Di Balik Wabah Diare dan Pemangkasan Regulasi Lingkungan AS: Pertarungan Kebijakan di Tengah Kampanye Midterm
Baca dalam 60 detik
- Wabah cyclospora terbesar dalam sejarah AS, yang dipicu selada terkontaminasi, telah menyebabkan 570 rawat inap dan dua kematian, memicu kritik tajam terhadap pemerintahan Trump.
- Administrasi Trump memangkas program pengawasan penyakit bawaan makanan dan melonggarkan aturan emisi kendaraan serta polutan udara beracun, yang dikhawatirkan memperburuk kesehatan publik dan lingkungan.
- Partai Demokrat menjadikan isu keamanan pangan dan lingkungan sebagai senjata kampanye menjelang pemilu midterm, menuntut akuntabilitas atas kebijakan deregulasi yang dinilai berbahaya.

Wabah cyclosporiasis terbesar yang pernah tercatat di Amerika Serikat resmi berakhir, tetapi dampaknya masih terasa. Penyakit yang ditularkan melalui selada terkontaminasi ini mengakibatkan 570 orang dirawat di rumah sakit dan dua nyawa melayang. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan pemicu perdebatan sengit menjelang pemilu midterm, di mana kesehatan pencernaan warga mendadak menjadi isu politik nasional.
Partai Demokrat tidak menyia-nyiakan momentum. Akun resmi mereka di platform X menyoroti banyaknya penarikan produk pangan sepanjang 2026 dan menuntut pengunduran diri Menteri Kesehatan RFK Jr. Anggota Kongres dari Rhode Island, Gabe Amo, menuding pemangkasan anggaran tenaga kerja federal oleh Trump berkontribusi pada melemahnya pengawasan pangan. Senator Elizabeth Warren pun menyerukan pertanggungjawaban Trump pada November mendatang, dengan menyalahkan pemotongan anggaran lembaga keamanan pangan atas merebaknya wabah cyclospora.
Meski jumlah penarikan produk pangan pada periode kedua Trump tidak jauh berbeda dengan era Biden, skala permasalahannya jauh lebih besar. Yang lebih mengkhawatirkan, pemerintahan Trump tampak gigih membongkar regulasi dan sistem yang melindungi konsumen. Sejak 1995, ada kemitraan federal-negara bagian bernama Foodborne Diseases Active Surveillance Network (FoodNet) yang melacak infeksi berbagai patogen, termasuk Cyclospora. Namun, mulai 1 Juli, CDC menurunkan status program ini sehingga pengawasan wajib untuk 10 departemen kesehatan negara bagian hanya terbatas pada Salmonella dan E. Coli. Penurunan pengawasan ini tidak menyebabkan wabah, tetapi diduga mempersulit otoritas kesehatan meresponsnya.
Ancaman tidak berhenti pada pangan. Udara dan air yang dihirup dan diminum warga juga semakin berisiko demi memaksimalkan keuntungan korporasi. Pada Senin lalu, pemerintahan Trump mengumumkan pelonggaran aturan efisiensi bahan bakar untuk mobil dan truk ringan bensin. Menteri Transportasi Sean Duffy, yang dikenal sebagai bintang reality show, beralasan bahwa penghapusan persyaratan pengendalian polusi yang ketat akan menurunkan biaya rata-rata kendaraan baru sebesar $1.300. Namun, bahkan jika harga mobil turun, konsumen dan lingkungan akan menanggung biaya lain: konsumsi bahan bakar meningkat, polusi udara memburuk, dan perubahan iklim semakin cepat.
Administrasi Trump juga berupaya mencabut regulasi polutan udara beracun. Awal tahun ini, EPA mengusulkan melemahkan batas polusi udara untuk etilen oksida (EtO), karsinogen yang digunakan untuk membersihkan perangkat medis. Aturan era Biden yang disahkan pada 2024 mewajibkan pengujian ketat emisi berbahaya dan mengharuskan penghasil emisi mengurangi produksi EtO. Jika EPA berhasil membatalkan aturan ini, berton-ton gas karsinogenik akan terus dilepaskan ke lingkungan, terutama di kawasan berpendapatan rendah yang berdekatan dengan fasilitas industri.
Pasokan air bersih pun tak luput dari ancaman. Aturan era Biden menetapkan batas air minum untuk beberapa PFAS, yang dikenal sebagai "bahan kimia selamanya". Kini, pemerintahan Trump berusaha mencabut batas tersebut dengan alasan mahal dan cacat hukum. Mereka juga menghentikan tinjauan regulasi terhadap pupuk sludge yang terkontaminasi PFAS untuk lahan pertanian. Menurut komentar yang diajukan Southern Environmental Law Center ke EPA, jika kadar PFOA mencapai 9,4 bagian per miliar—seperti yang terdeteksi di Maine—maka lebih dari 54 dari 10.000 anak yang makan ikan 1-2 kali seminggu dari lahan pertanian tersebut bisa terkena kanker di kemudian hari.
"Jika Anda mengira selada penyebab diare itu sudah buruk, saya khawatir keadaan hanya akan memburuk. Jika Trump tidak dikendalikan di pemilu midterm, seluruh negeri ini akan terpuruk."
Pertarungan ini bukan hanya tentang kebijakan lingkungan, tetapi juga tentang arah politik Amerika Serikat. Dengan pemilu midterm yang semakin dekat, isu kesehatan publik dan deregulasi menjadi medan pertempuran antara Demokrat dan Republik. Sementara itu, masyarakat luas—terutama kelompok rentan—harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang diambil di Washington. Akankah pemilih memberikan sinyal perubahan, atau justru sebaliknya? Yang jelas, kualitas hidup dan kesehatan warga Amerika berada di ujung tanduk.



