Taman Sari Melaju ke Final Benyamin S Award 2026, Jejak Kampung Tua Jakarta Diuji
Baca dalam 60 detik
- Kelurahan Taman Sari, Jakarta Barat, menembus daftar 10 finalis Benyamin S Award 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
- Kawasan ini menyimpan rekam jejak permukiman sejak era Hindia Belanda, menjadikannya kandidat kuat di kategori berbasis warisan budaya.
- Penilaian lapangan telah dilakukan pada Kamis (8/10/2026), dengan puncak acara dijadwalkan akhir Oktober mendatang.

Kelurahan Taman Sari, Jakarta Barat, memastikan diri sebagai salah satu dari sepuluh finalis Benyamin S Award 2026. Tim penilai menyambangi kawasan itu pada Kamis (8/10/2026) untuk meninjau langsung festival budaya yang digelar warga setempat. Posisi Taman Sari kian menarik karena kawasan tersebut telah menjadi permukiman sejak zaman Hindia Belanda, menjadikannya salah satu kantong sejarah paling tua di ibu kota.
Benyamin S Award sendiri bukan ajang biasa. Penghargaan yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini menyasar kelurahan dan komunitas yang mampu merawat ekspresi budaya Betawi di tengah tekanan urbanisasi. Sepuluh finalis yang lolos ke tahap ini dinilai bukan hanya dari kemeriahan panggung, melainkan dari seberapa dalam praktik budaya itu mengakar di kehidupan sehari-hari warga. Taman Sari dianggap memenuhi syarat itu karena memiliki jejak panjang sebagai kampung yang tumbuh organik sejak abad ke-18.
Yang membedakan Taman Sari dari finalis lain adalah posisinya yang berada di jantung kota. Alih-alih tergerus pembangunan, kawasan ini masih mempertahankan sejumlah tradisi, mulai dari seni pertunjukan hingga kuliner khas. Bagi Pemprov DKI, keberadaan kantong budaya semacam ini menjadi penyeimbang narasi pembangunan yang selama ini lebih banyak berbicara soal infrastruktur dan kawasan bisnis.
Proses penjurian yang berlangsung di lokasi menunjukkan bahwa ajang ini tidak sekadar mengandalkan presentasi di atas kertas. Tim penilai melihat langsung bagaimana warga menampilkan pertunjukan, mengolah ruang publik, dan melibatkan generasi muda. Pendekatan semacam ini sejalan dengan arah kebijakan budaya Jakarta yang mulai menempatkan komunitas sebagai aktor utama, bukan sekadar objek program pemerintah.
Namun, tantangan terbesar justru datang setelah penghargaan diberikan. Sejumlah pengamat budaya mengingatkan bahwa gelar semacam ini sering kali berhenti pada seremoni tanpa dampak jangka panjang. Jika tidak diikuti dukungan anggaran, pendampingan, dan perlindungan terhadap ruang hidup warga, festival budaya berisiko menjadi acara tahunan yang kehilangan roh. Taman Sari, dengan tekanan pembangunan yang tinggi, berada tepat di titik rawan itu.
Karena itu, posisi Taman Sari di babak final patut dibaca sebagai ujian. Bukan hanya ujian bagi warga untuk tampil meyakinkan di depan juri, tetapi juga ujian bagi Pemprov DKI untuk membuktikan bahwa penghargaan budaya punya konsekuensi nyata. Apakah Benyamin S Award akan menjadi instrumen pelestarian yang serius, atau sekadar panggung musiman yang ramai lalu sepi?



