonim Bitcoin, Satoshi Nakamoto, masih aktif—selalu memicu spekulasi. Meski demikian, usia koin tidak membuktikan keterkaitan dengan Nakamoto. Sebagai perbandingan, Galaxy Digital pernah menjual lebih dari 80.000 BTC untuk seorang investor awal pada Juli 2025 sebagai bagian dari strategi perencanaan warisan. Transaksi Rabu ini jauh lebih kecil dan tidak terkonfirmasi sebagai penjualan.
Bagi pasar kripto Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa likuiditas global dapat terpengaruh oleh keputusan pemegang koin lama. Investor lokal yang aktif di exchange seperti Indodax atau Pintu perlu mencermati apakah pergerakan serupa akan diikuti aksi jual besar. Jika ya, tekanan jual bisa menekan harga BTC dalam jangka pendek, meskipun dampaknya mungkin terbatas mengingat volume perdagangan harian yang besar.
Ke depan, pertanyaan krusialnya: apakah ini awal dari gelombang pencairan koin-koin lama menjelang siklus pasar berikutnya, atau sekadar transfer internal tanpa niat menjual? Jawabannya akan terlihat dari apakah dana tersebut akhirnya masuk ke bursa atau tetap mengendap di dompet baru. Satu hal yang pasti, era kepemilikan pasif mungkin mulai bergeser.



