Casio Rilis Dua G-Shock Baru: Satu Seharga Rp1,4 Miliar, Satu Lagi Ramah Kantong
Baca dalam 60 detik
- Casio memperkenalkan MRG-D5000, G-Shock termahal dengan harga £67.000 (sekitar Rp1,4 miliar) dan hanya diproduksi 20 unit.
- Mudman GDG-B100 hadir sebagai alternatif terjangkau, dibanderol £200 (sekitar Rp4,2 juta) dengan fitur tangguh untuk militer dan petualang.
- Langkah ini menegaskan strategi Casio menggarap segmen ultra-premium dan pasar fungsional secara simultan.

Casio kembali menggebrak pasar jam tangan dengan meluncurkan dua model G-Shock yang berada di kutub harga berbeda: MRG-D5000 seharga £67.000 (sekitar Rp1,4 miliar) dan Mudman GDG-B100 yang dibanderol £200 (sekitar Rp4,2 juta). Langkah ini menegaskan posisi Casio di dua segmen sekaligus—kolektor ultra-premium dan pengguna fungsional yang mengutamakan ketangguhan.
MRG-D5000, yang dijuluki "The Blue Rose Project", menjadi G-Shock termahal yang pernah diproduksi. Bezel dan casing luarnya dibentuk dari kristal safir biru, material yang memberikan kejernihan, kekerasan, dan warna khas. Hanya 20 unit yang akan dibuat, menjadikannya salah satu jam tangan paling langka di dunia. Casio menyebutnya sebagai "G-Shock produksi paling langka dan paling bernilai hingga saat ini".
Di balik kemewahannya, MRG-D5000 menyimpan inovasi teknis yang panjang. Casio mengungkapkan bahwa proyek ini berawal dari Dream Project yang dipimpin pencipta G-Shock, Kikuo Ibe. Pada 2018, proyek tersebut menghasilkan G-D5000 berbahan emas 18 karat yang tetap tahan guncangan. Pada tahun yang sama, Casio memamerkan konsep jam safir di Basel, Swiss, namun belum memenuhi standar ketahanan G-Shock. Setelah riset bertahun-tahun, tim MR-G menemukan bahwa membagi casing luar menjadi beberapa komponen yang saling berinteraksi dapat menyebarkan dampak lebih efektif daripada konstruksi satu bagian. Terobosan ini melahirkan Multi-Guard Structure yang diperkenalkan pada MRG-B5000 titanium 2022, dan akhirnya Multi-Guard Structure for Sapphire pada MRG-D5000.
Meski harganya selangit, spesifikasi MRG-D5000 tidak main-main: ketahanan air 20 bar, tenaga surya, kontrol radio Multi Band 6, stopwatch 1/100 detik, timer hitung mundur, lima alarm harian, dan lampu latar LED otomatis. Jam ini diprediksi akan langsung diserbu kolektor dan penggemar jam tangan berdompet tebal.
Sementara itu, Mudman GDG-B100 ditujukan bagi mereka yang membutuhkan jam tangan tangguh untuk aktivitas ekstrem. Casio merancangnya dengan mempertimbangkan kebutuhan militer dan petugas respons darurat. Casingnya menggunakan resin diperkuat serat karbon untuk meningkatkan kekakuan dan ketahanan terhadap deformasi. Segel kedap udara pada poros tombol mencegah masuknya lumpur dan debu.
Layar GDG-B100 menggunakan LCD memory-in-pixel (MIP) dengan lampu latar LED merah yang aktif setelah gelap untuk menjaga penglihatan malam—mirip dengan Apple Watch Ultra dan Samsung Galaxy Watch Ultra. Jam ini mampu mengukur jarak, kecepatan, pace, dan kalori yang terbakar, serta menyimpan hingga 100 catatan lap. Ada juga interval timer dengan lima pengaturan waktu dan penghitung langkah melalui akselerometer bawaan. Konektivitas Bluetooth melalui Smartphone Link memungkinkan pengguna mengakses catatan latihan dan aktivitas harian di aplikasi Casio, serta menerima notifikasi panggilan, email, media sosial, dan kalender.
GDG-B100 tersedia dalam tiga gaya: hitam total, hijau gelap dengan aksen oranye, atau tali warna pasir dengan bezel hitam. Dengan harga yang relatif terjangkau, jam ini menawarkan nilai fungsional bagi penggemar aktivitas luar ruang.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran dua model ini menyiratkan peluang dan tantangan. Di satu sisi, MRG-D5000 akan menjadi buruan kolektor lokal dengan daya beli tinggi, meski jumlahnya sangat terbatas. Di sisi lain, GDG-B100 berpotensi menarik minat konsumen muda yang gemar hiking, trail running, atau aktivitas militer. Casio Indonesia mungkin akan membawa model ini secara resmi, mengingat popularitas G-Shock di Tanah Air yang kuat, terutama di kalangan komunitas penggemar jam tangan dan penggiat alam bebas.
Langkah Casio merilis dua produk yang berseberangan ini mencerminkan strategi portofolio yang matang: satu untuk mengukuhkan prestise dan warisan teknik, satu lagi untuk menggarap volume pasar. Pertanyaannya, apakah pendekatan ini cukup untuk mempertahankan dominasi G-Shock di tengah gempuran smartwatch yang semakin canggih? Waktu yang akan menjawab, tetapi Casio tampaknya tidak berniat meninggalkan medan tempur mana pun.



