Billionaire David Reuben Dikabarkan Kabur dari Inggris, Faktanya Sudah 10 Tahun Tinggal di Monako
Baca dalam 60 detik
- David Reuben, salah satu orang terkaya di Inggris, dilaporkan pindah ke Monako untuk menghindari pajak kekayaan, tetapi dokumen resmi menunjukkan ia telah menjadi penduduk pajak Monako sejak 2014.
- TaxWatch mengungkap kontradiksi antara narasi media dan bukti publik, mempertanyakan gelombang eksodus miliarder yang disebut-sebut sebagai dampak kebijakan pajak Partai Buruh.
- Meski demikian, data Bloomberg mencatat miliarder dengan total kekayaan £121 miliar telah meninggalkan atau mengurangi keterkaitan dengan Inggris sejak 2024, memicu debat tentang daya tarik fiskal negara.

Kabar bahwa David Reuben, salah satu orang terkaya di Inggris, meninggalkan London menuju Monako demi menghindari pajak kekayaan ternyata tidak sepenuhnya akurat. Penelitian lembaga pengawas pajak TaxWatch menemukan bahwa Reuben, 88 tahun, telah berstatus sebagai penduduk pajak Monako setidaknya sejak 2014—jauh sebelum Partai Buruh berkuasa dan mengumumkan perubahan rezim pajak.
Kisah kepindahan Reuben pertama kali diberitakan oleh The Sunday Times, yang menyebutnya pindah penuh dari kediamannya di Holland Park, London, ke Monako. Narasi itu dengan cepat berkembang menjadi kekhawatiran akan eksodus besar-besaran orang super kaya dari Inggris akibat rencana anggaran yang akan menaikkan pajak kekayaan. Namun, dokumen resmi yang dihimpun TaxWatch membantah premis tersebut.
Sebuah pernyataan tertulis yang ditandatangani Reuben pada 2024 untuk pengadilan di Los Angeles menegaskan, "Saya tinggal di Monako. Saya telah tinggal di sana selama kurang lebih 10 tahun." Juru bicara Reuben juga mengonfirmasi bahwa ia memang telah menjadi penduduk pajak Monako sejak lama. Saudaranya, Simon Reuben, 85, bahkan telah menetap di Monako selama 40 tahun setelah pindah karena alasan kesehatan saat mengidap kanker.
Direktur TaxWatch, Mike Lewis, menyatakan keheranannya karena dokumen publik justru bertentangan dengan narasi media arus utama. Menurutnya, diskusi publik tentang sistem pajak Inggris terlalu sering didominasi anekdot dan laporan anonim dari miliarder atau juru bicara mereka, bukan berdasarkan fakta yang dapat diverifikasi. Ia menilai perubahan besar dalam pajak keuntungan kekayaan yang mungkin terjadi pada anggaran musim gugur nanti semestinya dibahas dengan angka yang transparan.
"Sangat instruktif bahwa ada sekelompok komentator yang menebar taktik menakut-nakuti dengan mengatakan orang kaya meninggalkan negara ini. Kita bisa lihat banyak miliarder memang tidak tinggal di sini, banyak juga yang tetap tinggal, dan yang ingin pergi tidak bisa kita cegah. Ini selalu terjadi," ujar Clive Lewis, anggota parlemen Partai Buruh yang mengkampanyekan pajak kekayaan.
Meski demikian, bukan berarti tidak ada pergerakan. Analisis terhadap Indeks Miliarder Bloomberg menunjukkan bahwa penduduk Inggris super kaya dengan total kekayaan £121 miliar—lebih dari setengah total kekayaan miliarder di negara itu—telah pergi atau melonggarkan keterkaitan mereka dengan Inggris sejak pemerintahan Partai Buruh dimulai pada 2024. Di antara mereka adalah Lakshmi Mittal, Nassef Sawiris, dan John Fredriksen.
Perubahan pajak warisan dalam anggaran Menteri Keuangan Rachel Reeves disebut menjadi pemicu, dan pajak keuntungan modal diperkirakan akan naik pada musim gugur ini. Reuben bersaudara sendiri adalah contoh menarik: mereka lahir di Mumbai, pindah ke London saat remaja, dan membangun kerajaan properti yang kini memiliki Burlington Arcade di Mayfair, Admiralty Arch yang tengah dikembangkan menjadi hotel bintang lima, serta Millbank Tower di Westminster.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Ketika negara-negara maju seperti Inggris bergulat dengan kebijakan pajak kekayaan dan narasi eksodus orang kaya, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam mengoptimalkan penerimaan dari kelompok super kaya. Diskusi tentang pajak orang kaya di Tanah Air sering kali terjebak pada retorika tanpa data yang memadai, sementara celah kepatuhan dan perencanaan pajak agresif masih lebar. Pelajaran dari Inggris adalah bahwa kebijakan fiskal yang kuat harus dibarengi dengan transparansi data dan verifikasi independen, agar tidak mudah dibelokkan oleh anekdot.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang pergi, tetapi seberapa besar kebijakan pajak benar-benar memengaruhi keputusan orang kaya untuk tinggal. Jika narasi eksodus lebih banyak didasari persepsi daripada bukti, maka pemerintah mana pun—termasuk Indonesia—perlu waspada terhadap dampak psikologis dan politik dari cerita yang belum terverifikasi.



